Comscore Tracker

[NOVEL] Bad Boy Hijrah-BAB 3

Penulis: Achi TM

Pelukan Neraka

 

Daesung-Bigbang pernah berkata, 

Ketika kamu mendapatkan harapan, keajaiban akan terjadi. 

Saat aku bertemu Hijrah di “Mengenang Mantan”

Aku yakin keajaiban akan datang. 

Aku tak suka menyerah. Kalau menyerah artinya berhenti

Dan mati. Aku senang berjuang.

Termasuk memperjuangkan kamu, J!

Ngaku, aja, sebenarnya kamu ingin diperjuangin, kan?

Gitu aja pakai acara pindah sekolah. 

Kamu pindah Negara pun aku nggak akan mundur, J!

Camkan itu!

~Suci~ 

 

“Hijrah! Ngapain lo pindah ke sekolah swasta yang butut, sih?” teriak Suci sambil terus mengejar Hijrah dengan motornya.

Hijrah tak terusik, ia terus mengendarai motornya. Fokus untuk menghindari Suci. Ipan yang mendengar hal itu di boncengan Hijrah meradang. Ia mantan preman di SMP dulu, tak terima almamaternya dibilang butut. Ia menoleh ke belakang tepat ketika Suci mulai menyusul buntut motor Hijrah.

“Waaah! Beraninya lo ngatain sekolah orang butut!” teriak Ipan kesal.

“Iyalah! Sekolah gue elit!” Suci berteriak, bersahutan dengan deru angin.

“Jrah, berhenti dulu. Biar gue jewer tuh bibirnya!” Ipan semakin emosi.

“Mending nggak usah urusan sama dia, Pan.”

“Emang kenapa?”

“Dia gila!”

“Haaah? Haaah? Gila?” Terdengar suara Suci meradang.

Ya ampun, kenapa dia bisa dengar, sih? Hijrah lupa kalau pendengaran Suci itu sangat tajam. Ia bahkan bisa mengetahui gosip antar gedung sekolah hanya dalam sepersekian menit saja.

“Iya, gue gilaaa! Gue tergila-gila sama elo Hijraaah!!!” Suci histeris bukan main.

Dengan satu tarikan gas, Suci menabrak buntut motor Hijrah. Duak! Ipan nyaris terjungkal ke belakang, ia menarik jaket Hijrah hingga pemiliknya sedikit tercekik. Sekuat tenaga, Hijrah tetap stabil mengendarai motor. Ia segera berbelok ke sembarang arah, memasuki gang sempit. Suci mengejar dengan terus meracau tak jelas.

Bagaimana caranya gue menghindari dia? Hijrah tertekan. Sungguh hati dan pikirannya sedang tidak siap menghadapi Suci yang sangat agresif. Ckit! Mendadak Hijrah menghentikan motornya. Jalan di hadapannya buntu. Seekor ayam berkokok sambil melompat berteriak terkejut karena ban motor Hijrah nyaris menabraknya.

“Terjepit, ya!” Suara lengking Suci membuat bulu kuduk Hijrah meremang. Menurutnya itu terdengar lebih seram dari suara Kuntilanak.

Ipan sudah hilang kesabaran, ia turun dan berbalik badan. Saat yang sama, Suci turun dari motor, melepas helmnya dan mengibaskan rambut panjang hitamnya yang tebal dan legam. Ia memakai seragam sekolah swasta elit dengan rompi pas membentuk lekukan tubuh serta rok abu-abu di atas lutut, sepatu bot berwarna cokelat hingga betis. Gayanya seperti K-Pop-ers masa kini. Melihat penampilan Suci, Ipan menelan ludah berat. Hijrah bergegas menutup mata kawannya.

“Jaga mata, Pan.”

“Iya tapi dia ngga jaga penampilan, gimana, dong?” Ipan berusaha mengintip dari sela jemari Hijrah.

“Mau kamu apa, sih?” Hijrah menoleh kepada ayam yang tadi melompat kaget alih-alih memandang Suci yang terlihat cantik dan memesona di hadapannya.

Kemarin ia bisa menahan diri karena Suci memakai hoodiedan celana jins. Terlihat kusut sekali. Namun sekarang? Suci membuat hati Hijrah terguncang.

“Gue minta balikan,” jawab Suci lugas.

“Hah?” Ipan menurunkan tangan Hijrah dari wajahnya. “Emang kapan kita jadian?”

“Gue masih cinta sama elo, J. Sangat cinta.”

“Ta— tapi gue, kan….” Ipan bingung berkata-kata.

Hijrah maju ke depan, ia memejamkan mata cukup lama.

“Suci. Kita sudah punya hidup masing-masing. Boleh ngucapin hai, nggak usah bilang bye. Tapi jangan saling ganggu, ya.”

“Aku nggak ganggu kamu. Aku cuma mau balikan! Apa nggak tahu gimana rasanya diputusin mendadak? Itu kayak bulu ketek kamu dicabut gitu aja tanpa wax tahu nggak, sih?”

“Ya aku nggak tahu, kan, aku nggak punya bulu ketek Suci.”

“Makanya aku cinta sama kamu karena itu juga!” Suci spontan menangis.

“Ya mungkin bulu ketek aku memang belum tumbuh, Ci, mungkin tahun depan.”

Ipan mencoba memahami isi percakapan antara mereka berdua sampai kemudian dia paham bahwa dia antara ada dan tiada dalam pertemuan mendadak ini. Beberapa warga keluar dari rumah mereka, menonton Hijrah dan Suci yang terlihat adu mulut. Suci mengentakkan kaki karena kesal.

“J! Poinnya bukan itu.” Suci menatap Hijrah lama.

Tatapan mata sendu itu langsung membuat Hijrah melompat mundur. Suci menunjuk ke arah belakang Hijrah.

“Apaan tuh!”

Hijrah lengah. Ia spontan berbalik badan. Saat itulah Suci menghambur memeluknya dari belakang. Membenamkan kepalanya ke punggung Hijrah yang lebar dan kokoh. Ipan melongo, nyaris tak menyadari sejauh apa bibirnya berjarak.

“Jrah? Elo pacaran? Astagfirullah al azim, elo anak Rohis, Jrah.”

“Bukan, Pan… dia itu.” Hijrah berusaha melepaskan kedua lengan Suci yang sudah terlipat erat di perutnya.

“Iya gue pacarnya memang kenapa?” Suci menoleh ke arah Ipan.

Membuat Ipan mengerang. “Wah gue nggak sangka.”

“Bukan gitu, Pan… aduh, Suci. Lepasin, dong.”

“Nggak. Sampai kiamat juga aku nggak bakal lepasin.”

Hijrah mulai keringat dingin. Ia istigfar berulang kali. Ya Allah, kenapa ujian Hijrah ini begitu berat? Perlahan ia mendengar detak jantung Suci. Suara yang dulu ia nikmati setiap ia memeluk Suci. Rasanya damai dan membuat segala permasalahan menjadi hilang. Namun sekarang? Suara itu terdengar seperti detik bom yang siap meledak. Hijrah merasa marah. Merasa keputusannya tak dihargai oleh Suci. 

Ia melihat jemari Suci bertautan satu sama lain. Pemilik jemari itu sangat lemah jika digenggam oleh Hijrah. Apakah ini saatnya menyentuh tangannya kembali? Hijrah berdebar, bukan karena cinta, tapi karena rasa takutnya kepada Allah. Sudah 6 bulan terakhir, ia tak menyentuh wanita mana pun kecuali ibu dan adik perempuannya. Hijrah mengangkat tangannya, dengan ragu-ragu ia mencoba menyentuh tangan Suci. Lebih tepatnya berusaha menyingkirkan tangan itu dari perut dan pinggangnya. Ia menelan ludah berat. Tangannya mulai gemetaran.

“Hei!” Suara seorang ibu separuh baya memecahkan ketegangan yang tercipta di hati Hijrah. “Barudak-barudak zaman sekarang pada nggak tahu malu! Pacar-pacaran di gang sempit! Pergi sana!”

Ibu paruh baya itu menodongkan sapu lidi ke arah Hijrah dan Suci. Wajah Suci mengeras, terkejut. Ia tak menyangka akan mendapat momen pengusiran warga seperti adegan sinetron yang biasa ditonton ibunya dalam stasiun ikan terbang. Beberapa warga lain juga mulai bisik-bisik. Suci merasa risih.

Plaaak! Ibu separuh baya itu menepuk pantat Suci dengan sapu lidi. Suci memekik kesakitan. Suaranya nyaring, membuat telinga Hijrah berdenging. Namun sedikit pun Suci tidak mengendurkan pelukannya.

“Masya Allah, sudah dikeplak sapu lidi juga masih nggak tahu malu! Heh!”

“Tepok lagi, Bu, biar kapok!” seru warga yang lain.

Ibu paruh baya itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Melihat hal itu, Hijrah langsung balik, membuat Suci tersentak dan agak terseret ke depan. Tangan Hijrah menahan sapu lidi yang sudah melayang di udara. Matanya bertemu dengan mata ibu paruh baya.

Ipan menutup mata ketakutan. Ia tak tega melihat Hijrah akan digebukin sama ibu-ibu paruh baya yang terdengar cerewet. Namun sampai beberapa detik, ia tak mendengar suara apa pun selain suara napas yang tertahan.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Bad Boy Hijrah-BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya