Comscore Tracker

[NOVEL] Sweetheart of Nobody - BAB 3

Penulis : Malashantii

3. Ayolah, Kapan Lagi?

----

Hari ini, jadwal syutingku jatuh agak siang. Jadi aku bisa pergi ke gym yang ada di lantai bawah. Sesuatu yang nggak bisa kulakukan jika aku harus berangkat ke lokasi subuh-subuh. Dengan jam kerja yang sering bisa disebut nggak manusiawi, menyempatkan diri sekadar berolahraga saja jadi hal yang susah banget dilakukan.

Padahal sebagai cewek yang cari makan dari jualan diri, menjaga penampilan selalu oke itu harga mati.

Ketika kembali ke apartemen, Leta sudah duduk manis di meja pantry tengah melahap bubur ayam. Dia menunjuk satu porsi yang masih utuh, memintaku bergabung. Setelah melepaskan sepatu, aku pun ikut duduk di sebelahnya.

"Lo memang nggak nginap di sini semalam?" tanyaku sambil menyendok sesuap.

Kemarin syuting selesai sekitar pukul setengah dua belas malam. Sesampai di apartemen aku langsung ambruk saking capeknya. Seinhatku, aku nggak melihat Leta semalam.

Dia mengangguk. "Iya, gue pulang."

"Tumben," balasku. "Ada acara spesial?"

"Nggak ada."

"Mama sama papa pulang ya?" tebakku. Karena nggak biasanya, alias jarang banget Leta pulang ke rumahnya. Sehari-harinya dia lebih suka tidur berdesakan denganku di sini.

Dia nggak menjawab. Tapi mukanya perlahan berubah cemberut. Dia juga mengunyah bubur ayamnya jadi nggak sesemangat tadi.

Aku ingin bertanya lagi, tapi pada saat itu ponselnya berdering. Entahlah siapa yang menelepon, setelah beberapa detik menyimak lawan bicaranya di seberang, mukanya berubah jadi tambah kesal. Sesekali kulirik Leta yang cemberut di antara kesibukanku mengunyah bubur. Hm... kecap asinnya terlalu banyak.

"Udah. Nggak usah. Aku sibuk. Kamu juga sibuk. Paham kok. Bye!"

Dan Leta langsung memutus sambungan telepon.

Dih!
Jutek amat.

Kutelan suapan terakhirku, setelah meneguk air aku pun beranjak membereskan bekas makanku. Sudah waktunya bersiap-siap ke lokasi.

Setelah aku selesai mandi dan kembali ke meja pantry, Leta masih mengaduk-aduk bubur walau kelihatannya nggak ada niatan untuk memakannya. Duh, benci banget kalau dia sudah begini.

"Buburnya lo makan nggak sih, Nyet?! Jangan diaduk-aduk melulu dong. Jijik tau!" protesku.

Bubur yang diaduk-aduk memang kelihatan seperti bekas muntahan.

Leta nggak menyahut. Wajahnya masih saja kelihatan kusut. Masih memakai bathrobe, aku kembali duduk di sebelahnya dan memulai ritual perawatan kulitku sebelum berangkat syuting.

Leta menyendok buburnya pelan dan masih tanpa minat.

"Siapa sih yang telepon barusan?" selidikku. Jengkel melihatnya cemberut nggak jelas begitu.

"Lex."

Oh. Nggak heran.
Tapi lebih baik aku nggak kepo dan bertanya macam-macam. Kulirik jam di dinding atas meja pantry.

"Kalau gitu, gue siap-siap dulu. Lo ke sini karena mau nge-drop gue ke lokasi kan?"

Leta mengangguk cepat. Masih cemberut kusut, ya Tuhan...

"Omong-omong, gimana packing dan tiket ke Marakesh? Udah beres?" tanyaku ketika kami mulai meluncur meninggalkan basement parkir apartemen.

"Belum." Jawabnya pendek.

"Kok belum sih, bukannya lo mau berangkat lusa?"

"Kontrak baru lo sama Pak Rico belum beres, mana bisa gue tinggal liburan?"

Aku pun mengerjap bingung dengan alasan nggak terduga ini. "Lah, kok jadi gue sih yang dijadiin alasan? Kalau lo mau liburan, ya sana pergi. Lagian nih ya, gue udah bilang sama Pak Rico. Dia setuju, dan bahkan kemarin mereka sudah berhasil menemukan siapa yang bakalan menggantikan gue di sinetron itu."

Alis Leta berkerut menyimak rentetan kalimatku.

"Nyet, lo beneran quit?" tanyanya nggak percaya.

Aku mengangguk.

"Serius nih lo? Beneran udah nggak butuh duit lagi?"

Suaranya naik dua oktaf. Dia menatapku sengit. Membuatku merasa jengah.

"Ya butuh, lah! Tapi kan udah gue bilang, gue capek."

"Dih, lo tuh beneran kayak anak kecil. Jangan bilang kalau ini masih gara-gara kejadian di dekat rumahnya Mas Komar itu?"

Aku nggak menjawab. Karena memang bukan hal itu semata yang jadi sebabnya. Beberapa kali Leta melirikku jengkel sembari mengemudi, tapi aku pura-pura menyibukkan diri dengan make up dasar dan siaran radio pagi. Wajah kusutnya sudah cukup membuatku sebal. Aku nggak ingin mengawali hari ini dengan memperpanjang satu perdebatan dengannya. It gonna ruin my whole day. Kami nggak bicara lagi sampai akhirnya tiba di lokasi.

Terkadang Leta menungguiku, terkadang dia langsung pergi. Hari ini, dia pilih duduk-duduk di ruang make up sambil ngobrol dengan Mas Randy yang tengah meladeni Medina. Dengan aktris yang satu itu, pemilihan satu kostum saja terkadang bisa makan waktu berjam-jam. Agak ribet memang orangnya. Tapi karena dia pemeran utama, semua kru di lokasi harus memaklumi perangainya.

Sembari menunggu giliran take, kuambil bundelan script yang tadi diberikan Nita. Ketika membacanya, dahiku seketika berkerut dalam. Ini script baru. Dan kemudian aku teringat percakapanku dengan Pak Rico, Mas Norman, dan Nita kemarin.

Beberapa meter jauhnya dari tempatku duduk, di salah satu sudut garasi Nita tengah ngobrol manja dengan Rofik. Kalau diperhatikan baik-baik, sepertinya wajah Nita agak pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya juga kelihatan jauh lebih tebal dari kemarin. Bisa jadi semalam dia lembur untuk ngebut menyelesaikan script baru ini. Wow, aku salut juga, sih. Dia pasti capek.

Tapi wajahnya kelihatan happy banget sewaktu bergenit-genit malu-malu dengan Rofik.

Kembali ke script di tangan, setidaknya aku bisa bernapas lega karena Nita mau agak berbaik hati pada Mercy di dua episode terakhir yang kumainkan di sini. Nita nggak menulis yang aneh-aneh, dia hanya menulis Mercy akan segera terbang ke Seoul untuk mempermak total wajahnya karena masih sangat berhasrat mendapatkan cinta Dimas. Not bad lah. Barangkali Nita terinspirasi dari film "Face Off".

Karena harus cepat mendalami dan menghafalkan script baru dalam waktu singkat, aku segera lupa pada wajah cemberut Leta. Sulit memang, tapi kami-kami ini sudah terbiasa. Ini adalah skill yang secara alami akan dimiliki pemain sinetron yang sudah pernah stripping ratusan episode.

Akhirnya Leta menghampiriku ketika kami brrka makan siang. Dia bahkan ikut meminta jatah nasi kotakan.

"Ini syuting episode terakhir lo di sini?" tanyanya.

"Dua." Aku mengoreksi.

"Dan setelah ini, lo mau ngapain?" tanyanya membuka topik yang belum kami selesaikan tadi pagi.

"Lo nerima tawaran FTV, kan? Gue ambil itu aja."

"Tapi duitnya FTV nggak sebanyak andai lo stripping, Nyet."

"Gue tahu, tapi seenggaknya kan gue tetap kerja dan masih bisa nabung lagi. Serius, Nyet, gue beneran jenuh main stripping. Read my lips, ya. Gue. Capek."

"Lo baru boleh bilang begitu kalau saldo rekening lo udah aman." Balasnya sengit.

"Kok, nyolot sih lo? Rekening gue ya gue sendiri yang menentukan kapan aman atau enggaknya!"

"Coba deh nanti lo hitung sendiri," Leta mengibaskan tangan dan mendengus tak sabar. "Tabungan elo ditambah honor yang lo dapat dari sinetron ini baru cukup buat nutup semua utang lo ke gue. Setelah itu, apa? Elo nggak mikir ya gimana bayar cicilan apartemen? Atau afford cost living dan semua treatment yang lo jalani selama ini. Kalau nggak kerja, lo mau hidup kayak gimana? Hidup sederhana, seadanya? Gue nggak yakin lo bisa." Cerocosnya pajang lebar.

"Nyet, ssstt!"

Aku menoleh ke sekeliling, memastikan nggak ada yang menguping pembicaraan kami. Leta seperti baru tersadar, dan kembali menurunkan volume suaranya.

"Ingat perjanjian awal kita dulu ya. Teman ya teman, tapi utang tetap saja utang." Bisiknya lirih tapi tajam.

Duh.

"Selagi ada kesempatan, kenapa nggak diambil? Kerja keras dulu, Jul. Kalau tabungan lo udah aman, ya gue sih terserah elonya mau ngapain."

"Dan lo tahu beneran nggak artinya kerja keras itu kayak apa?" selaku tajam. Jujur saja, rasanya moodku drop seketika ketika setelah dia mengungkit-ungkit masalah itu.

Seketika dia berubah canggung. "Gue cuman pengin memastikan lo bener-bener aman secara finansial ketika kesempatan untuk itu masih terbuka lebar."

"Tapi gue kan juga punya batasan. Dan saat ini gue pengin break sebentar aja. Break, Nyet. Gue nggak benar-benar berhenti juga. Ngerti nggak sih?"

Leta terdiam mendengar kalimat ketusku.

"Tapi beneran, Jul, FTV ini duitnya nggak seberapa dibanding... "

"Gue ogah stripping lagi!"

"Gimana dengan penawaran dari Arcade?" tanyanya. Melihatku bergeming, dia pun melanjutkan. "Kapan hari itu Mas Azwar sendiri yang menemui gue, dan dia menjelaskan mau dibikin seperti apa drama ini nanti. Cuman dua puluh enam episode, Jul. Dan lo tahu sendiri reputasi Arcade, kan?"

Aku masih nggak menanggapi.

"Dua puluh enam episode aja, Jul," Leta mengulangi. "Gue belum bilang ini ke elo, tapi lo pasti kaget kalau tahu berapa honor yang mereka tawarkan."

"Berapa memangnya?" tanyaku tak acuh.

Leta menyebutkan sejumlah angka yang kontan membuatku bersiul. Tiga kali lipat dari yang selama ini kuterima. Itu jumlah yang nggak bisa dibilang kecil.

"Kapan lagi datang kesempatan semacam ini?" tanyanya.

Yeah, semakin besar honor yang kuterima makin besar juga fee dia sebagai manajer.

Aku masih menggeleng. Leta mulai terlihat kesal. "Kalau lo mau, lo kan juga bisa mewujudkan salah satu impian lo sejak lama, Nyet!"

Aku menyipit kepadanya. "Impian apa?"

"Satu frame sama Julian?"

Oh, ini lagi.

Kuembuskan napas kesal. "Justru itu. Makanya gue nggak mau."

"Justru apa yang bikin lo nggak mau, hah?"

"Gue nggak mau satu frame sama Julian."

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Sweetheart of Nobody - BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya