Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Menyulam yang Rapuh
ilustrasi seseorang yang rapuh (pexels.com/Alan Cabello)

kau begitu telaten, Kekasih

menyulam benang demi benang

di tubuh ringkih

yang sebetulnya hampir lumpuh

untuk menutup segala bekas luka yang gelisah

"Tak perlu kau tutup segala bekas

yang gelisah di tubuhku, Kakanda.

Bekas itu akan menjadi penandaku kelak."

tapi, kau tak peduli

bagimu luka itu harus ditutup

dengan sebaik mungkin

"Aku hanya ingin orang lain

melihat keindahanmu, Adinda.

aku tak mau mereka melihat

bekas luka yang barangkali

belum mengering dan tak

bisa mengering."

kau kukuh pada pendirianmu

menyulam benang demi benang

di tubuh kekasihmu

jarum-jarum yang lancip

berkali-kali menciumi telunjukmu

tapi, kau tak peduli

kau justru semakin gila

menutup bekas-bekas luka

"Biarkan cukup aku

yang melihat rapuhmu, Adinda.

biarkan mereka melihatmu

sebagai mekar bunga

yang paling indah di dunia."

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team