Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Di Antara Puing Harapan
Di antara tanah yang retak, tunas kecil tetap tumbuh. (unsplash.com/bogomi)

Bagaimana jika sesuatu yang telah kita rawat sepenuh hati hancur sebelum sempat kita nikmati hasilnya? Di antara puing harapan, masih adakah sesuatu yang layak diselamatkan?

Bibit yang kutanam dengan doa dan kesabaran
Tumbuh perlahan, menembus kerasnya tanah kehidupan
Kupelihara rantingnya, kujaga setiap helai dedaunan
Berharap kelak berbuah, membayar segala penantian

Namun sebelum ranum buahnya sempat kupetik
Angin datang menghempas, akar tercabut, batang pun tersungkur
Tinggallah tanah yang retak, ranting patah berserak
Dan harapan yang kupupuk bertahun-tahun, luruh dalam sekejap

Di antara puing harapan, sebutir benih tersisa
Kecil, nyaris terabaikan, namun menyimpan asa
Tak dapat kupaksa musim mengembalikan yang telah pergi
Namun tanah yang pernah terluka masih menyimpan daya untuk bersemi

Entah musim ke berapa tunas itu menjulang
Entah berapa badai harus reda sebelum ia matang
Tak lagi kutagih pada bumi, buah dari setiap perjuangan
Cukuplah akar tetap mencengkeram, meski satu per satu daun berguguran

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team