Comscore Tracker

[NOVEL] Kupu-Kupu dalam Perut-BAB 5

Penulis: Resawidi

Gelas-Hampir-Jatuh

 

Bagaimana rasanya jadi maling yang diinterogasi? Sepertinya aku tahu sekarang. Jantungku berdegup tidak kalah heboh dari nyanyian pengamen di dalam tenda pecel lele. Bola mataku bergerak turun perlahan menghindari Pilar. Ia pasti punya hal yang lebih dari sekadar penting sehingga menepikan mobil di pinggir trotoar. Tatapannya yang tepat ke arahku meminta aku balas menatapnya. Tidak aku lakukan karena rasa takut yang entah untuk apa.

"Tante Arin," katanya membuka pembicaraan. 

Dahiku mengerut dibuatnya. Bukan berarti aku ingin Pilar menyebut nama Regan dan membuat jantungku makin gaduh lagi, tapi menyebut nama Tante Arin diawal pembicaraan dengan wajah lebih tegang dari hari pertama masuk kerja, kurasa bukan sebab-akibat yang tepat. 

"Oh, aku minta tolong sama kamu," lanjutnya masih dengan ekspresi sama. 

Kudengar Pilar menarik napas panjang setelah itu. Dari curian pandang ekor mataku, bibir Pilar menarik datar. "Bantu Regan, ya?" katanya melanjutkan kalimat-kalimat sumbang yang masih saja membuatku tidak mengerti arah pembicaraannya meski sudah tiga kali disambung.

Seharusnya, kalau ini hanya permintaan tolong biasa, Pilar bisa mengucapkannya dengan lugas seperti sebelum-sebelumnya ketika 'sifat khas anak sulung'-nya keluar.

"Aku sama Tante Arin minta tolong kamu buat bantu Regan." Akhirnya, Pilar berhasil merangkai kalimat dengan baik. Namun, itu membuat firasatku menjadi buruk, mengingat Tante Arin kadang suka bicara ngaco. Oleh karena itu, aku memberanikan diri mengangkat kepala dan membalas tatapan Pilar.

"Bantu apa? Kan Tante Arin sendiri yang nolak uang dari kita. Regan juga udah membaik."

Pilar mengangguk dan gantian menghindari tatap mata. Kulirik, kakinya mulai resah di bawah setir. Beberapa saat, ia hanya diam seperti sedang menimbang-nimbang.

"Segalanya nggak akan mudah buat Regan begitu tahu semua realitas yang harus dihadapi setelah kembali dari rumah sakit."

Aku tahu.

"Dan kamu salah satunya yang bisa bikin dia lebih semangat."

"Tante Arin, Arsan juga."

"Iya, mereka juga. Tapi, efeknya beda." Pilar mengangguk dengan gerakan patah. "Jadi-" terjeda dan Pilar menatapku penuh kali ini. Badannya ikutan memutar menghadapku. Selama beberapa saat, Pilar hanya diam menatap. Entah apa yang dicarinya, tapi aku tahu yang akan disampaikan Pilar pasti lebih menyebalkan dari sekadar memberitahuku kalau ia baru saja memenuhi kemauan Kanaya. Aku bisa menangkap keberatan itu di wajah ovalnya. Bertele-tele, itu bukan Pilar.

"Aku minta tolong supaya-"

Suara ketukan di kaca mobil menginterupsi obrolan kami. Seorang anak berkomat-kamit sambil menunjuk-nunjuk kantong permen yang dibawanya. Di sebelahnya, ada badut menari-nari. Segera aku membuka kaca dan memasukkan uang ke dalam kantong. Kubalas senyum lebar anak itu dengan sangat singkat.

Kemudian, keheningan di antara kami kembali. Aku tidak bisa membaca tatapan Pilar dengan baik saat ini, seolah ini adalah pertemuan pertama kami.

"Apa?" tanyaku akhirnya. Kurasakan daguku naik sedikit. Aku pasti terlihat seperti sedang mengajak perang, padahal sebenarnya aku hanya ngin segera tahu.

"Jangan bicara soal hubungan kita ke Regan."

Sepasang bola mataku hampir lepas kalau saja aku tidak ingat harus menahan diri agar tidak langsung meledak. Di antara banyak kemungkinan, ide Pilar barusan sama sekali tidak ada dalam sesaknya prasangka-prasangkaku. Meski begitu, aku mencoba mengikuti alur pembicaraan Pilar.

"Kalau Regan sendiri yang nanya?"

Pilar menggumam pelan, tampak berpikir. "Kita te-man," ucapnya tersendat. Itu pernyataan dengan tanda titik, tapi terdengar seperti kalimat tanya.

"Bohong?" Sebelah alisku mengangkat.

"Sebentar aja."

Apa dia bilang? Jelas-jelas 'sebentar aja' berisi ketidakpastian.

"Ya-" Ponselku berdering ketika aku hendak mengajukan protes. Siapa sih yang masih saja tidak beristirahat pada pukul sepuluh lebih seperempat pada Rabu malam?

Mbak Rima CCS is calling.

