Comscore Tracker

[NOVEL] Jakartaholic - BAB 3

Penulis : Dita Soedarjo  

3. Mother Always Told Me

***

“Kemarin Papa mengajakku ke Lombok. Aku juga mengajak Rayya,” ujarku, sambil menyebut nama teman baikku sejak kecil. “Mama ikut semua kegiatan Papa?”

Mama mengangguk.

“Nggak akan bosan, Ma? Mama kenapa enggak bikin acara sendiri? Pasti ada para istri teman-teman Papa, jadi mungkin aja Mama bikin social event di sana?” usulku.

Mama menenggak Merlot-nya dan tersenyum manis. “Mama enggak bosan. Kan, itu sudah jadi tugas Mama.”

Aku menatap Mama lekat-lekat. Sampai sekarang, Mama masih belum berubah. Ketika aku beranjak remaja dan mulai paham soal hubungan, aku tidak habis pikir dengan sikap Mama. Baginya, menjadi istri adalah sebuah pekerjaan dan tugas utamanya adalah menemani serta melayani Papa.

Orang tuaku menikah karena dijodohkan dan bukan karena mereka saling cinta. Namun, bagi mereka itu bukan masalah. Aku tidak bisa melihat adanya cinta di antara mereka, tetapi mereka juga tidak saling membenci. Mereka saling menghargai dan menghormati pernikahan itu. Meskipun Papa sibuk, beliau tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Begitu juga Mama, walaupun sering ditinggal oleh Papa, itu tidak melunturkan rasa hormatnya kepada Papa.

Hubungan mereka terjalin seperti hubungan profesional. Mereka saling respect, hanya itu. Akibatnya, mereka tampak kaku. Papa yang tegas selalu terlihat dominan, karena bertemu Mama yang penurut dan nrimo. Sepanjang yang aku ingat, tidak pernah sekali pun Mama mengeraskan suara atau membantah Papa. Apa pun yang dikatakan Papa, selalu diterima oleh Mama. Pola komunikasi di antara mereka yang tidak begitu baik juga berpengaruh kepadaku.

Aku tidak terlalu terbuka dengan keduanya meskipun aku bisa berkomunikasi lebih baik dengan Papa. Aku pernah memprotes sikap Mama yang terlalu pasrah, tapi Papa malah memarahiku. Mama membela diri, karena menurutnya, seperti itulah sikap seorang istri yang seharusnya. Cukup sekali aku menyuarakan hal itu, dan akibatnya, aku jadi terbiasa menyimpan pikiranku sendiri.

“Rama apa kabar?”

Tanganku yang sedang menyuap barramundi yang menjadi menu makan siangku kali ini, refleks terhenti ketika Mama menyebutkan nama Rama.

“Baik,” sahutku ala kadarnya. “Dia say hi sama Mama.”

Tentu saja, kalimat terakhir adalah karanganku saja. Namun, sepertinya Mama menelan kebohonganku itu mentah-mentah, karena wajahnya langsung berseri-seri.

“Rama anak yang baik. Mama senang melihat kamu dengan dia. Kalau kalian baik-baik terus seperti ini, Mama jadi tenang.”

“Aku dan Rama enggak punya hubungan apa-apa, Ma,” bantahku, yang langsung disambut oleh senyum Mama yang meredup.

“Kamu masih belum meresmikan hubungan kalian?”

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

“Ya ….” Aku terdiam, membutuhkan sekian detik untuk mendapatkan jawaban yang tepat. “Aku enggak cinta sama dia.”

Bullshit. Tahu apa aku soal cinta? Sampai-sampai aku berani bilang aku enggak cinta Rama.

“Tapi kalian sudah lama dekat.”

Memangnya ada jaminan dekat dalam waktu lama akan berujung ke perasaan saling cinta? Ingin rasanya menyemburkan pertanyaan itu kepada Mama, karena aku yakin, dia tahu jawaban yang sebenarnya. Dua puluh lima tahun menikah dengan Papa, apakah ada cinta di antara mereka?

Aku bertemu Rama dalam sebuah pesta tahun baru yang digagas teman kuliahku dan diadakan di apartemennya di London. Rama sosok yang dewasa dan menyenangkan. Dia punya segudang cerita yang mampu menarik perhatianku.

Ketika aku duduk di tahun terakhir kuliah, Rama mengatakan dirinya berhenti bekerja dan akan pulang ke Indonesia. Ayahnya menyuruhnya pulang agar dia bisa melanjutkan bisnis keluarga. Meski sudah tinggal di Jakarta, sesekali Rama menghampiriku. Dia bahkan sengaja terbang ke London untuk menghadiri wisudaku.

Saat aku pulang ke Jakarta, kami masih berhubungan baik. Kami sering jalan bareng, entah sekadar lunch atau dinner, atau kumpul bareng teman-teman. Banyak yang mengira kami pacaran, tapi sebenarnya tidak ada hubungan spesial di antara kami.

Semula, aku tidak berniat memperkenalkan Rama kepada orangtuaku. Apa daya, mereka bertemu ketika aku wisuda. Mama bahkan mengundang Rama untuk ikut dinner merayakan kelulusanku. Sejak saat itu, Mama dihinggapi ide bahwa aku pacaran dengan Rama. Tidak peduli aku berulang kali membantah.

“Lama-lama, kamu pasti bisa mencintai dia. Seperti kata pepatah Jawa ….”

“Ya … ya … aku tahu,” potongku, tidak ingin memperpanjang masalah ini.

“Mama cuma bilang kalau dia anak yang baik. Mapan, punya pekerjaan yang jelas, keluarganya juga baik dan kenal dengan keluarga kita. Jadi, apa lagi yang kamu permasalahkan?”

“Aku enggak cinta dia.” Aku kembali mengungkapkan hal yang sama.

“Kalau tidak dibiasakan, gimana kamu bisa cinta sama dia?”

Memangnya, cinta bisa semudah itu untuk ditumbuhkan?

Namun, masalah paling penting, what is love? Cinta itu apa dan bagaimana rasa jatuh cinta yang sebenarnya? Ketika memandang sekelilingku, aku tidak bisa menemukan satu pun contoh nyata yang membuatku yakin bahwa perasaan nyaman yang kurasakan saat bersama Rama itu adalah cinta.

Mama terlihat nyaman dan tenang saat bersama Papa, tapi mereka juga saling menjaga jarak. Mereka sangat kaku. Jadi, sekalipun ada rasa nyaman, apakah otomatis cinta akan ikutan ada?

Absolutely no.

“Di usiamu sekarang, kamu seharusnya sudah mulai mikirin masa depan. Kapan dan dengan siapa kamu akan menikah? Rama calon yang cocok untukmu.”

“Ma, aku baru 22 tahun. Masih muda, kenapa harus ngomongin nikah, sih?”

“Bukannya Mama nyuruh kamu nikah besok, Mama cuma minta agar kamu mulai memikirkannya.”

“Ma, aku baru kerja beberapa bulan. Masih banyak yang pengin aku raih. Setidaknya, tunggu sampai aku jadi managing editor, minimal.” Aku menelan ludah. “Lagian, aku enggak cinta Rama, ngapain aku mikirin nikah sama dia?”

“Berapa lama lagi?”

Aku mengangkat bahu.

“Kamu lulusan salah satu universitas terbaik di Inggris. Royal Holloway tentu bukan main-main. Kamu juga pernah internship di penerbitan di London. Pengalamanmu sudah cukup banyak.” Mama menjabarkan perjalanan hidupku, seolah-olah aku belum mengetahuinya.

“Bukan berarti aku harus berhenti di sini, kan?” tantangku.

“Kalau kamu minta tolong Papa, kamu bisa lebih cepat maju.”

Aku menggeleng kencang. “Aku mau usaha sendiri,” tegasku. Tanpa diutarakan oleh Mama pun, desas-desus yang menyebut aku mendapatkan posisi editor ini atas bantuan Papa sudah sering kudengar. Karena itu, aku bertekad ingin membuktikan diri bahwa aku bisa tanpa harus memakai nama besar Papa.

Mama membuka mulut ingin membantahku, tetapi mengurungkannya. Aku terdiam, sengaja menatap Mama lekat-lekat, menantangnya untuk memuntahkan apa pun yang ada di benaknya sekarang. Tatapanku kian menusuk, agar Mama tahu kalau aku menunggunya untuk jujur.

Namun, Mama hanya diam. Dia tersenyum dan meneguk minumannya. Seakan-akan tidak ada hal penting yang ingin diutarakannya.

Selalu seperti ini. Mama tidak hanya menurut kepada Papa, tapi juga tidak ingin beradu pikiran denganku.

“Ya sudah, kalau memang seperti itu maumu. Kalau kamu pikir itu yang terbaik, Mama  dukung.”

Sepanjang sisa makan siang itu, aku hanya diam. Mama juga membisu. Padahal aku sengaja diam agar mama akhirnya menyerah dan mencecarku. Walaupun terkadang ucapan Mama terasa mendesak dan membuatku kesal, itu jauh lebih baik ketimbang aksi pasif seperti ini. Paling tidak, aku tahu apa yang dipikirkan Mama. Bukan blank seperti ini.

Namun, harapanku menguap begitu saja. Sampai makan siang selesai, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku, maupun Mama.

Kami berpisah begitu saja. Aku mengendarai mobilku kembali ke kantor, sementara Mama menuju salon, harus bersiap-siap untuk menemani Papa ke gala dinner nanti malam.

Seperti biasa, dia menjalankan tugasnya dengan baik. Menjadi seorang istri Arya Nugraha.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Jakartaholic - BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya