Senja terus melarungkan takbir
Gemanya memeluk jiwa yang dingin oleh angkara
Lantas, meluruh bersama ego yang nyalar merajai telatah
Saat itu jua, kisah itu berkelindan membuat sesak dada
Berbisik tentang anak dan ayah
Bergumam tentang pasrah dan berserah
Pada akhirnya, narasi itu bukan tentang kekejian dan darah
Bukan tentang siapa yang kehilangan dan paling berkuasa
Melainkan tentang keikhlasan meletakkan tunduk pada Ilahi
Kisah itu kembali mengetuk, ketika langit memerah
Dan tenang pun meluas membasahi amarah
Selamat merayakan hari yang penuh berkah
Teruntuk jiwa-jiwa yang menang dalam berserah
![[PUISI] Teruntuk Jiwa yang Berserah](https://image.idntimes.com/post/20260316/pexels-sigit-prismono-2148725224-34468795_e6b4a63d-550e-4eb5-917c-9880ad8de034.jpg)