Kamar gelap ini hanya diterangi sepetak cahaya dari genggaman,
Menawarkan pintu keluar dari nasib yang itu-itu saja.
Jari-jari gemetar memutar roda nasib buatan,
Menitipkan doa pada algoritma yang tak punya dada.

Saat kilau gambar berhenti dan tak ada yang jatuh berdering,
Hanya tersisa keheningan yang perlahan mencekik leher.
Harapan bulan ini menguap sebelum keringat sempat mengering,
Meninggalkan kewarasan yang retak di atas nasib yang tawar.

Lalu sebuah pesan masuk membawa janji pertolongan yang ramah,
Sebuah jebakan manis yang dibalut bunga berlipat ganda.
Harga diri seketika ditelanjangi hingga ke ruang-ruang rumah,
Membayar ilusi semalam dengan masa depan yang disita.

Mereka yang berdasi hanya menonton dari menara yang tinggi,
Membiarkan mesin-mesin ini terus menelan orang-orang kalah.
Jika hari esok pun telah habis kita gadaikan malam ini,
Lantas dengan apa lagi kita memaafkan diri yang telanjur patah?