Comscore Tracker

[NOVEL] The Journalist-BAB 5

Penulis: Mita Vacariani

Ben's Radar

 

"Kayaknya memang harus kamu Ben yang telepon Nadine baru dia mau pulang."

Nadine masih berusaha mencerna situasi di hadapannya ini. Ben ada di rumahnya, terlihat akrab dengan Teddy dan sekarang mereka dengan terang-terangan membicarakan Nadine seolah dirinya tidak hadir di situ.

"Ya ampun, memangnya Nadine sudah nggak pulang berapa lama, Om?"

"Lumayan lama, ya?" Teddy memiringkan kepala berusaha mengingat. "Dulu sih waktu kuliah masih mending, setiap weekend biasanya pulang. Yah, biar pun alasannya karena kangen masakannya Mbok Sum, ya nggak apa-apa lah, yang penting masih ingat pulang. Sekarang boro-boro ingat pulang, ingat makan sama mandi saja sudah syukur."

Ben tertawa sopan menanggapi cerita Teddy barusan. "Segitunya ya, Om?"

"Iyalah, jam kerjanya nggak jelas, hari liburnya juga. Padahal kalau dia mau, Om kenal beberapa jajaran direksi kantornya. Dia kan maunya jadi news anchor, bisalah diupayakan supaya nggak harus susah-susah jadi reporter segala."

Ben melirik Nadine sekilas. Dia tahu perempuan yang duduk di sebelahnya ini sedang berusaha keras menahan diri untuk tidak membantah perkataan ayahnya. Dengan cepat Ben berusaha menetralkan keadaan. "Tapi saya yakin Nadine maunya mulai dari nol, ya kan, Nad?"

"Om sih maunya dia balik kerja sesuai jurusannya. Nadine ini kan lulusan hukum, bisa sekolah lagi jadi pengacara atau notaris, kalau dia mau. Lebih baik lagi kalau jadi akademisi saja."

"Jadi Nadine sudah lama tinggal sendiri di apartemen ya, Om?" Ben berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ya sejak kuliah itu sudah tinggal sendiri. Dulu sih masih kost dekat kampusnya daerah Depok, baru setelah kerja pindah ke apartemen di Sudirman, biar lebih dekat ke mana-mana katanya."

Teddy menyeruput teh yang disajikan oleh Mbok Sum, kemudian berkata lagi, "Jujur ya, sampai sekarang Om masih khawatir membiarkan Nadine tinggal sendiri. Tapi ya gimana, anaknya keras kepala, sih."

"Ini sampai kapan, ya ngomongin aku di depan mukaku sendiri?" protes Nadine.

"Mendingan ngomongin kamu pas ada orangnya daripada ngomongin kamu di belakang, kan?" timpal Ben.

Nadine hanya bisa menatap Ben kesal dan kembali bungkam.

"Tadi saya kirim mobil sama sopir baru ditolak mentah-mentah. Mobil di rumah banyak yang nganggur tapi anaknya masih betah desak-desakan di MRT. Apa kata orang coba, kesannya saya yang nggak perhatian sama anak sendiri."

"Iya, Nad. Aku pikir Om Teddy ada benarnya. Kalau kamu nggak mau pakai sopir, bawa mobil sendiri saja. Pasti akan lebih praktis kalau memang kamu harus bertemu narasumber atau liputan ketimbang nunggu mobil kantor."

Nadine menarik napas panjang menjaga kesabarannya. Baru saja dia akan membantah Ben, dengan cepat laki-laki itu sudah kembali bersuara. "Tapi kalau misalnya lebih nyaman seperti sekarang ini, nggak apa-apa juga, Om. Saya kan jadi punya alasan untuk antar jemput Nadine."

Teddy dan Ben tertawa bersamaan seolah baru saja mendengar lelucon yang dikeluarkan seorang standup comedian.

"Gaya kamu, Ben. Memangnya kamu sendiri kurang kerjaan apa, sampai siap sedia antar jemput Nadine begitu?"

"Apa sih yang nggak buat Nadine, Om?"

Ben dan Teddy kembali tertawa renyah. Kali ini Nadine hanya bisa menelan kekesalannya dan pasrah menjadi bahan tertawaan di rumahnya sendiri. Dan lagi-lagi pelakunya utamanya adalah Ben.

***

"Pulangnya bareng aku ya, Nad."

Selepas makan malam, Teddy langsung pamit untuk beristirahat. Kini tinggal Ben dan Nadine di ruang tamu.

"Nggak usah, Ben."

"Ya udah kalau gitu aku yang nebeng mobil baru yang dikasih Papa kamu."

"Hah?"

Ben selalu punya cara untuk membuat Nadine akhirnya menurut tanpa terkesan memaksa. Mungkin hal itu memang salah satu bakat terpendam yang laki-laki itu miliki.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Kira-kira sudah berapa banyak wanita yang luluh oleh pesonanya, ya? batin Nadine dalam hati.

"Pinjam HP kamu, Nad." Ben menyodorkan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang kemudi. Mereka kini duduk bersebelahan di mobil Ben dalam perjalanan menuju apartemen Nadine.

"Buat apa?"

"Pinjam sebentar, boleh?"

Nadine menatap Ben bingung tapi akhirnya diserahkan ponselnya ke tangan Ben dengan penuh keraguan. "Awas kalau kamu macem-macem."

Setelah sampai di lampu merah, Ben mengotak-atik ponsel Nadine tanpa banyak suara kemudian mengembalikannya.

Nadine memperhatikan ponselnya, memeriksa aplikasi WhatsApp dan aplikasi media sosial lainnya tapi tidak menemukan kejanggalan apa pun. Dibukanya galeri foto, khawatir ada foto-foto yang kurang pantas dan dilihat Ben, untungnya semua aman.

"Kamu ngapain sih?"

"Nggak ngapa-ngapain kok, cuma melakukan sesuatu yang harus aku lakukan saja."

Nadine menatap Ben tajam menuntut penjelasan lebih.

"Curigaan banget kamu, Nad."

"Setelah tiba-tiba kamu muncul di rumah aku, ngobrol akrab sama Papa dan bikin konspirasi supaya aku nggak nolak mobil pemberian Papa, wajar dong kalau aku curiga. Jangan-jangan kamu masukin aplikasi buat menyadap pembicaraan aku atau melacak posisi aku ada di mana, ya?"

Ben spontan tertawa mendengarkan uraian panjang Nadine barusan. "Astaga, Nad, kamu ini kebanyakan nonton film detektif."

"Orang kayak kamu ini memang pantasnya dicurigai."

"Eh, tapi aku malah jadi kepikiran beneran deh untuk masang aplikasi kayak gitu di ponsel kamu," sambung Ben di sela-sela tawanya. "Supaya aku atau Papa kamu nggak khawatir kalau kamu ke mana-mana."

"Nggak usah aneh-aneh, dan nggak usah merasa sepihak sama Papa."

"Aku bukan merasa, Nad, tapi aku yakin memang sepihak dengan Papa kamu," ujar Ben lagi dengan mata yang fokus menghadap jalan. "Aku memihak Papa kamu dalam pencalonan kali ini dan aku rasa Papa kamu juga memihak aku untuk mendekatimu."

Nadine terdiam beberapa saat. Ben dan kepercayaan dirinya yang selalu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. "Gila, kepedean banget sih jadi orang."

Tepat ketika mobil mereka sampai di depan lobi apartemen, Nadine langsung membuka pintu mobil.

"Terima kasih untuk tumpangannya."

Dengan cepat Nadine berjalan dan meninggalkan Ben tanpa memberinya kesempatan bicara lagi. Namun, teriakan Ben berhasil membuatnya berbalik.

"Nad, aku serius sama omongan aku barusan. Jangan menghindari aku lagi, ya?"

Nadine mempercepat langkahnya. Dia tahu seharusnya tidak berurusan lagi dengan laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu. Namun, kini Ben seolah memasang radar sehingga selalu muncul di sekitarnya dengan tidak terduga.

Benar saja, belum juga Nadine sampai di unit apartemennya, sebuah pesan WhatsApp masuk di ponselnya.

Ben Sayang: Sekarang kamu nggak punya alasan untuk nggak angkat telepon aku karena nomornya tidak dikenal. Good night, Nadine. Jangan tidur malam-malam, ya dan jangan lupa mimpiin aku.

Nadine bengong membaca pesan itu terutama dengan nama yang muncul di atasnya. Jadi ini yang Ben lakukan dengan ponselnya tadi, menyimpan nomornya dengan nama menjijikkan seperti ini. Detik itu juga rasanya Nadine ingin membanting ponselnya dan mengganti nomor baru.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] The Journalist-BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya