Comscore Tracker

[NOVEL] Sabria: Bab 2

Penulis: Citra Novy 

[Angkasa Jiandra]

 

Jian masih duduk di teras sebuah kedai kopi bersama dua temannya—Kemal dan Damar, mengelilingi satu meja berbentuk lingkaran. Asbak di tengah meja sudah dipenuhi beberapa puntung rokok, gelas-gelas server berisi manual brew V60 hanya tersisa di beberapa seloki kecil di sampingnya.

Obrolan Kemal dan Damar semakin terdengar samar karena dari balik speaker ponsel suara Frea terdengar begitu nyaring, antusias, bersemangat, menceritakan kesibukannya seharian ini. Dari nada suaranya yang riang walaupun kelelahan, ia terdengar sangat menikmati pekerjaannya di tempat baru.

Jian baru saja ikut tertawa kecil, menanggapi cerita Frea tentang kesalahan yang dilakukan rekannya hari ini. Dan ia berkata di sela tawa singkat itu, di saat suasana sudah terasa pas, tapi tetap membuat tawa Frea terhenti. “Fre?”

“Ya? Kenapa, Yan?”

“Ibu telepon aku.”

“Oh, ya? Gimana kabar Ibu?”

“Sehat.” Tidak ada tanggapan lagi dari seberang sana. “Ibu minta aku bawa kamu ke rumah.”

“Oh.” Suara antusias Frea menghilang, berganti dengan gumaman singkat, setelah itu sambungan telepon hanya diisi oleh hening yang cukup panjang.

“Aku tentu akan menyetujui itu ketika kamu siap,” ujar Jian, mencoba kembali menghilangkan genangan canggung antara keduanya.

“Iya. Iya.”

Tanggapan Frea membuat Jian mendesah berat. Hubungan mereka sudah berlangsung selama empat tahun, tapi sama sekali belum ada kemajuan lebih dari sekadar pacaran biasa.

“Yan, aku mandi dulu ya. Nanti aku telepon kamu lagi, oke?” Di Seberang sana, Frea seolah-olah tidak mendengar pertanyaannya.

“Oke.” Memang baiknya seperti itu, karena jika dilanjutkan, percakapan itu hanya akan berujung perdebatan. Ia sangat tahu.

“Sampai ketemu … akhir pekan depan? I love you.”

Sambungan telepon terputus, diakhiri oleh kalimat yang … Jian pikir bukan lagi ungkapan perasaan yang sebenarnya. Kalimat itu sudah berubah menjadi kalimat kamuflase saat perempuan itu merasa terpojok, ingin menghindar, dan ingin segera mengakhiri percakapan. Nada suaranya terlalu datar untuk sebuah ungkapan cinta, terlalu biasa untuk kalimat seistimewa itu.

Tangan Jian turun dari telinga, menaruh ponsel di atas meja. Perubahan raut wajahnya menarik perhatian dua temannya. Sesaat dua orang itu saling lirik, lalu berdeham. Kemal menjadi orang pertama yang bertanya, “Nyokap lo … minta dikenalin lagi sama Frea?”

Jian mengangkat dua alis, lalu meraih seloki kecil di depannya. “Habis nih, mau pesan lagi?” tanyanya, membuat Damar memanggil seorang waiter dan memesan menu kopi yang sama dengan sebelumnya.

Wangi kopi kembali tercium, uap hangatnya masih mengepul. Seloki-seloki itu kembali terisi, percakapan mereka kembali terdengar. “Wajar nyokap gue nyangka selama ini gue gay,” ungkap Jian yang membuat dua temannya meledak dalam tawa.

“Serius?” tanya Damar.

“Udah separah itu ternyata masalah lo?” Kemal masih terkikik.

Jian menggoyangkan kotak rokok, tidak bersuara, rokoknya habis, kemudian menaruhnya kembali. Mengingat percakapan terakhirnya dengan Ibu semalam. Pria di usia dua puluh sembilan tahun yang lebih memilih menghindar ketika didesak untuk mengenalkan calon pasangan memang patut dicurigai.

Setiap pulang dari resepsi pernikahan anak temannya, Ibu pasti menyindirnya. Ketika anak temannya itu sudah memiliki anak, Ibu semakin terus terang bertanya, “Kapan giliran Ibu yang nimang cucu?”

“Gue jadi penasaran, apa alasan Frea setiap kali menolak dikenalkan ke keluarga lo?” tanya Damar. “Dan sebaliknya? Dia yang nggak mau mengenalkan lo ke keluarganya?”

“Belum siap,” jawab Jian setengah frustrasi. “Hanya itu.”

“Frea dua puluh lima tahun, lo sendiri … gila aja.” Kemal menggeleng, pria yang sudah memiliki dua anak itu tampak heran. “Baru nemu gue, ada perempuan yang susah diajak kenalan sama orangtua pacarnya.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Biasanya, dari cewek-cewek yang gue kenal, seringnya mereka yang ngebet dikenalin ke orangtua kita.” Damar mengangkat bahu. Bahkan, Damar yang sejak dulu dikenal sering berganti pasangan itu sudah membuat keputusan terbesar dalam hidupnya—menikah, enam bulan yang lalu, dan sedang menunggu kelahiran anak pertama.

