Comscore Tracker

[CERPEN] Obsesi 

Obsesi itu membuatnya menyesal...

"Cukup menulisnya."

Ara menarik napas panjang, mencoba menahan segala amarahnya yang hendak meluap begitu suaminya bersuara. Selalu seperti ini di tiap pagi.

"Ibumu juga nggak menyukai ini. Nggak ada yang suka kamu tenggelam dalam khayalan."

Akhirnya, Ara menghentikan kegiatannya mengetik di laptop. Ia beranjak dari duduknya, memandangi Wira yang berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sudah rapih.

"Kerja sana," kata Ara, begitu ketus. "Cariin duit yang banyak. Jangan banyak ngomong."

"Pikirkan lagi. Tolong berhenti." Wira melangkah lebih dekat. Ia mengusap kepala Ara perlahan, juga memamerkan sebuah senyuman hangat. "Udah cukup, Ra. Hilangkan obsesimu. Aku mencintaimu."

Ara tak membalas ungkapan Wira. Ia membiarkan lelaki itu mengecup keningnya sebelum memutuskan keluar dari kamar. Ara pun memutuskan berbaring di kasur, mencoba memikirkan kembali segala hal demi mendapatkan ide.

Selagi berbaring, Ara memeriksa ponselnya. Ia suka memantau media sosialnya. Terbukti, senyumannya terbit kala beberapa saat memantau media sosial. Ia mendapatkan banyak inspirasi di sana. 

Begitu memahami apa yang betul-betul ingin diungkapkannya dalam sebuah cerita, Ara segera berdiri. Ia mulai menyalakan kembali laptopnya dan duduk di hadapan laptop tersebut untuk menyalurkan idenya. Tak henti-hentinya ia tersenyum puas saat menulis, apalagi begitu mendapati hasilnya sangat sesuai ekspektasi. Adegan manis yang diharapkannya berhasil digambarkannya melalui kata. Ia tenggelam dalam imajinasinya, lagi dan lagi. 

Ara baru menghentikan segala kegiatannya dalam menulis ketika Wira pulang. Ia menyapa dengan ceria, pun mempersilakan Wira duduk di meja makan. Ia telah menyajikan makanan kesukaan Wira.

"Aku suka kamu yang gini. Sering-sering, ya," kata Wira, caranya bicaranya begitu lembut. Caranya memandangi Ara dengan tatapan kagum berhasil membuat Ara tersenyum. "Perhatian itu ke aku, bukan ke tulisanmu."

"Iya, iya." Ara terkekeh pelan. "Makan, dong, Sayang."

Wira pun menyantap makanan buatan Ara dengan lahap, sampai habis. Hanya saja, ia tampak kecewa saat menyadari Ara tak memakan apapun. Tetapi Wira mencoba berpikir positif, mungkin Ara telah makan duluan.

"Kamu kecewa kenapa?" tanya Ara, menyadari perubahan ekspresi Wira. "Oh, ya, aku mau ngebahas soal bakatmu. Ada bagusnya, tuh, kamu pindah kerja ke tempat yang bisa menggaji lebih. Maksudku, kamu tuh berbakat banget."

"Aku udah nyaman di tempatku kerja saat ini. Kenyamanan lebih penting, kan?" kata Wira.

"Uhm, nggak, ah. Uang lebih penting dari segalanya."

Usai ungkapan Ara tersebut, perdebatan mulai terjadi. Wira tidak terima segala ungkapan Ara yang seenaknya, tak paham juga mengapa harus ia yang terus mencoba mengerti. Egonya terluka. Tatapan Ara terhadapnya terkesan mengejek, cara berbicara gadis itu membuatnya jengkel dalam seketika.

"Kamu...." Wira menggeram gusar, sambil mengacak rambutnya. "Udah keterlaluan, Ara. Aku nggak bisa terus ngikutin kemauanmu, apalagi ngasih kamu uang buat biaya kelas menulismu. Rugi yang ada."

"Aku benci orang yang ngelarang aku senang-senang dengan kegiatanku," kata Ara. Ia berdiri dari duduknya, memandangi Wira dengan sengit. "Kalau mau, akhiri aja. Muak, tau gak?!"

"Benar. Harusnya udah kuakhiri." Wira mengatakannya dnegan tegas, lantas meninggalkan Ara di ruang makan itu sendirian.

***

Wira mengurus perceraian dengan sempurna. Prosesnya tak berlangsung begitu lama. Ara benar-benar ditinggal sendirian di rumah itu. Namun, kepergian Wira tak berarti apa-apa baginya.

Ara memulai dengan percaya diri. Ia menghabiskan tabungannya untuk belajar terus soal merangkai cerita yang baik. Sayangnya, ia tak menghasilkan apa-apa dan perlahan mulai merasa kehilangan segalanya.

"Ah, sosial media."

Dalam malamnya yang dipenuhi kegelisahan, Ara membuka media sosialnya sambil berbaring. Tak seperti ekspektasi, Ara justru merasa dadanya sesak saat menemukan idolanya mengunggah foto bersama seorang gadis cantik.

"Sumber inspirasiku...." Ara mengatupkan bibirnya rapat, menahan rasa sakit hati yang dirasakannya. "Aku mati-matian menulis tentangmu, nggak peduli walau ditolak ribuan penerbit. Namun, kamu malah...."

Alhasil, Ara hanya dapat menjalani harinya dengan rasa kecewa yang terus menghinggapi. Ia mendadak merindukan sosok Wira yang selalu mengingatkannya. Ia dan obsesinya menulis cerita khayalan tentang sang idola, jelas kesalahan yang baru disadarinya kini.

"Aku mencintaimu. Itu alasanku menyadarkanmu pada realita. Ada aku yang benar-benar menemanimu, bukan bentuk dari imajinasimu."

Ara tertawa pahit ketika terbangun di pagi hari dengan ungkapan cinta yang begitu manis dari Wira terngiang-ngiang di benaknya.

Namun, segalanya sudah terlanjur berakhir. Tak ada lagi Wira yang biasa mengingatkannya. Tak ada lagi tatapan meneduhkan dari lelaki itu untuknya. Tak ada lagi pelukan hangat dari Wira saat ia letih.***

Baca Juga: [CERPEN] Apakah Bulan akan Menelanku?

Fina Efendi Photo Verified Writer Fina Efendi

Winner

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya