Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Rindu yang Bersembunyi di Bawah Rintik Hujan
ilustrasi hujan (pexels.com/Yan Krukau)
  • Aku menyeduh kopi pahit di malam sepi sebagai suguhan bagi Kekasih, di bawah purnama separuh yang menggantung di mata.
  • Dialog tentang rindu menegaskan bahwa jarak fisik antarkeduanya hanya bentangan kilometer, sementara kedekatan mereka terasa seerat pelukan.
  • Rindu yang tersembunyi digambarkan sebagai milik orang tabah, bersembunyi pada akar pohon berbunga dan rintik hujan bulan Juni.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

maka, kuseduh kopi dalam pekat malam
yang gigil dan kesepian, Kekasih
untuk kusuguhkan padamu yang pangling
rasa yang ada: dan maka kau cecap
pahit kopi tanpa gula di bawah purnama
separuh yang menggantung di mataku—barangkali

lalu, kau akan bertanya di taman kunang-kunang
"Apakah kau tidak merindukanku, Adinda?"
: rindu hanyalah milik orang yang memiliki jarak
dan kita meski terbentang dari sudut aku berada
ke tempatmu menetap, tapi tetap tak ada jarak, Kekasih
sebab bentangan itu hanyalah kilometer per sekon sedang kita adalah seerat pelukan

kunang-kunang mengelilingiku, kau kembali bertanya:
"Kau yakin tidak merindukanku, Adinda?"
"Di mana sebenarnya kau sembunyikan
rindu-rindu yang seharusnya milik kita?"

rindu yang bisa disembunyikan hanyalah milik orang-orang yang tabah, Kekasih
dan apa yang tabah milikku bersembunyi pada akar pohon berbunga milik Sapardi
juga rintik-rintik hujan di bulan Juni

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team