Manusia memang aneh adanya,
berlari dari riuh, lalu mencari sunyi yang mereka puja.
Mengeluh pada hari yang terlalu penuh,
lalu berharap dunia berhenti membuat mereka rapuh.
Mereka mencari tenang,
mencari tempat untuk melepaskan segala beban.
Tempat tanpa tuntutan dan suara,
tempat di mana dunia sejenak tak meminta apa-apa.
Lalu ketika sunyi datang menghampiri,
mereka justru bertanya, “Mengapa aku sendiri?”
Bukankah ini yang sejak tadi dicari?
Mengapa ketika menemukannya, justru terasa sepi?
Bukankah tenang berarti menjauh dari dunia,
dari segala distraksi dan gemerlap yang menggoda mata?
Bukankah diam berarti memberi ruang bagi diri,
lalu mengapa saat ruang itu tiba, mereka justru ingin kembali?
Ternyata manusia tidak benar-benar ingin sepi,
mereka hanya ingin dunia berhenti berisik tanpa harus sendiri.
Mereka ingin bebas dari suara yang melelahkan,
namun tetap ingin ada suara yang mereka rindukan.
Mereka ingin sendiri, tetapi tidak ditinggalkan,
ingin diam, tetapi tetap ingin dipertahankan.
Ingin sunyi yang memberi ruang untuk bernapas,
namun tetap berharap ada seseorang yang membuatnya terasa jelas.
Mungkin begitulah manusia adanya,
mencari ketenangan, lalu takut ketika sunyi menyapa.
Mereka ingin dunia berhenti ramai,
namun ketika benar-benar hening, mereka kembali mencari.
Sebab ternyata yang dicari bukan hidup tanpa suara,
bukan pula dunia yang sepenuhnya menjauh dari kita.
Mungkin kita hanya ingin tahu, di antara riuh yang berlalu,
suara mana yang layak tinggal, dan suara mana yang harus berlalu.
![[PUISI] Di Balik Tenang yang Kita Minta](https://image.idntimes.com/post/20261002/208409_b0db9a59-2313-4f33-9023-335c8b30ca52.jpg)