Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Yang Dulu Hanya Berani Dipandang

[PUISI] Yang Dulu Hanya Berani Dipandang
Gunung berkabut. (unsplash.com/Inggrid Koe)
Share Article

Setiap pagi, gunung itu tampak lebih dekat
Menjelang senja, bayangannya memanjangkan lereng
Hingga langkah lupa berapa jauh telah berjalan
Di kaki gunung, batu-batu tak pernah bertanya siapa yang bertahan
Mereka hanya mengenal lumpur, keringat, dan telapak yang tak selesai meninggalkan jejak

Kabut turun
Puncak menghilang
Jalan tetap ada
Meski mata tak lagi sanggup membedakan arah dari jurang
Tak ada yang berubah pada gunung
Yang berubah hanyalah napas
Sesekali patah, lalu kembali menemukan iramanya

Malam tiba
Tak ada cahaya
Tak ada suara selain angin yang terus mengulang kata pulang
Namun fajar tak pernah lupa membuka kabut

Dan di tanah yang masih basah
jejak yang semalam tak sempat disadari
Ternyata telah melewati tempat yang dahulu hanya berani dipandang
Barulah dari sana
Kata mustahil terdengar seperti gema yang tertinggal jauh di belakang

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Editorial Team