Comscore Tracker

[NOVEL] Autopilot Romance: BAB 4

Penulis: Revelrebel 

4. Knight in Shining Armor

 

Alan

"Welcome to Jakarta." Sapaan Gilang terdengar seperti ejekan. Gilang menepuk pundakku pelan, kemudian meninggalkanku di garbarata.

Don't be a coward, Alan.

Percuma memaki diri sendiri karena kenyataannya, kakiku masih terpaku di sini. Sangat sulit untuk digerakkan, sama sekali tidak mau diajak bekerjasama.

Di sepanjang perjalanan, aku sudah meyakinkan diri kalau aku akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang mampu mengusikku. Ini hanya pemberhentian sementara, sama saja dengan kota-kota lain yang pernah kusinggahi.

Namun, ketika akhirnya menginjakkan kaki di bandara, aku langsung teringat Nadia. Jika aku melangkah keluar dari garbarata, lalu memasuki gedung terminal dan keluar dari bandara, aku tidak yakin apakah masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak.

Eight years. Eight frickin years. Kupikir hatiku sudah kebal dan mati rasa,. Namun udara Jakarta saja sudah mampu membuatku kehilangan akal sehat.

I need something to distract myself from Her.

Saat itulah aku melihatnya, si perempuan aneh. Berjalan tergopoh-gopoh, sambil setengah berlari dengan tatatapan tertuju pada tas yang tengah diaduknya.

Detik itu aku tahu apa yang aku butuhkan. Bukankah itu yang selalu kulakukan selama delapan tahun terakhir? Aku mencari perempuan dan memanfaatkan mereka untuk membuatku lupa akan sakit hati.

Setidaknya, aku bisa menghabiskan waktu dengan perempuan ini. Sementara saja, selama aku di Jakarta. Dengan menyibukkan diri bersamanya, aku tidak lagi ada waktu untuk memikirkan Nadia.

Aku masih terpaku di tempat, tapi pandanganku mengikuti setiap pergerakannya. Dia berlari cepat dan melewatiku untuk kembali ke pesawat.

Apa yang dia lakukan? Tidak ada penumpang yang diizinkan kembali ke dalam pesawat.

Refleks, aku menyambar tangannya dan menariknya sampai berhenti. Dia kehilangan keseimbangan karena tindakanku. Dia menyambar lenganku untuk menahan diri agar tidak terjatuh.

"Shit!" Umpatan itu keluar dari bibirnya.

Where do you want to go, Young Lady?” tanyaku.

Dia tidak menjawab, hanya memutar tubuh dan menatap pintu pesawat, “Ada barang saya yang ketinggalan.”

Begitu saja, dia melepaskan diri dariku dan melesat pergi. Aku tertawa kecil sembari mengikutinya, dalam hati berdoa semoga aku tidak salah mengambil keputusan.

 

Nana

"Stupid Nana. Ketinggalan di mana, sih?"

Aku mengaduk tote bag di sepanjang perjalanan di garbarata, berharap bisa menemukan map  bersampul cokelat yang sedang bersembunyi entah di mana. Seharusnya map itu ada di dalam tas, tapi map sialan itu malah menghilang.

Langkahku terpaku ketika sebuah kesadaran menghantamku.

Jangan sampai aku meninggalkannya di Osaka.

Separuh nyawaku ada di dalam map itu. Aku menyimpan seluruh hasil meeting di Osaka di dalamnya. Aku sempat mengeluarkannya ketika berada di boarding room untuk menambahkan beberapa catatan, sekaligus menyusun ulang proposal yang tengah kukerjakan.

Aku berusaha menenangkan diri agar bisa lebih berkonsentrasi mencari map itu, tapi hasilnya sama. Enggak habis pikir, aku mencoba memutar otak, mengingat kembali apa yang sudah kulakukan selama 24 jam terakhir. Aku berdiri bersandar dan menutup mata, memaksa otakku bekerja.

Aku berdiri sendirian di ruang tunggu, lalu seorang pilot menyodorkan secangkir kopi, lalu aku kembali menyendiri. Untuk membunuh waktu, aku membaca isi map itu sambil menyusun ulang proposal sampai akhirnya pesawatku berangkat. Aku tidak melakukan apa-apa selama di pesawat, selain menonton film untuk mengusir bosan. Lalu, salah seorang pramugari menghampiriku untuk memberikan makanan. Aku mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Akhirnya, aku menyalakan laptop dan mengisi waktu dengan bekerja.