Entah, apa yang salah. Jian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia bahkan sudah kehilangan ide, bagaimana cara membujuk Frea agar luluh.

“DP-in dulu mungkin bisa lebih efektif?” Usulan Damar barusan mendapat bonus sebuah lemparan tisu kotor dari Jian. “Lho? Nyokap lo akan berhenti berpikiran buruk, mengakui anaknya adalah pejantan sejati. Sementara Frea, ya mau nggak mau, kan?”

“Lain kali, tusuk pakai jarum kondom lo sebelum mulai,” tambah Kemal.

Jian menggeleng, mengabaikan Kemal dan Damar yang masih saling sahut tentang saran asal-asalan itu. Jian ingat pertama kali mengenal Frea. Saat memulai kariernya sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta Selatan, ia mengenal Frea, yang saat itu merupakan salah satu mahasisiwi aktif di kampus. Satu di antara ratusan mahasiswa yang memiliki semangat tinggi ketika mengikuti perkuliahan. Membuatnya mudah mengingat, terpesona, lalu, yah … bisa disebut jatuh cinta?

Frea membuktikan prestasinya dengan lulus satu semester lebih dulu dibandingkan teman-teman seangkatannya dengan predikat cum laude. Hubungan mereka justru lebih dekat saat Frea sudah lulus, membuat banyak janji bertemu di luar jam kerja masing-masing, sampai sekarang, dan … ya, hubungan mereka masih seperti ini. Jalan di tempat.

“Lo cinta banget sama Frea, Yan?” tanya Kemal.
Damar tertawa mendengar pertanyaan itu. “Serius? Cinta banget?”
Kemal berdecak. “Empat tahun susah diajak serius dan Jian masih bertahan sama dia ya … gue pikir, sih—”

“Gini, sebagai laki-laki, mungkin gue bisa aja meninggalkan dia. Kapan aja.” Jian berdeham. “Tapi, kalau itu terjadi, berarti gue hanya membuat dia membuang-buang waktu empat tahunnya bersama gue. Dan itu jahat.”
Damar menjentikkan jari. “Jadi, lo sekarang lagi nunggu aja gitu?” terkanya. “Nunggu dia mutusin lo?”

“Yah, gue udah melakukan segala cara untuk membujuk dia, untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, tapi dia tetap nggak mau, kan? Dan untuk mutusin dia duluan, itu nggak mungkin.”

“Lo akan nunggu dia?” tanya Damar.

“Seandainya dia ingin nikah di usia tiga puluh?” tanya Kemal.

“Nggak masalah. Gue tunggu. Selagi jelas. Dan … dia mau gue kenalin ke keluarga gue, meyakinkan mereka kalau selama ini gue nggak lagi mengkhayal, gue beneran punya pacar, pacar gue cewek.”

“Dan lo normal,” tambah Damar, membuat cekikikan menyebalkan itu terdengar lagi.

Percakapan mereka berakhir di pukul sembilan malam. Jian menjadi orang pertama yang bangkit dari kursi, berjalan melewati beberapa meja pengunjung seraya mengotak-atik layar ponsel, memberi kabar pada Frea bahwa ia akan kembali pulang ke apartemen.
Di perjalanan singkat menuju tempat parkir, ponselnya berdering, nama dan foto Ibu muncul di layar, membuatnya sedikit berjengit, seolah-olah itu teror yang mengerikan.

“Aa?” Suara nyaringnya yang khas terdengar.

“Iya, Bu?”

“Aa tahu nggak kalau Ibu baru pulang dari acara pernikahan Faisal?”

Oke. Lagi? “Faisal?”

“Iya, anak Uwa[1] Rani geuning[2], dulu suka main sama Aa, kan? Waktu Aa SMP, Faisal itu masih TK. Ya ampun, masa Ibu baru ingat usia kalian itu ternyata jauh banget. Tapi ternyata nikahnya duluan Faisal daripada Aa.” Ibu berdecak. “Kadang Ibu tuh suka heran, Aa ke mana aja sih selama dua puluh sembilan tahun ini sampai nggak nemu-nemu jodoh? Aa nyari yang gimana? Yang cantik banyak meureun[3] di kampus, masa Ibu harus bantu sweeping?”

“Nyari yang kasep[4] meureun, Bu.” Suara Radit, adik laki-lakinya terdengar di seberang sana.

Ibu menjerit. “ASTAGFIRULLAH, TUH KAN! JADI, AA BENER?!”

***

[1] Kakak dari Ibu atau Ayah. (Bahasa Sunda)
[2] Partikel penegas dalam Bahasa Sunda.
[3] Mungkin. (Bahasa Sunda)
[4] Ganteng. (Bahasa Sunda)

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Sabria: Bab 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya