Di kepalaku, suara-suara keputusan saling beradu
Menakar setiap kemungkinan yang luruh satu per satu
Ada siasat yang tersusun rapi tentang cara menapak kembali
Namun, gamang kerap datang
Mengacak-acak keberanian yang telah susah payah kubangun hari demi hari
Aku pernah menjadi musafir di negeri-negeri tanpa nama
terlena dalam kembara hingga lupa di mana harus mengaitkan sauh
Meniti jarak yang enggan menepi
hanya demi mengejar hikayat renjana yang sering kali semu
Lalu, di persimpangan yang riuh ini, suaramu mengetuk pintu langit
Sebuah pinta sederhana yang meluluhkan segala ego dan ambisi.
"Pulanglah," bisikmu
dan seketika seluruh duniaku yang megah itu luruh begitu saja
Akhirnya, simpul takdir harus kuikat erat
Sebab, menukar ambisi dengan bakti bukanlah sebuah kekalahan
Itu adalah cara terbaik untuk memenangkan ridho Tuhan
![[PUISI] Gema Renjana Melabuhkan Sauh](https://image.idntimes.com/post/20260402/1001407261_cfa4f7e7-daf7-4d18-9752-1973e134e9a6.jpg)