kau begitu telaten, Kekasih
menyulam benang demi benang
di tubuh ringkih
yang sebetulnya hampir lumpuh
untuk menutup segala bekas luka yang gelisah
"Tak perlu kau tutup segala bekas
yang gelisah di tubuhku, Kakanda.
Bekas itu akan menjadi penandaku kelak."
tapi, kau tak peduli
bagimu luka itu harus ditutup
dengan sebaik mungkin
"Aku hanya ingin orang lain
melihat keindahanmu, Adinda.
aku tak mau mereka melihat
bekas luka yang barangkali
belum mengering dan tak
bisa mengering."
kau kukuh pada pendirianmu
menyulam benang demi benang
di tubuh kekasihmu
jarum-jarum yang lancip
berkali-kali menciumi telunjukmu
tapi, kau tak peduli
kau justru semakin gila
menutup bekas-bekas luka
"Biarkan cukup aku
yang melihat rapuhmu, Adinda.
biarkan mereka melihatmu
sebagai mekar bunga
yang paling indah di dunia."
![[PUISI] Menyulam yang Rapuh](https://image.idntimes.com/post/20260604/1000226701_711a2bc2-933a-4cb4-8f13-6aa27b60991a.jpg)