Comscore Tracker

[CERPEN] Titik Tersunyi

Aku tiba, di titik tersunyi

Pagi itu, aku terbangun oleh lembut kain kelambu yang diantar semilir angin, hingga menyentuh kulitku. Rumah ini dikelilingi empang, dan beberapa meter di belakangnya adalah laut, wajar saja jika angin siang malam bergemuruh, menyerbu masuk melalui sela-sela dinding kayu.

Aku selalu bangun kala matahari telah tinggi, tentu karena ini aku tak pernah lagi shalat subuh. Tak ada yang mengingatkanku shalat, padahal aku selalu lupa waktu shalat. Mataku menyusuri sudut ruang kamar, tempatku tidur malam itu. Ini adalah salah satu kamar di rumah Harisa, saudariku.

Mengapa aku tidur di rumah Harisa malam tadi? Bukannya aku punya rumah karena masing-masing kami telah berkeluarga? Lalu mengapa aku sendirian di sini, ke mana suami dan anak-anakku?

Aku tak sabar ingin menanyakan ini pada Harisa, aku takut terjadi sesuatu dengan anak-anakku. Aku bangun dari kasur lantai itu, namun hal yang terjadi sungguh mengejutkanku, kaki-kakiku! Mereka kaku, sulit untuk kugerakkan. Bahkan untuk kugunakan berdiri saja, tak mampu. Apa yang terjadi padaku?

Ah, aku teringat sesuatu. Aku memang sudah tak bisa berjalan lagi sejak... entah, aku lupa sejak kapan aku tak bisa menggunakan kaki-kakiku untuk berjalan. Aku mengeluarkan diri dari kelambu, berkesot menuju pintu, tetapi mereka menguncinya dari luar.

"Harisa... Harisa!" Aku berteriak memanggil nama saudariku, seraya menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci dari luar itu, mengapa pula Harisa menguncinya dari luar, dia benar-benar iseng.

Tak lama berselang, terdengar suara gerendel tergeser, seseorang telah membukakan pintu untukku. Harisa! tetapi hari ini wajahnya sedikit berbeda, dia terlihat seperti bukan Harisa saja.

"Mengapa kau kunci pintunya dari luar, Risa?" tanyaku padanya.

"Karena Mama tidak bisa kunci dari dalam, jika pintu tak dikunci maka akan terbuka oleh angin, Ma." Jelasnya, dengan memanggilku Mama, apa maksudnya? Dia adikku, bukan anakku, seharusnya dia memanggilku Kakak bukan Mama.

"Apa maksudmu memanggilku Mama? kau adikku."

"Aku Tina, Ma. anak Mama. Bukan Tante Risa, Tante Risa sudah lama meninggal," jelasnya, tangannya bergerak melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhku. Aku masih linglung.

Kuraih wajahnya dengan kedua tangan, kupandang lekat-lekat. Dia memang Tina, Tina anak pertamaku.

"Kau Tina!! Kau Tina anakku," ucapku sambil tergelak. Kali ini dia tak menanggapi, wajahnya datar.

Tina mengangkatku ke kamar mandi untuk dimandikan. "Apakah benar tantemu sudah meninggal?" tanyaku lagi, dia mengangguk. "Lalu mengapa kita ada di rumahnya sekarang?" lanjutku.

Dia diam tak menjawab. Didudukannya aku pada sebuah kursi kayu, lalu menyapu-nyapu tubuhku dengan kain yang basah oleh air hangat.

"Mengapa tak kau jawab pertanyaanku, Nak?" Tanyaku, dia mengerling dan menghela napas panjang.

"Kita ada di rumah kita, Ma. Ini rumah kita, bukan rumah Tante Risa," jawabnya. Dia bergurau berkata seperti itu. Aku ingat ini rumah Harisa. Rumahku tidak seperti ini.

"Hahaha, mana ada rumah kita seperti ini. Kau bergurau kan?" Aku memperjelas. Dia tak menanggapinya. "Kau bergurau kan, Tina?" Aku mengulangi pertanyaanku.

"Iya..." Jawabnya. Tetapi mengapa kurasa itu adalah jawaban 'mengalah' saja?

Mataku menelusuri ruangan, sebuah bingkai usang yang tergantung di atas pintu dapur mencuri perhatian, Bingkai yang terlekat foto keluargaku itu menyadarkan aku bahwa ini adalah rumahku, bukan rumah Harisa. Tina tidak bergurau rupanya.

Tina kembali membopongku ke kamar. Dibalurkannya bedak tabur ke seluruh tubuhku, mengenakan aku sebuah celana dalam aneh, berwarna putih dan empuk, katanya, dengan menggunakan itu, aku boleh buang air di celana.

