Aku melangkah di atas trotoar yang penuh buru-buru,
mengejar sesuatu yang katanya disebut "masa depan yang biru".
Ijazah digenggam, jam tangan melingkar, presensi dipenuhi setiap hari,
namun di dalam dada, ada ruang kosong yang gagal kuisi sendiri.
Dulu kukira makna hidup ada pada puncak-puncak pencapaian,
pada angka di rekening, atau pada tepuk tangan dalam perayaan.
Maka aku berlari, meniru rute yang digambar orang lain dengan rapi,
hingga aku lupa menanyakan: ke mana sebenarnya kakiku ingin pergi?
Kini aku berdiri di persimpangan, di antara riuh dan sunyi,
merasa asing di tengah pencapaian yang katanya patut disyukuri.
Kompas di tanganku patah, tak lagi tahu di mana utara dan selatan,
aku seperti pengelana yang tersesat di dalam peta buatannya sendiri.
Ternyata aku lelah menjadi apa yang dunia inginkan,
menukar kedamaian jiwa demi standar yang melelahkan.
Tuhan, jika tersesat ini adalah cara-Mu memintaku berhenti,
bimbinglah aku pulang, menemukan makna yang jujur di balik sunyi bilik hati.
![[PUISI] Kompas yang Patah](https://image.idntimes.com/post/20260429/pexels-fthdgrl-12624737_cc4141e2-f251-4e15-8aac-52328c2cde50.jpg)