Comscore Tracker

[CERPEN] Santapan Lezat

Menikmati santapan terlezat dari Si Rakus

Seperti biasa aku pergi untuk memenuhi kebutuhanku. Maklum saja tubuhku membutuhkan nutrisi agar aku bisa bertahan di bumi ini. Malam ini teman-teman mengajakku pergi ke sebuah gedung mewah di tengah kota. Aku dilema, karena sebelumnya aku sudah berencana untuk pergi ke sebuah desa yang tenang.

Tapi teman-temanku memaksa dan mereka bilang , "Ayo ikut kami, di sana kamu bisa mendapatkan apa saja yang kamu butuhkan. Bahkan kamu dapat melihat secara nyata bahwa di depan matamu sudah tersedia makanan lezat yang siap disantap." Aku mulai tergiur dengan ajakan mereka. Dalam sekejap terbayang nikmatnya hidup di tengah kemewahan dunia ini. Akhirnya kuputuskan untuk pergi bersama mereka.

Perjalanan kami cukup jauh, butuh waktu dua jam untuk dapat sampai di gedung mewah itu. Maklum saja kami tinggal di tengah hutan yang berjarak lima kilometer dari gedung tersebut. Sesampainya di sana kami melihat banyak sekali mobil mewah yang berjajar di area parkir, tepat di depan gedung serba putih itu. Tanpa menunggu, kami pun segera masuk melalui celah jendela.

"Wow, ini benar-benar surga." Temanku berdecak kagum melihat pemandangan di dalam gedung. "Benar kan yang aku bilang bahwa di sini kita bisa makan sepuasnya." Temanku yang lain mulai menyombongkan dirinya. "Eh, coba lihat wanita itu, leher, pundak dan lengannya dibiarkan terbuka. Kulitnya begitu cerah dan mulus. Hmmm... aroma etanolnya tercium sampai sini." Temanku satu lagi mulai memerhatikan satu per satu targetnya.

Di sana kami melihat sekumpulan manusia yang sedang pesta besar. Di bagian depan terpampang banner bertuliskan "Selamat Menikmati Kursi Baru". Mereka duduk melingkari beberapa meja kecil yang di atasnya terhidang berbagai macam makanan sekaligus minuman dari negara asing.

Ada seorang wanita yang sudah cukup tua berdiri di atas podium. Dengan wajah yang ceria dia mengatakan , "Salam bahagia untuk kita semua. Selamat kepada rekan-rekan yang telah mendapatkan kursi baru. Ini adalah kemenangan kita. Ingat, akan ada banyak tugas yang harus kita selesaikan. Jika kita berhasil, pesta besar seperti ini akan kita nikmati setiap bulan. Yang perlu kita pahami bahwa hidup di dunia ini harus bisa bermanfaat bagi orang lain. Jika kalian ingin anak cucu cicit anda bahagia dengan kebutuhan yang melimpah, tolong tingkatkan lagi kerjasama, komunikasi, dan jejaring kalian." Tiba-tiba semua manusia yang ada di sana bertepuk tangan serempak.

Tak sadar, kami serempak menghirup dalam-dalam aroma karbondioksida yang keluar dari mulut botol hijau dan mulut manusia itu. Sungguh, aroma ini membuat air liur kami menetes dan mulut jarum kami tegang. Tanpa komando, teman-temanku langsung menyebar ke arah target masing-masing. Ada yang menghampiri lelaki paruh baya dengan kulit sawo matang, wanita tua berkebaya dengan bawahan pendek setinggi lutut, seorang lelaki muda nan tampan berkulit putih yang tampak berkeringat setelah meminum satu botol hijau dan perempuan berkulit kuning langsat dengan kemben merah hati sekaligus rok mini hitam yang beraroma asap rokok.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Aku memilih untuk mendekati lelaki berambut keriting dan murah senyum itu. Sedari tadi ia tampak gembira sambil fokus memegang ponsel cerdas. Kucoba terbang mendekati lehernya yang berkeringat, mendarat dengan pelan, lalu kutusukkan mulut jarumku dengan sangat pelan hingga ia tak merasakan keberadaanku sedikit pun. Sambil mengisap darah lelaki itu, kulirik apa yang ada di layar ponselnya. Kulihat tulisan dalam sebuah chat WA "Bos lelang jabatan sudah beres. Semua sudah masuk rekening. Waktunya bagi-bagi bos."

Tak lama perutku sudah penuh. Kuberi zat histamin berlebih di lehernya sebagai balasan terima kasihku. Aku tak mengerti apa maksud tulisan yang kubaca tadi. Yang jelas hari ini aku dan teman-temanku sungguh berpesta menikmati makanan segar malam ini. Hingga kami ketiduran dalam sebuah saku jaket milik lelaki tua yang tergantung di pojok kamar di salah satu ruang dalam gedung mewah itu.

Tiba-tiba suara alarm itu dari ponsel yang juga berada di dalam saku membangunkan kami semua. Kami terkejut lalu terbang berhamburan dan bersembunyi di tempat yang memungkinkan. Lelaki tua itu ikut terbangun, mengambil ponsel, mematikan alarm, meletakkan ponsel di atas meja dan kembali tidur di atas kasur yang super empuk itu.

Sekilas kulihat layar ponsel itu menyala dan terdapat tulisan dari portal berita ternama, "Ketum Partai menjadi Tersangka Kasus Korupsi". Tak lama kemudian ponsel itu berdering berkali-kali hingga lelaki itu terbangun dengan ekspresi marah.

"Halo Pak anda di mana? Di sini banyak sekali petugas KPK yang sedang mencari bapak. Bagaimana ini Pak?"

Lelaki berambut separuh putih itu hanya termenung, bingung. Ia tak tahu harus kabur ke mana untuk menjauh dari tangakapan petugas. Hal ini mengingatkanku akan berita yang tak sengaja kubaca saat mengisap darah bahwa Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat bahwa terdapat 454 kasus Korupsi sepanjang tahun 2018. Nah, bisa jadi kasus yang ini adalah kasus ke 455 di awal tahun 2019.*** (nda)

Baca Juga: [CERPEN] Eksistensi 

Endah Sulistiawati Photo Writer Endah Sulistiawati

Freelancer, Volunteer, Teacher

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya