Waktu secepat arus membawaku sampai ke titik Agustus
Masih disuguhi secangkir kopi yang berdenting pahit
Kian banyak senang berdatangan dalam menu sarapanku
Apakah ini pagi milikku? Tanyaku di hari yang terus berulang
Sebab aku suka melamuni diriku di pelataran teras
Menatap kosong di hadapan hampa
Mempertanyakan soal langkah yang telah kulalui kemarin
Apa semua benar? Atau aku akan tersasar?
Justru aku lebih menyukai tersesat dalam jalur yang diberikan Tuhan
Lalu aku menyusuri dalam kegelapan
Takkan apa jika harus merelakan menit-menit yang terbuang
Asalkan temuiku pada jalan keluar yang telah kau janjikan itu
Harapku menjulang tinggi pada Agustus
Semoga ia menyertaiku dalam segala baik yang telah disiapkan
Dan aku akan berjalan di atas hari-harimu yang mungkin melekat arti di kepalaku
Karena seporsi rasa milikku belum tertuang, semoga Agustus bisa menadahkannya
![[PUISI] Satu Pagi Menjamu Agustus](https://image.idntimes.com/post/20260805/1000088409_8ae091fd-fd4a-47f0-bff2-11491759b641.jpg)