Di atas sajadah waktu yang kian mengelupas dan koyak
kita mengeja kepatuhan pada takdir yang berkali-kali membelot
asap kemenyan dan air mata melarut dalam cawan yang sama
menjelma cuka paling pekat yang harus direguk sang jiwa
sebelum malam menyegel bibir kita dari segala bentuk pembelaan

Lihatlah bagaimana jemari hari menanggalkan daging dari belulang
membiarkan kita telanjang di hadapan cermin-cermin yang bisu
tak ada pengampunan bagi mereka yang memelihara berhala angan
hanya ada keheningan yang melilit leher hingga tercekik
menagih janji yang dulu kita bisikkan di celah prasasti luka

Maka biarlah raga ini menjadi tumbal bagi kesunyian yang abadi
dibiarkan membusuk di sudut ingatan yang tak lagi berpenghuni
sebab pada akhirnya, setiap jejak yang kita ukir dengan darah
hanya akan dihapus oleh gerimis malam yang dingin
tanpa pernah ada naskah yang mencatat kita pernah ada