Tubuh ini terkadang bagai kompas kehilangan utara.
Jarumnya bergerak sendirian,
sementara aku tetap diminta
menunjuk arah.
Jari-jari bergetar.
Bukan karena takut,
bukan pula karena ragu,
hanya tak seia-sekata dengan kehendak.
Aku tetap meraih gelas,
menuntaskan tanda tangan,
mengancing hari seperti biasa,
meski dunia mengira itu perkara kecil.
Tiada tepuk tangan
untuk keberanian yang bentuknya sesederhana ini:
tak menarik tangan kembali,
tak meminta maaf pada gerak yang tak dipilih.
Tubuh yang seharusnya menjadi rumah
sesekali bertingkah bagai tamu.
Asing, tak tertebak,
menggeser letak percaya sedikit demi sedikit.
Sesekali orang bertanya kabar,
dan semua seolah biasa.
Beberapa hal tinggal lebih lama dari sangka,
tanpa pernah meminta dimengerti.
Ada yang pulang menjelang malam
tanpa darah di bajunya,
hanya membawa segenggam getar
yang tak dilihat siapa pun.
![[PUISI] Segenggam Getar](https://image.idntimes.com/post/20260611/pexels-byrahul-1276357_d223abcf-bc81-45fc-a093-74f4489c4072.jpg)