7 Fakta Khanduri Apam, Tradisi Perayaan Isra Mikraj di Aceh

Bulan Rajab dalam perhitungan kalender Hijriyah merupakan salah satu bulan penuh keutamaan dalam Islam. Demikian pula bagi masyarakat Aceh. Bulan Rajab juga dikenal sebagai bulan apam.
Bulan apam berkaitan dengan tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun, Khanduri Apam atau Tet Apam. Tradisi ini berlangsung selama bulan Rajab. Ada pula yang merayakannya bertepatan dengan Isra Mikraj.
Seperti namanya, tradisi Khanduri Apam juga berkaitan erat dengan kue apam lho. Mau tahu lebih lanjut tentang tradisi Khanduri Apam di Aceh? Yuk, simak ulasannya berikut ini!
1. Konon berasal dari kisah seorang sufi bernama Abdullah Rajab

Sejumlah kisah beredar di tengah masyarakat Aceh, salah satunya Abdullah Rajab yang berkaitan dengan Khanduri Apam. Konon, Abdullah Rajab, seorang sufi miskin yang taat di Makkah. Saking miskinnya, hingga tidak ada sebiji kurma pun yang disedekahkan untuk kenduri selamatan atas kematiannya.
Apalagi hidupnya yang sebatangkara, membuat masyarakat di sekitarnya merasa iba. Sehingga, masyarakat mengadakan sedikit kenduri di rumah masing-masing. Mereka memasak untuk disedekahkan kepada orang lain.
Namun, ada pula yang mengisahkan bahwa apam sebagai pengganti roti untuk memuliakan orang berpuasa saat bulan Rajab. Ya, Rajab menjadi salah satu bulan mulia yang dianjurkan untuk berpuasa dan meningkatkan ibadah. Jika tidak sanggup berpuasa, maka dapat menyediakan makanan berbuka puasa untuk orang lain supaya sama-sama mendapatkan pahala dan kebaikan.
2. Khanduri Apam sebagai sarana untuk bersedekah

Meski kisah tentang asal mula Khanduri Apam beragam, tapi intinya sama yakni bersedekah. Khanduri Apam berupa tradisi menyantap kue apam secara bersama-sama di musala atau masjid. Selain itu, sejumlah warga juga membagikan kue apam kepada tetangga di sekitarnya.
Tradisi ini juga memupuk nilai kebersamaan di tengah masyarakat saat proses pembuatannya maupun menyantapnya bersama. Sehingga, terciptalah kerukunan di tengah masyarakat.
3. Berkaitan pula dengan orang yang sudah meninggal

Selain untuk bersedekah, Khanduri Apam juga memiliki nilai mengenang orang meninggal. Dengan berkhanduri untuk mayit, supaya diampuni segala dosa-dosanya. Sayangnya, tradisi Khanduri Apam ketika ada yang meninggal dunia sudah jarang dilakukan.
Kalau di Jawa ada peringatan 7 harian, 40 harian, 100 harian, dan seterusnya, demikian pula dengan Aceh. Beberapa desa di Kabupaten Pidie masih menyuguhkan kue apam saat peringatan 7, 40, 100, dan 1000 hari orang meninggal.
4. Dari Kabupaten Pidie meluas ke daerah lain di Aceh

Khanduri Apam yang juga disebut Toet Apam telah lama mengakar pada tradisi masyarakat Pidie Aceh. Tradisi tersebut dilakukan secara turun-temurun untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ada yang merayakannya bertepatan dengan Isra Mikraj pada bulan Rajab, tapi ada pula yang merayakannya saat bulan Sya'ban.
Tradisi Khanduri Apam kemudian meluas ke sejumlah daerah di Aceh dan masyarakat Melayu. Hal ini juga dipengaruhi oleh masyarakat Pidie yang merantau namun tetap melakukan tradisi tersebut di tanah rantau. Kamu pun bisa menemukan tradisi ini di berbagai daerah di Aceh, termasuk Sabang.
5. Kue apam dibuat secara tradisional dan melibatkan masyarakat

Seperti namanya, apam menjadi hidangan utama saat perayaan Khanduri Apam. Proses pembuatannya kerap melibatkan masyarakat dan dibuat secara tradisional, mirip seperti pembuatan kue serabi yang masih menggunakan pinggan tanah.
Sedangkan kue apam atau kue apem terbuat dari campuran tepung beras dan santan yang dimasak menggunakan api kecil atau sedang. Kamu dapat menyantapnya langsung maupun menambahkan kuah tuhe.
Kue apam bersarang paling mantap dimakan dengan kuah tuhe, kuah santan yang dicampur dengan pisang atau nangka. Kemudian, diberi rasa manis dari gula pasir. Perpaduan rasa manis dan gurihnya bikin nagih.
6. Sempat digelar Festival Toet Apam untuk melestarikan tradisi dan kuliner

Salah satu upaya untuk melestarikan tradisi Khanduri Apam, yakni menggelar festival. Masyarakat Gampong Aneuk Laot Sabang menggelar Festival Toet Apam (bakar apam). Festival ini berupa membuat atau membakar dan makan apam bersama.
Selain meletarikan tradisi Khanduri Apam, juga turut menjaga kuliner tradisional Nusantara. Kegiatan ini juga menumbuhkan nilai-nilai sosial dalam masyarakat, seperti gotong royong, kebersamaan, dan saling berbagi. Di sisi lain, festival ini dapat menarik perhatian wisatawan dan memberikan nilai ekonomi, jika dikemas dengan baik.
7. Toet Apam masuk dalam kurikulum sekolah di Pidie lho!

Satu lagi nih fakta tentang Khanduri Apam, ternyata bukan sebatas tradisi warisan leluhur. Khanduri Apam masuk dalam kurikulum pelajaran Prakarya di Pidie. Tujuannya untuk melestarikan dan memperkenalkan kepada siswa tentang teut apam.
Seperti yang kamu tahu, makanan kekinian sudah menjamur di berbagai daerah. Kamu gak mau kan kehilangan kuliner tradisional yang sudah diwariskan secara turun temurun tergeser begitu saja? Para siswa juga dapat merasakan serunya membuat apam bersama dan lezatnya hidangan ini.
Khanduri Apam merupakan tradisi perayaan Isra Mikraj yang berusaha terus dilestarikan oleh masyarakat Aceh. Mereka tetap menggelar Khanduri Apam saat bulan Rajab, menggelar festival, hingga menerapkannya dalam kurikulum di sekolah.
Yuk, lestarikan tradisi dan kuliner Nusantara!


