Siapa peduli? Ini sudah di luar jam kantor, besok kita pasti bertemu, berdiskusi langsung di kantor akan membuat masalah apa pun lebih mudah dipecahkan, dan paling penting, aku sedang terlibat obrolan serius dengan tunanganku. Catat! Tunanganku, bukan 'te-man' seperti yang barusan Pilar usulkan. Buru-buru aku mengalihkan panggilan. 

"Kamu juga kasihan, kan, sama Regan?"

Halo? Memangnya aku manusia seperti apa sih? Tentu saja aku prihatin dan bersalah, tapi toh aku punya logika yang bisa diajak untuk memutuskan hal-hal dengan lebih jernih. 

"Aku curiga, ini permintaannya Tante Arin, ya?"

"Aku juga."

Apa sih yang sudah aku lewatkan? Sampai hari ini, aku selalu berdampingan dengan Pilar. Aku bahkan hafal apa saja yang kami bahas belakangan ini. Error-nya sistem pendebetan di kantor, Mas Pur dan istri rewelnya, persiapan pernikahan Mbak Gina, pensiunnya Pak Juni, toko gelato baru di ujung jalan rumah Pilar, menu baru Kafe Bercerita, dahsyatnya bubuk kayu manis untuk pie gagal buatan Hanggini, Sop Tengkleng enak di daerah Jakarta Utara, Kanaya dan tingkah-tingkahnya, kasus bullying, Lagu-lagu Sheila on 7, Film Parasite, Regan, Tante Arin, Arsan, Om Bari, sampai cuitan-cuitan protes netizen terhadap pemerintahan. Tidak ada tanda-tanda Pilar mau memalsukan status hubungan kami. 

"Ini sih nggak jelas banget sih, Pil."

"Ya jelas dong. Kita backstreet dari Regan."

Loh, memang Regan siapa? Aku menggeleng, heran. Pandanganku kembali ke depan. Mencoba meredam rasa kesal dengan tidak membuka obrolan. Saat emosi, kata-kata tidak membuat kami menemukan jalan keluar. Jadi, aku kembali memejamkan mata. 

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Jalan lagi, Pil," kataku.

Pilar menurut. Mobil kembali melaju. Dan kepalaku mulai dipenuhi ini-itu.

Aku bukannya tidak bersyukur memiliki laki-laki sehebat Pilar. Kesopanannya, kesederhanaannya, juga kesabarannya kurasa jenis keberuntungan, entah aku harus membalas kebaikan-Nya dengan apa. Sampai kadang-kadang, aku merasa jauh dari pantas untuk bersebelahan dengannya. Pilar jenis manusia yang paham benar kebaikan akan menghasilkan kebaikan juga. Jadi, ia bisa mengorbankan dirinya sekaligus perasaannya demi melahirkan kebaikan untuk orang lain. Sebab, bagi Pilar, senyum orang-orang di sekitarnya adalah kebahagiaannya juga. Aku tahu itu bagus. Sangat bagus. Namun, kurasa ia perlu belajar soal takar-menakar.

Badanku meliuk ke samping. Menghadap kaca mobil sambil tetap berusaha melelapkan diri. Lagu "Yang Terlewatkan" dari Sheila on 7 mengudara begitu saja. Minatku terhadap apa pun hilang. Dalam hati, aku menggeram. Gemas dengan tingkah Pilar yang kelewat baik.

Tempo hari soal Kanaya. Hanya karena dimintai tolong bosnya membujuk Kanaya yang mogok sekolah, Pilar rela berangkat dua jam lebih awal ke Jakarta supaya sempat ke rumah Pak Wisnu dan membujuk Kanaya, padahal ia sendiri harus menyiapkan presentasi untuk pukul delapan pagi. Kini, Pilar mengorbankan perasaannya demi membuat Tante Arin lega.

Aku yakin, ketimbang mengasihani Regan, Pilar melakukan ini pasti lebih karena melihat Tante Arin. Aku maklum kalau tante hebat itu membutuhkan pertolongan, tapi bukan berarti jadi bisa mengacak-acak hubungan kami sesuka hati, meminta Pilar merelakanku berpura-pura masih sendiri demi menyenangkan hati anaknya.

Ah, ya, seharusnya aku tidak marah kepada Pilar. Semua karena Tante Arin.

Namun, Tante Arin juga tidak akan meminta terlalu jauh begini kalau bukan karena Pilar yang iya-iya saja. Aku jadi plin-plan, tidak bisa menetapkan siapa yang bersalah. Aku juga tidak bisa tidur, mataku selalu kembali membuka.

Kulirik Pilar di sebelahku. Kedua tangannya berada di atas setir, mengendara dengan tertib. Sepasang matanya fokus menghadap jalanan. Sekilas, Pilar kelihatan sangat stabil. Tenang, seolah semua hal sedang berjalan baik.

"Maaf, aku nggak bisa setuju, Pil."

"Cuma sebentar aja, Rana. Sampai Regan siap." Pilar terdengar sudah bisa mengendalikan diri. Tidak ada patahan dalam kalimatnya.

"Kesiapan yang kamu maksud itu variabel yang terlalu bebas."

"Kita punya tolok ukur. Penilaian, kita bisa menilai terus menghentikannya, kan?"

"Apakah akan sama tolok ukur kamu dan aku?"

Pilar mengangkat bahu, kemudian menjawab, "Seingatku, kita juga punya pola pikir yang sama terhadap banyak hal."

Pilar gila dan menyebalkan. Walau berseberangan, kenaifan bisa mendorong sifat 'anak sulung'-nya keluar. Dan, meskipun begitu, harus kuakui yang barusan Pilar bilang ada benarnya. Di antara ketidakcocokan keinginan kekanak-kanakanku dan tingkah kakunya itu, dalam hal-hal lain, kami memiliki banyak pendapat yang sama. Seperti soal politik busuk yang menyebalkan sehingga jarang kami bicarakan atau soal kegiatan sosial yang seru dan selalu gemar kami bahas.

"Kalau gitu, kali ini kita lagi nggak sama, Pil."

Pilar tidak menanggapi. Mobil berbelok ke kanan. Beberapa meter lagi kami akan sampai di tujuan.

"Lagi pula belum tentu benar, kan, kalau aku bisa jadi sumber semangatnya Regan? Pasti ini cuma kira-kiranya Tante Arin aja."

Pilar mengangguk setuju.

"Terus?" Aku menanti sebuah keputusan. Percayalah, darahku mulai mendidih. Nadaku yang masih di tangga nada rendah hanya upayaku menahan terjadinya perang yang sudah lama sekali tidak pernah ada di antara kami.

Ketika mobil berhenti melaju di depan pagar rumahku, ponsel Pilar berbunyi. Beberapa detik setelah membaca pesan, Pilar menyodorkan ponsel kepadaku. 

Anak-anak rambutku terbang karena tertiup kencang embusan napas dari mulutku. Aku benar-benar kesal sekarang. Rupanya, Tante Arin sering kirim pesan kepada Pilar. Banyak hal yang Tante Arin ceritakan. Terutama, kecintaan Regan kepadaku yang selama ini sengaja tidak semuanya aku transfer ke Pilar demi menjaga perasaannya. Aku curiga, selama ini, ketika Pilar dan Tante Arin berjalan begitu pelan di belakangku dan Arsan, mereka pasti sedang bernegosiasi soal ini dan Pilar dengan kenaifannya itu akhirnya mengalah.

Kukembalikan ponsel kepada Pilar. Pesan paling baru dari Tante Arin ialah foto kamar Regan dengan berbagai hasil gambarnya yang dalam pesan Tante Arin ditulis kalau lima gambar terakhirnya masih saja berhubungan soal aku. Jelas, ini modus memelas yang akan membuat seorang Pilar semakin keras kepala ingin membantu.

"Aku nggak mau, Pil. Ini hubungannya sama masa depan kita. Aku nggak mau main-main."

Hening. Hanya ada obrolan dua orang penyiar yang mengudara dari radio.

"Rana," panggil Pilar lembut, tapi aku bergeming. Tidak mau menatapnya. "Ada sesuatu yang kamu khawatirin?"

Memangnya dia tidak? 

Sejak detik bereuni di rumah sakit, aku mulai merasa resah. Aku mencium sesuatu yang salah pada penilaianku selama ini. Aku tidak tahu siapa yang benar merindu. Regan kepadaku atau aku yang selalu ingin ketuntasan. Semua cerita Tante Arin soal Regan yang menaksirku ternyata punya efek lain setelah adegan gelas-hampir-jatuh tadi. Kemudian, aku jadi takut pada diriku sendiri.

Sekalipun aku dan Regan tidak menemui babak picisan baru, tetap saja hubunganku dan Pilar bisa berantakan. Entah siapa yang akan tersakiti dan menyakiti, pertengkaran akan menjadi keseharian kami nanti. Kalau tidak dalam bentuk perdebatan, itu bisa juga jadi aksi saling diam. Dan aku benci berada dalam situasi sejenis itu. Mengendap kegundahan demi menyajikan suasana yang tampaknya harmoni.

"Aku tetap nggak mau!" Akhirnya, aku lepas kendali. Suaraku meninggi. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau mengambil risiko yang tidak masuk bagi logikaku.

"Niat kita baik, hasilnya-"

"Baik? Basi kamu, Pil!" Tentu, aku sudah hafal kalimat bijak itu. Aku mulai merapikan barang-barang dan memencet tombol kunci. Sebelum Pilar menyahut lagi, aku sudah membuka pintu mobil dan keluar tanpa pamit. "Ah iya, satu lagi Pil," kataku kembali menoleh kepada Pilar yang sudah keluar mobil dan mencoba menyejajarkan aku. "Kita nggak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Sebaik apa pun kamu berbuat, kamu cuma manusia, nggak akan bisa jadi peri dengan menolong Tante Arin." Aku menajamkan ucapanku.

Aku berlari meninggalkan Pilar. Pipiku dibasahi air mata. Beruntung, aku memegang kunci cadangan sehingga aku tidak perlu bertatap muka dengan orang rumah dan membuat Pilar masuk untuk sekadar pamit pada orang tuaku.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Kupu-Kupu dalam Perut-BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya