Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Menakar Layak di Palung Sangsi

[PUISI] Menakar Layak di Palung Sangsi
Siluet tumpukan batu ( unsplash.com/id/lukaskokonen )
Intinya Sih
  • Puisi ini menggambarkan pergulatan batin penulis yang terjebak dalam keheningan dan kehilangan kemampuan mengekspresikan diri melalui kata-kata.
  • Terdapat refleksi mendalam tentang kelayakan bersuara di tengah godaan hawa nafsu dan keraguan spiritual terhadap kesucian niat.
  • Penulis memilih berdamai dengan kesunyian, menolak penilaian serta penghakiman dari luar sebagai bentuk penerimaan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kuketuk kaca nan hampa,
Menanti secercah jawaban yang terlempar setelahnya.
Entah, waktu seakan telah terbelenggu oleh senyap,
Mengikat kuat saraf di setiap sendi raga ini.

Mendadak aku kehilangan daya menyusun aksara,
hanya kaku dan pilu bermuara.
Sebuah tanya hadir menghujam tiba-tiba,
Seolah memaksa menelanjangi nalar dalam seketika.

Pantaskah aku bersuara?
Kala asma Tuhan timbul tenggelam di palung hati. 

Pantaskah aku bersuara?
Jika hawa nafsu mengekor di setiap jengkal gerak-gerik.

Pantaskah aku bersuara?
Kala lisan tak lagi menatah kalam suci.

Pantaskah aku?
Biarkan aku karib dengan sunyiku tanpa harus ada penilaian tentangku,
Bahkan tentang penghakiman yang membelenggu.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Editorial Team