Bagaimana jika sesuatu yang telah kita rawat sepenuh hati hancur sebelum sempat kita nikmati hasilnya? Di antara puing harapan, masih adakah sesuatu yang layak diselamatkan?
Bibit yang kutanam dengan doa dan kesabaran
Tumbuh perlahan, menembus kerasnya tanah kehidupan
Kupelihara rantingnya, kujaga setiap helai dedaunan
Berharap kelak berbuah, membayar segala penantian
Namun sebelum ranum buahnya sempat kupetik
Angin datang menghempas, akar tercabut, batang pun tersungkur
Tinggallah tanah yang retak, ranting patah berserak
Dan harapan yang kupupuk bertahun-tahun, luruh dalam sekejap
Di antara puing harapan, sebutir benih tersisa
Kecil, nyaris terabaikan, namun menyimpan asa
Tak dapat kupaksa musim mengembalikan yang telah pergi
Namun tanah yang pernah terluka masih menyimpan daya untuk bersemi
Entah musim ke berapa tunas itu menjulang
Entah berapa badai harus reda sebelum ia matang
Tak lagi kutagih pada bumi, buah dari setiap perjuangan
Cukuplah akar tetap mencengkeram, meski satu per satu daun berguguran
![[PUISI] Di Antara Puing Harapan](https://image.idntimes.com/post/20261012/bogomil-mihaylov-lt7aijteprq-unsplash_26ade8ba-1a46-4112-8d46-70e0e3ee9b46.jpg)