maka, kuseduh kopi dalam pekat malam
yang gigil dan kesepian, Kekasih
untuk kusuguhkan padamu yang pangling
rasa yang ada: dan maka kau cecap
pahit kopi tanpa gula di bawah purnama
separuh yang menggantung di mataku—barangkali
lalu, kau akan bertanya di taman kunang-kunang
"Apakah kau tidak merindukanku, Adinda?"
: rindu hanyalah milik orang yang memiliki jarak
dan kita meski terbentang dari sudut aku berada
ke tempatmu menetap, tapi tetap tak ada jarak, Kekasih
sebab bentangan itu hanyalah kilometer per sekon sedang kita adalah seerat pelukan
kunang-kunang mengelilingiku, kau kembali bertanya:
"Kau yakin tidak merindukanku, Adinda?"
"Di mana sebenarnya kau sembunyikan
rindu-rindu yang seharusnya milik kita?"
rindu yang bisa disembunyikan hanyalah milik orang-orang yang tabah, Kekasih
dan apa yang tabah milikku bersembunyi pada akar pohon berbunga milik Sapardi
juga rintik-rintik hujan di bulan Juni
![[PUISI] Rindu yang Bersembunyi di Bawah Rintik Hujan](https://image.idntimes.com/post/20260616/1000232189_60a79ec5-207a-4fe1-bee2-79cc48908f3e.jpg)