Kamar gelap ini hanya diterangi sepetak cahaya dari genggaman,
Menawarkan pintu keluar dari nasib yang itu-itu saja.
Jari-jari gemetar memutar roda nasib buatan,
Menitipkan doa pada algoritma yang tak punya dada.
Saat kilau gambar berhenti dan tak ada yang jatuh berdering,
Hanya tersisa keheningan yang perlahan mencekik leher.
Harapan bulan ini menguap sebelum keringat sempat mengering,
Meninggalkan kewarasan yang retak di atas nasib yang tawar.
Lalu sebuah pesan masuk membawa janji pertolongan yang ramah,
Sebuah jebakan manis yang dibalut bunga berlipat ganda.
Harga diri seketika ditelanjangi hingga ke ruang-ruang rumah,
Membayar ilusi semalam dengan masa depan yang disita.
Mereka yang berdasi hanya menonton dari menara yang tinggi,
Membiarkan mesin-mesin ini terus menelan orang-orang kalah.
Jika hari esok pun telah habis kita gadaikan malam ini,
Lantas dengan apa lagi kita memaafkan diri yang telanjur patah?
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Janji Manis Dewa Petir yang Menyambar Kewarasan
![[PUISI] Janji Manis Dewa Petir yang Menyambar Kewarasan](https://image.idntimes.com/post/20261023/azharul-islam-mollah-1uyifthtuka-unsplash_ece54101-9d7f-4096-b37d-9eb723ceb01d.jpg)
ilustrasi main judol di HP (unsplash.com/Azharul Islam Mollah)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- Perempuan Penggerak Koperasi Tangguh di Tepi Rel20 Oct 2026, 09:20 WIB
- [PUISI] Anak Kecil Itu Sudah Mati23 Oct 2026, 05:04 WIB
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- [PUISI] Barangkali Memang21 Oct 2026, 05:44 WIB
- [PUISI] Bumi yang Dipaksa Diam20 Oct 2026, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Rintik yang Pulang Setelah Penantian24 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Janji Manis Dewa Petir yang Menyambar Kewarasan24 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Bangku Tua di Ujung Taman23 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Asa Berperi23 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Bencana di Balik Angka23 Oct 2026, 18:07 WIB
[PUISI] Jendela yang Selalu Terbuka23 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Anak Kecil Itu Sudah Mati23 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Melodi yang Kehabisan Kata22 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Juang Tanpa Henti22 Oct 2026, 20:17 WIB
[PUISI] Figuran Tanpa Nama22 Oct 2026, 10:07 WIB
[PUISI] Mengukir Luka Baru22 Oct 2026, 08:18 WIB
[PUISI] Sungai yang Tidak Melawan Batu22 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Ketika Sarang Menjadi Abu22 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Tetaplah Jatuh Cinta Walau Negara Porak-Poranda22 Oct 2026, 01:10 WIB
[PUISI] Asap Kalimantan dan Wajah-Wajah yang Berpaling22 Oct 2026, 00:19 WIB
[PUISI] Terima Kasih Hidup21 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Benar Pada Akhirnya21 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Tak Semua Cinta Berujung Bahagia21 Oct 2026, 18:47 WIB
[PUISI] Barangkali Memang21 Oct 2026, 05:44 WIB
[PUISI] Tidak Setengah Langkah21 Oct 2026, 05:25 WIB