Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Membawa Pulang Sepotong Langit Cerah

[PUISI] Membawa Pulang Sepotong Langit Cerah
ilustrasi suasana pagi yang hangat (pexels.com/Flickr)
Share Article

Pagi ini langit membuka tirainya dengan warna biru yang paling jemawa,

menghapus sisa-sisa mendung yang kemarin sempat bertahta.

Matahari terbit tanpa ragu, mengetuk jendela dengan jemari hangatnya,

seolah berbisik bahwa hari ini tak boleh ada keluh kesah yang tersisa.

Aku melangkah keluar, menyambut angin yang berembus begitu ringan,

membawa aroma tanah yang ramah dan tumpukan harapan di tangan.

Jalanan kota yang biasanya angkuh kini terasa jauh lebih bersahabat,

dipenuhi senyum orang-orang yang melangkah dengan ritme yang cepat.

Hari ini, tidak ada ruang untuk rindu yang canggung atau masa lalu yang kaku,

sebab semesta sedang berkonspirasi untuk merayakan langkah baruku.

Di sela kesibukan yang mulai berputar menjemput siang,

aku menemukan kembali tawa yang sempat hilang, benderang, dan lapang.

Ada energi yang hidup di antara riuh dan kepakan sayap burung-burung kota,

mengajarkanku bahwa bahagia bisa sesederhana mengeja apa yang ada di depan mata.

Aku duduk di bawah naungan pohon yang daunnya berkilau diterpa cahaya,

menikmati secangkir hangat yang aromanya menguar ke udara dengan manja.

Hari ini, di sini, ku menatap langit yang bersih, sendiri, namun kali ini dengan hati yang lapang, siap menjemput mimpi yang menanti.

Biar kukemas kehangatan hari ini di dalam saku baju paling dalam,

sebagai lentera paling terang saat nanti malam menjemput dalam diam.

Sebab hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan meratapi yang telah usai.

Hari ini langitnya cerah, hatiku cerah, dan seluruh duka resmi selesai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Editorial Team