Aku berkesot menuju beranda rumah, angin berembus kencang setiap hari, membuat daun-daun pisang terkoyak-koyak hingga menyerupai daun kelapa. Empang yang berada tepat di depan rumah ini dahulu adalah tempatku membantu Ibu memanen ikan-ikannya. Sedang laut di belakang sana, tempatku bermain sepanjang hari dengan teman-temanku, Desi, Amir, dan Miftah.

Dari kejauhan aku melihat tiga anak berlarian, mereka terlihat seperti Desi, Amir dan Miftah. Pasti mereka datang untuk memanggilku bermain di pantai. Aku berkesot ke balik pintu untuk bersembunyi, akan kubuat mereka terkejut ketika mereka tiba nanti.

Lama aku menunggu, mereka tak kunjung tiba. Aku menjulurkan kepala keluar. Astaga, mereka melewati rumahku! Apakah mereka lupa di mana rumahku? Aku berkesot mengejar mereka, tapi tak terburu.

"Heiii, Miftaaah, Amiiiir, Desiii. Aku di sini!!" Aku berteriak tetapi suaraku lindap ditelan deru angin. Nampaknya mereka tidak mau lagi mengajak aku ikut bermain.

"Mama, kenapa di situ?" Suara Tina mengejutkanku. Belum sempat kujawab, dia langsung sigap membopongku, membawaku kembali ke rumah. "Jangan berkesot sampai ke luar rumah, malu dilihat tetangga." Lanjutnya seraya mendudukkanku di kursi, lalu mengganti sarungku dan mengenakanku kaus kaki. 

"Aku mengejar teman-temanku, Nak. Miftah, Desi, Am.." Belum sempat aku rampung menjelaskan, dia kembali membopongku, kali ini dimasukannya aku ke dalam mobil.

"Kita mau ke mana, Tina?" Tanyaku, ketika dia duduk di bangku kemudi.

"Ke pasar Ma, suka?" Jawabnya, aku girang luar biasa.

"Percepat kemudinya, Nak. Aku tak sabar ingin berbelanja," ucapku, lalu tertawa.

"Sudah tiba," ujarnya beberapa menit kemudian, dia membelokkan kemudinya ke sebuah tempat yang bukan seperti pasar.

Tempat itu menyerupai rumahku, hanya saja lebih besar. Tidak ada penjual, pembeli dan barang dagangan layaknya di pasar. Hanya ada beberapa wanita seumuran Tina, dan lebih dominan wanita juga pria seperti aku. Suasananya pun hening, jika pasar pasti bising.

"Mama di sini dulu ya, Tina mau ke pasar," Tina berujar.

"Bukannya kau mengajakku ke pasar bersama?"

"Pasarnya becek Ma, Mama tidak bisa berkesot di sana. Di sini dulu ya?" Rayunya. "Nanti Tina belikan lopis." Lanjutnya dan kali ini aku tertarik dengan tawarannya.

"Lopis? Yang banyak!" Jawabku.

Dia pergi, melaju bersama mobilnya lalu menghilang di kelokan gerbang rumah. Sepanjang hari aku menunggunya, lama sekali dia berbelanja, batinku. Hingga hari menghitam Tina dan mobilnya tak kunjung datang.

Orang-orang itu membopongku, masuk ke dalam. Aku menolak, berontak dan menangis. Mereka tak menghiraukan, meski berkali-kali kukatakan bahwa aku menunggu anakku datang.

Hari-hari berlalu, Tina tak kunjung datang. Aku rasa dia memang tak ingin datang, tak ingin lagi membawaku pulang. Mungkin dia lelah menjawab pertanyaan yang berulang-ulang kuajukan, karena itu dia marah padaku dan meninggalkan aku di sini.

Aku memang telah melupakan banyak hal, sejak kulitku kian mengeriput, kaki-kakiku tak mampu menopang tubuh, penglihatanku buram, lalu helai demi helai rambut putihku berguguran. Masih hidup di usia renta bukanlah hal membahagiakan. Masih diberi nyawa kala diri tak bisa lagi melakukan apa-apa bukanlah hal yang mudah. Aku tiba, dititik tersunyi.

Bolehkah aku meminta segalanya dikembalikan? Duniaku yang lebih baik itu, di mana mereka berebut masuk ke dalam dekapanku. Kini mereka berbalik tak menginginkanku.

Tidak ada dunia yang lebih baik selain berkumpul dengan mereka yang kucintai, dan mencintaiku di usia senja. Dijemput maut dengan dikelilingi wajah-wajah berduka, lalu ditangisi kepergiannya bak mutiara yang berharga.

Aku hanya ingin dipulangkan, bukan lagi pulang ke rumah bersama Tina, tetapi aku ingin dipulangkan ke keabadian, kekal di pangkuan Tuhan.

Baca Juga: [CERPEN] Reinkarnasi Keyakinan

Fatimah Ridwan Photo Community Writer Fatimah Ridwan

75% Introvert

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You