Seolah mendapatkan ilham, akhirnya aku bisa mengingat kapan terakhir kali melihat map itu. Karena keasyikan bekerja, aku sampai lupa waktu hingga akhirnya ada pramugari yang menegurku karena sudah saatnya landing.

Tidak salah lagi, pasti ketinggalan di pesawat.

Detik itu juga aku langsung berbalik arah dan menuju pesawat yang masih terparkir di tempatnya. Aku merasa sangat khawatir ada petugas yang lebih dulu menemukannya dan membuangnya. Beragam pikiran berkecamuk di benakku, memikirkan skenario terburuk jika tidak bisa menemukannya.

Aku bahkan bisa dipecat karena keteledoran ini.

Fokus dengan isi kepala, aku sampai tidak memperhatikan jalan. Aku tersentak dan refleks menjerit ketika merasakan tanganku dicekal hingga lariku terhenti seketika. Aku harus berpegangan agar tidak terjatuh akibat gangguan yang tiba-tiba ini.

Aku mengangkat wajah dan mendapati si Pilot sebagai sumber malapetaka yang kualami barusan.

Where do you want to go, Young Lady?” tanyanya.

"Ada barang saya yang ketinggalan.” Tidak menghiraukannya, aku menyentakkan tanganku sampai terlepas dan melanjutkan niatku semula.

Namun, sekali lagi dia mencekalku.

"Semua penumpang sudah turun dan tidak ada yang bisa masuk ke sana," ujarnya.

Semangatku langsung rontok mendengar jawabannya. Namun, aku tidak menyerah begitu saja. "But I have to. Ini penting banget."

“Kamu bisa membuat laporan di kantor maskapai yang ada di bandara.”

Saran yang masuk akal, tapi mengingat banyaknya prosedur yang harus kujalani, ditambah tubuhku yang terasa sangat lelah, juga kemungkinan kalau-kalau map itu tidak bisa kembali ke tanganku hari ini membuatku membantah ide tersebut. Aku membutuhkannya karena besok aku harus mempresentasikannya.

Jadi, aku menggeleng. “Tidak, saya harus mendapatkannya sekarang.”

“Itu melanggar aturan,” timpalnya.

Refleks aku menghela napas panjang. Tubuhku terkulai lemah ketika menyadari aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

"Easy, girl," timpalnya dan berjalan mendekatiku. "And I think you need me, Karenina. Come, follow me."

Aku tertegun selama beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar dan mengikuti langkahnya.

"How did you know my name?" tanyaku.

Dia hanya melirik sekilas. "Because I'm your pilot."

 

Alan

Untuk sebuah pesawat transit, butuh waktu maksimal satu jam untuk mempersiapkannya, sebelum akhirnya pesawat itu kembali terbang. Sementara untuk pesawat non-transit, biasanya akan langsung menuju hanggar untuk mengalami pengecekan.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Begitu penumpang sudah selesai turun, dan kru bandara sudah mengeluarkan semua bagasi, maka pesawat dalam keadaan steril. Hanya kru terkait yang boleh berada di sana.

Namun ada pengecualian, seperti kali ini.

"Hai capt, balik lagi?" Salah seorang kru bandara yang bertugas menyapaku.

"Ya, ada yang ketinggalan," aku menyingkir sehingga dia bisa melihat Karenina yang berdiri di belakangku. "Salah seorang penumpang ketinggalan barang pentingnya di pesawat."

“Nanti dia bisa…”

I know, but this is emergency,” potongku.

Si petugas segera menyadari ketergesaan dalam nada suaraku, sehingga dia tidak lagi memperpanjang masalah. Dia menatap Karenina yang menunggu dalam kepanikan.

"Your seat number, miss?"

Dengan suara terbata-bata, Karenina menyebutkan nomor kursinya.

Seharusnya aku cukup menunggu di sini. Namun aku sedang butuh distraksi, dan aku sudah menetapkan Karenina sebagai distraksi penting untuk mengisi waktuku selama di Jakarta. Aku pun memerankan sosok hero yang membantunya di saat genting seperti ini. Playing as Knight in shining armor who help the Helpless Princess is quite good, I think.

