ilustrasi menu burger (magnific.com/magnific)
Kalau kamu tetap suka burger, gak perlu langsung menghapusnya dari daftar makanan. Palinski-Wade menyarankan agar burger gak otomatis dianggap sebagai makanan gak sehat, melainkan dilihat dari bagaimana makanan tersebut dibangun. Salah satu caranya adalah mengurangi bahan tinggi lemak dan menggantinya dengan lebih banyak sayuran. Selada, tomat, dan bawang bisa memberikan volume, serat, serta tambahan nutrisi tanpa menambah kalori sebanyak beberapa topping lainnya.
Pilihan pendamping juga bisa membuat perbedaan. Alih-alih selalu memasangkan burger dengan kentang goreng, kamu bisa memilih salad atau buah untuk mendapatkan profil nutrisi yang berbeda. Roti gandum utuh juga bisa menjadi pilihan, atau kamu dapat menggunakan selada sebagai pembungkus jika memang sesuai selera. Bahkan, jamur bisa dicampurkan ke dalam patty untuk mengurangi jumlah daging sekaligus membantu menurunkan asupan kalori.
Pada akhirnya, burger gak harus dipandang sebagai makanan yang harus dihindari sepenuhnya. Daging dan sayuran di dalamnya tetap menyediakan sejumlah nutrisi penting, tapi tambahan seperti keju, mayo, saus, minyak, roti besar, serta kentang goreng bisa mengubah profil nutrisinya secara signifikan.
Kalau ingin lebih seimbang, kamu bisa mengatur ukuran patty, memilih daging yang lebih rendah lemak, memperbanyak sayuran, dan mengganti pendampingnya. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati burger tanpa harus menganggapnya sebagai makanan yang otomatis bertentangan dengan pola makan sehat.