Di ufuk renta, sebuah pulau tertidur
Menyelimuti tubuhnya dengan selimut kabut koyak
Angin menjadi pengembara bisu
Mengusap karang lupa cara menangis
Laut mengeja dengan lidah ombak
Ironi, setiap suku kata karam
Di dasar waktu berlumut
Senja, bak lentera yang kehilangan minyak
Matahari pulang membawa wajah retak
Dengan benang-benang cahaya rapuh
Menyaksikan negeri tak utuh
Pucat berwajah sembap