"Let me." Aku menahan si petugas bandara dan meyakinkannya, hingga dia membukakan jalan untukku.

Dengan anggukan kepala, aku mengajak Karenina kembali ke dalam badan pesawat. Isi pesawat tengah dibersihkan, dan apa pun barang penting yang dia cari, pasti sudah ditemukan.

Karenina mendahuluiku, membuatku hampir saja terjatuh. Hmm... sepertinya perempuan ini mempunyai emosi yang meledak-ledak.

"Jadi sebenarnya apa yang kamu cari?" tanyaku yang berdiri di belakangnya. Sementara Karenina berjongkok berusaha melihat ke bawah kursi.

Perempuan itu tidak menjawab, masih sibuk dengan usahanya yang kuyakin akan sia-sia. Kusandarkan tubuh di kursi dan memperhatikannya. Diamati seperti ini, baru aku menyadari kalau Karenina cukup manis.

Hidupku dikelilingi banyak perempuan cantik dan seksi. Karenina sama saja seperti perempuan-perempuan yang kutemui selama ini. Wajahnya bulat, dengan hidung bangir dan bibir tipis. Rambutnya hitam panjang dan bergelombang, memberikan kesan seksi di balik wajah manis itu. Tubuhnya lumayan tinggi untuk ukuran perempuan, dengan lekukan yang pas di tempat yang tepat. Ditambah kulitnya yang kecokelatan, membuatnya tampak eksotis.

Menggiurkan. Kuberi dia nilai 8.5, dan penilaianku ini bisa berubah kapan saja.

Keasyikanku memperhatikan Karenina terganggu ketika si petugas menghampiriku dan menyodorkan sebuah map bersampul cokelat. "Mungkin ini punya dia. Saya menemukannya di kursi yang ditempatinya."

Aku menerima map itu dan menimbang-nimbang apakah akan memberikannya sekarang atau nanti.

Namun, sepertinya Karenina-lah yang memaksaku membuat keputusan, karena detik itu, dia bangkit berdiri dan menatapku. Wajahnya yang tadi putus asa langsung berubah. Dengan cepat dia menyambar map tersebut.

"Thank God, saya pikir hilang."

"Jadi, itu barang pentingnya?" tanyaku.

Karenina langsung menyimpannya ke dalam tas dan mendekap tas itu erat-erat, seperti anak kecil yang tidak ingin kehilangan mainannya untuk ke dua kalinya.

"Thank you," ujarnya dan tersenyum.

8,7. Penilaianku terhadapnya bertambah karena senyumnya itu.

"Terima kasih juga karena sudah menemani saya ke sini."

Aku hanya mengangguk kecil.

"Now, would you excuse me?"

Dengan satu senyuman, Karenina berlalu dari hadapanku.

"Wait," seruku.

"Ya?" Karenina berbalik.

Tentu saja aku tidak akan melepaskannya semudah ini.

"You owe me."

"Jadi, saya harus bayar berapa?"

"You," jawabku singkat dan tegas. Aku berjalan menghampirinya hingga tidak ada jarak di antara kami. Bisa kulihat pergolakan di matanya ketika kami berhadapan. Mungkin dia ingin pergi, tapi di matanya bisa kulihat keinginan untuk tinggal.

"What about dinner?"

Keraguan itu tampak semakin nyata di matanya. Dia mundur beberapa langkah, tapi tidak menjawab.

"Ayolah, saya sudah membantumu menemukan benda penting itu. Apa salahnya satu kali makan malam saja?"

"Is it a date?" tanyanya ragu-ragu.

"Well, if you said so, so..." Aku mengangkat bahu. "Date, it is."

Dia menggeleng pelan. "Oke."

"Give me your number."

"Buat apa?"

"Saya butuh jaminan biar kamu enggak kabur." Aku tertawa kecil.

Karenina mengeluarkan dompet kecil dari dalam tasnya. Dia menarik keluar selembar kertas dan menyerahkannya padaku.

Sebuah kartu nama.

"Kamu bisa menghubungi saya di sini."

Selesai berkata seperti itu, dia berbalik. Meninggalkanku sendirian di dalam pesawat, dengan selembar kartu nama berisi nomor teleponnya.

Detik itu, aku meyakini ini keputusan yang tepat.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Autopilot Romance: BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya