Untuk lelaki yang mengajarkan teduh tanpa banyak kata
Ayah menjelma pohon tua
Yang akarnya menembus cemas
Menahan badai agar halaman rumah tetap dipenuhi tawa
Tak pernah kulihat ia meminta langit
Mengembalikan daun-daun yang gugur
Ia memilih berdamai dengan musim
Meski ranting-rantingnya patah diam-diam
Di bahunya
Langit terasa lebih tinggi
Sebab di sanalah
Harapan belajar bertahan
Kami tumbuh mengira dunia memang seramah itu
Hingga waktu mengajarkan
Ada sepasang bahu
Yang diam-diam menyangga harapan
Ketika rambutnya mulai memutih
Barulah kami mengerti
Akar memang tak pernah terlihat
Tetapi darinyalah
Kehidupan belajar berdiri
![[PUISI] Pohon yang Tak Pernah Meminta Hujan](https://image.idntimes.com/post/20260712/1000116911_718e45d4-309a-429e-a555-f8243cb9d367.jpg)