Comscore Tracker

[NOVEL] Save Our Story-BAB 2

Penulis: Pradnya Paramitha

Perempuan Lain

 

Lorong rumah sakit masih sepi ketika Ayas berjalan seusai mencari sarapan. Kantin rumah sakit belum buka. Hanya bubur ayam abal-abal dengan harga dua kali harga normal yang dia dapat. Perutnya melilit sejak semalam. Dia ingat, makanan terakhir yang masuk ke perutnya adalah sepotong pisang goreng dan tahu isi di kantor kemarin siang. Deadline menumpuk membuatnya tak sempat makan siang.

Sore harinya, kondisi kesehatan Nara mengharuskannya berlarian dari satu loket ke loket lain untuk mengurus perawatan dan cek darah, membuatnya kehilangan waktu dan nafsu makan malam. Karena itulah, di pagi buta ini, dengan pikiran yang carut marut, Ayas memaksakan diri keluar rumah sakit mencari sarapan.

Di samping kanan koridor panjang yang sepi itu ada sebuah taman tertutup rumput hijau. Ada air mancur di tengah-tengah, dengan ikan mas koki yang berenang-renang riang di kolam. Bunga-bunga bermekaran di sekeliling taman. Aroma mawar dan melati semerbak menghiasi suasana.

Saat pikirannya sedang baik-baik saja, tentu bulu kuduk Ayas sudah merinding. Aroma wangi, suasana sepi, koridor panjang yang lengang, adalah setting tetap untuk film horor. Namun, pikirannya yang sedang kacau justru mengirimkan sinyal keindahan saat melihat taman kecil itu. Siapa pun pengurus taman ini, pastilah seseorang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk kebun.

Ayas memutuskan untuk mampir sebentar. Dia duduk di sebuah bangku besi bergaya vintage yang terletak tak jauh dari air mancur. Suasana tenang dan aroma bebungaan itu cukup berhasil menenangkan pikirannya. Untuk beberapa saat, mungkin juga karena kekenyangan, Ayas jatuh tertidur. Sampai kemudian ponsel yang dia genggam di tangan kiri bergetar, menandakan ada pesan masuk.

Pandu Permadi: Aku jln ke bandara jemput Tante Nilam. Lgsg ke RS.

Sebuah pesan singkat dari Pandu, kakaknya, mengabarkan bahwa ibu Nara sudah tiba di Jakarta. Sebenarnya Ayas tak mengharapkan Tante Nilam hadir. Dia sudah berulang-ulang meyakinkan bahwa dia bisa merawat Nara. Semalam Ayas hanya mengabarkan bahwa Nara masuk rumah sakit karena tifus dan DBD, dan Tante Nilam langsung terbang dari Jogja ke Jakarta dengan pesawat paling pagi. Mungkin begitulah seorang ibu, yang tak mungkin bisa tidur nyenyak bila tahu putranya sakit. Entahlah, karena Ayas tidak pernah melihat ibunya.

Setelah mewanti-wanti Pandu untuk berhati-hati menyetir, Ayas memutuskan kembali ke kamar perawatan Nara. Dia mendapat kamar kelas dua, karena itu satu-satunya yang kosong ketika Nara masuk. Tidak terlalu nyaman memang, karena harus berbagi kamar mandi dan pintu dengan beberapa orang lain.

Saat dia tiba di ruang rawat, Nara sudah terjaga. Pria itu menatap sekelilingnya dengan bingung, seolah sedang berusaha mengenali keadaan. Ayas menghela napas panjang, berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya, lalu memasang senyum lebar.

"Halo, sleepyhead..." sapanya. Tangannya refleks menyentuh dahi Nara, memeriksa apakah suhu badannya sudah turun atau belum.

"Aku di rumah sakit?" tanya Nara.

"Nggak, kamu lagi di panggung teater. Lagi akting sakit."

"Aku kenapa?"

"Menurutmu?" Ayas balas bertanya dengan nada kesal. "Kamu masuk UGD gara-gara trombositmu hampir habis."

Nara melirik botol infus berisi cairan kuning di atas kepalanya. Dokter sudah mewanti-wanti jika Nara sampai mengalami pendarahan atau muntah darah, transfusi darah harus dilakukan. Seharusnya Nara segera dibawa ke rumah sakit ketika demam dan meriangnya tak kunjung sembuh setelah tiga hari. Namun, Nara dan jiwa pekerjanya yang luar biasa, membuat pria itu mengabaikan meriangnya berhari-hari. Kemarin malam bahkan Nara masih pentas teater bersama timnya di Salihara. Hingga siang harinya, pria itu menyerah dan pingsan di toilet kantor.

"Minum?" tawar Ayas, mengambil botol aqua. "Harusnya kamu banyak-banyak minum jus jambu, tapi karena tifus juga, jadi menu makan kamu bakal spesial. Gimana rasanya kena demam berdarah dan tifus sekaligus? Seru nggak?"

Nara menerima sedotan yang dia sodorkan, dan meminum air putih beberapa teguk. Lalu pria itu menatapnya lekat-lekat.

"Apaaa?" tanya Ayas sengit.

"Kamu nggak tidur ya semalaman?"

Bagaimana aku bisa tidur jika kekasihku semalaman mengigau dan menyebut-nyebut nama perempuan yang bukan aku?

"Ibu udah dalam perjalanan dari bandara sama Mas Pandu." Ayas mengalihkan topik.

"Apa kubilang? Jangan ngasih tahu Ibu, pasti lebay."

"Ibu nggak percaya aku bisa mengurus kamu dengan baik."

Nara nyengir kecut. "Andai Ibu tahu kamu bisa lebih cerewet kalau urusan kesehatan."

"Kalau Ibu yang ngomel di sini, yang jelas kamu nggak akan khilaf demi latihan teater sebulan full sampai kayak zombie begitu. Dan hari ini nggak akan pernah terjadi."

"Ah, kamu udah mirip Ibu sekarang ini. Seriously." Nara mengeluh. "Tidur sana, biar mood-mu baikan dikit."

Bukan kurang tidur yang bikin mood-ku jelek, Nara!

***

RAISA.

Lima huruf, tiga vokal, dan dua konsonan. Membentuk sebuah kata yang akhir-akhir ini sering wara-wiri di layar kaca. Tak heran ketika mendengar lima huruf tersebut bersatu, yang muncul adalah bayangan tentang seorang perempuan cantik dengan rambut hitam bintang iklan sampo Sunsilk dan suara emas yang baru saja melahirkan putri pertamanya bersama Hamish Daud, dan membuat baper seluruh netizen di Indonesia.

R-A-I-S-A.

Ayas mengeja nama itu di benaknya. Matanya terpejam, menelusuri relung-relung sempit memorinya. Adakah dia melewatkan nama penting itu di salah satu sudut benaknya? Namun, semakin lama dia berpikir, semakin keras dia berusaha menjelajah memorinya, hanya pusing yang dia dapat. Ibu jari dan telunjuknya mulai bergerak memijit pelipisnya.

Akan lebih mudah jika Raisa yang dimaksud memang Raisa Adriana, penyanyi jelita yang naik daun dengan lagu 'Serba Salah' dan 'Terjebak Nostalgia' itu. Ayas tak ada masalah dengan penyanyi itu. Meski bukan penyanyi favoritnya dan terkadang dia bingung mengapa teman-teman laki-lakinya memuja-muja penyanyi itu, Ayas bukan haters Raisa. Lagi pula, lagunya yang berjudul 'Serba Salah' itu cukup asyik didengar. Namun hari ini, tepatnya sejak semalam, nama itu benar-benar mengusiknya. Nama Raisa muncul di mana pun dia berada.

Sungguh, akan lebih mudah jika Raisa yang dimaksud adalah Raisa Adriana. Namun, selama lima tahun dia mengenal Nara, dia tahu pasti, bahwa bukan Raisa Adriana yang disebut-sebut kekasihnya semalaman, dalam kondisi tak sadar akibat bakteri salmonella thypi dan virus dengue yang menyerangnya.

Nara jelas bukan penggemar Raisa Adriana. Sejauh yang dia tahu, Nara penggemar lagu-lagu Folk Irlandia yang membuat Ayas selalu mengantuk saat mendengarkannya. Nara juga penggemar lagu Reggae ala Bob Marley dan Rock ala Gun 'n' Roses. Lagu Pop Jazz seperti milik Raisa tak akan masuk playlist Nara.

Jadi, jika itu benar Raisa Adriana sang penyanyi, Ayas tidak bisa menemukan penjelasan bagaimana nama itu bisa muncul di alam bawah sadar Nara.

"Yasmin nggak kerja?"

Lamunan Ayas terputus saat tepukan mendarat di pundaknya. Tante Nilam tersenyum lembut, lalu duduk di sebelahnya. Di dunia ini hanya Nara yang memilih tetap memanggilnya dengan nama asli, Yasmin. Sejak kecil, Abah dan abangnya memanggilnya dengan 'Ayas', katanya biar lebih mudah dikatakan oleh lidahnya yang cadel. Panggilan itu terbawa sampai sekarang, dan Ayas pun terbiasa memakai 'Ayas' sebagai nickname saat berkenalan. Namun, Nara ngotot memanggilnya dengan Yasmin, entah apa alasannya. Karena dia diperkenalkan sebagai Yasmin oleh Nara, Tante Nilam dan seluruh keluarga Nara pun memanggilnya dengan Yasmin.

Mereka berdua duduk di bangku panjang di depan ruangan Nara. Tadi Tante Nilam berkata akan mencari informasi ke resepsionis apakah ada kamar kelas satu atau VIP yang kosong. Kamar kelas dua di rumah sakit itu membuat Nara justru memburuk karena kurang nyaman. Tetangga kamarnya menerima begitu banyak tamu dan berbincang keras-keras. Nara jadi kesulitan istirahat.

"Aku bisa ke kantor siangan kok, Tante. Tenang," jawab Ayas sambil nyengir lebar. "Ada kamar buat Nara?"

"Belum ada. Tapi Tante sudah pesan ke perawat untuk langsung mindahin Nara begitu ada kamar kosong," jawab Tante Nilam. "Tapi kamu butuh istirahat, lho. Apa kamu ndak tidur semalaman?"

Ayas nyengir. "Nara parah banget semalam, Tante. Badannya panas, semalaman ngigau. Mana aku bisa tidur."

Tante Nilam mengusap lengannya. "Kalau bukan kamu yang di sisi Nara, Tante pasti udah ke Jakarta dari tadi malam."

Ayas tertawa kecil. Dia bertemu Tante Nilam dua tahun lalu. Jangan berharap Nara membawanya ke Jogja, dan memperkenalkannya secara resmi sebagai kekasih kepada keluarganya. Mungkin itu hal terakhir yang bisa dilakukan seorang Nara.

"Siapa ya?"

Itu adalah pertanyaan pertama yang dia berikan saat bertemu Tante Nilam di apartemen Nara dua tahun lalu. Tangannya dipenuhi kantong-kantong belanjaan berisi makanan dan sayur-sayuran segar. Dia tahu Nara hanya mengisi kulkasnya dengan kaleng-kaleng bir dan makanan instan. Sebenarnya Nara jago memasak, tapi kekasihnya itu terlalu malas untuk belanja ke pasar. Jadi, demi Nara hidup sehat, Ayas sering berperan menjadi asisten rumah tangga yang belanja ini itu untuk mengisi kulkas Nara. Padahal di rumahnya sendiri, Ayas tidak pernah melakukan ini.

Tanpa memencet bel, karena sudah punya kunci apartemen Nara, Ayas langsung masuk saja dan menemukan seorang perempuan yang kira-kira berusia setengah abad. Belanjaan di tangan kanan, dan kunci apartemen di tangan kiri membuat Ayas kebingungan saat perempuan itu bertanya-tanya siapa dirinya. Nara datang tak lama kemudian. Mungkin karena tidak melihat ada kemungkinan jawaban lain, Nara mengakui bahwa mereka sepasang kekasih. Dan begitulah perkenalan antara Ayas dengan ibu dari pacarnya. Sama sekali jauh dari kata berkesan. Apalagi pertemuan keluarga nan formal yang selalu Ayas bayangkan selama ini.

Tante Nilam terlihat senang bukan kepalang saat tahu bahwa putra sulungnya punya pacar. Apalagi saat tahu bahwa hubungan mereka sudah memasuki tahun kedua. Mengabaikan Nara yang menjawab ogah-ogahan interogasi ibunya, Ayas menjawab semua pertanyaan itu dengan hati berdebar. Dia sedikit kesal karena Nara membuatnya berada dalam situasi yang seharusnya bisa dia persiapkan matang-matang seperti di TV. Bukan hanya dengan memakai celana pendek dan kaus oblong seperti itu.

Namun, agaknya Tante Nilam tidak mempermasalahkan itu semua. Tante Nilam terlalu bahagia karena anak sulungnya terbukti masih suka perempuan. Kehidupan Nara sebagai pekerja kreatif yang tinggal di kota metropolitan terkadang membuat ibunya gelisah. Banyak hal dan pemikiran aneh di kota besar, yang terkadang tak masuk di akal orang desa seperti beliau. Menghadapi anaknya yang sukses di kota besar, modern, dan hidup bebas, membuat Tante Nilam bahagia sekaligus ketar-ketir. Melihat Ayas di apartemen Nara, membuat Tante Nilam merasa pernikahan anaknya sudah di depan mata.

Sayang Nara bukan Tante Nilam. Dulu Ayas sering membayangkan dirinya menikah dengan Nara. Dengan konsep adat jawa, dia akan memakai kebaya putih dan kain jarit. Lalu rambutnya akan disanggul dan dahinya diberi paes. Untaian bunga melati terjulur dari sanggul ke pundaknya. Sementara Nara memakai beskap dengan jarit dan keris di pinggang. Lalu mereka akan melakukan serangkaian ritual pernikahan adat Jawa, yang entah mengapa terlihat begitu menarik di mata Ayas. Lalu mereka akan mengarungi hidup berdua sebagai keluarga kecil yang bahagia.

Itu dulu. Sekarang dia sudah bosan membayangkan hal yang sama sejak usia dua puluh tiga, setahun setelah lulus kuliah sekaligus setahun hubungannya dengan Nara. Dia ingin melepas masa lajang di usia 25. Bila rencananya menjadi kenyataan, seharusnya dia menikah tahun ini. Sayangnya, yang dia cintai itu justru pria menyebalkan yang tidak pernah memikirkan pernikahan meski usianya sudah 31 tahun.

Berbagai cara sudah Ayas tempuh untuk membuat Nara melamarnya. Dia sudah melakukan saran salah seorang temannya yang menyuruhnya menuntut ketegasan Nara: nikahi aku atau kita putus. Dia mengatakan hal itu pada Nara, tapi pria itu hanya mengusap rambutnya dan berkata: kamu ini lucu. Sebelum akhirnya tertawa lebar. Lamaran yang diharapkan tidak datang juga. Namun, Ayas juga tidak pernah bisa meninggalkan Nara.

"Udah kamu siap-siap ke kantor aja, Yas. Biar Tante yang jagain Nara. Atau kalau masih ada waktu, kamu istirahat dulu," kata Tante Nilam sebelum meninggalkannya untuk masuk ke ruang rawat Nara.

Sampai lima menit setelah Tante Nilam masuk, Ayas masih berdiam di tempatnya. Matanya menatap lurus ke ujung bunga kamboja yang menghasi taman di depannya. Selama ini dia selalu bertanya-tanya mengapa Nara tidak kunjung melamarnya. Apakah Nara tidak menganggap hubungan mereka serius? Apakah Nara memang tidak pernah berniat menjadikannya istri? Apakah Nara memang hanya berniat untuk bersenang-senang sejak awal? Mau sampai kapan karena ini sudah empat tahun? Hari ini, Ayas merasa mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

Apakah perempuan bernama Raisa itu yang bikin kamu nggak segera melamar aku, Nara?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Save Our Story-BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya