Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Membedakan Makanan Halal dan Haram di Korea Selatan
ilustrasi pasar di Seoul, Korea Selatan (unsplash.com/(っ◔◡◔)っ Clement 🇰🇷)
  • Artikel membahas lima cara praktis mengenali makanan halal di Korea Selatan, mulai dari mencari logo Halal Korea (KMF) hingga memahami istilah bahan makanan dalam bahasa lokal.
  • Pembaca diajak lebih teliti terhadap kandungan seperti daging babi, minyak babi, atau alkohol pada saus, serta disarankan bertanya langsung ke penjual untuk memastikan kehalalan makanan.
  • Ditekankan pula penggunaan aplikasi halal guide sebagai solusi modern bagi wisatawan muslim agar mudah menemukan tempat makan aman dan terverifikasi selama berwisata di Seoul.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lagi asyik jalan-jalan di Myeongdong, Korea Selatan, tiba-tiba hidung kamu mencium aroma panggangan yang wangi. Wah, rasanya mau langsung beli semua tteokbokki dan dakkochi yang ada di depan mata, gak, sih?

Namun, tiba-tiba kamu panik karena sadar kamu gak tahu makanan tersebut halal atau haram. Lantas, bagaimana  cara membedakan makanan halal dan haram saat mencoba street food di Seoul, Korea Selatan?

Bayangkan kalau kamu sudah terlanjur makan banyak, ternyata baru tahu kalau makanan tersebut mengandung minyak babi atau alkohol, pasti langsung merasa bersalah dan vibes liburan jadi berantakan. Jangan sampai momen traveling impian kamu berubah jadi ajang overthinking cuma gara-gara salah pilih jajanan di pinggir jalan.

Yuk, ketahui beberapa cara membedakan makanan halal dan haram di Korea Selatan melalui ulasan berikut ini. Dengan begitu, kamu gak bakal bingung lagi, deh!

1. Cari logo Halal Korea (KMF) di booth jualan

ilustrasi logo Korea Halal (dok. Korea Halal

Gak semua pedagang kaki lima punya sertifikat, tetapi beberapa stan yang memang targetnya turis muslim biasanya bakal pajang logo KMF. Ini adalah cara paling aman dan gak bikin kamu pusing buat mengecek bahan satu-satu di tengah keramaian.

Kamu bisa langsung fokus mencari simbol bulan sabit hijau yang biasanya ditempel di bagian depan gerobak atau etalase jualan. Tetap waspada tapi santai, karena logo ini biasanya valid dan bikin pengalaman kulineran kamu makin tenang dan nyaman di hati.

2. Hafalkan keyword "Dwaejigogi" biar gak kecolongan

ilustrasi dwaejigogi atau daging babi (commons.wikimedia.org/lazy fri13th)

Istilah "Gogi" itu artinya daging, tapi kamu harus jeli sama imbuhannya, karena gak semua daging itu sapi atau ayam yang bisa kita konsumsi. Kalau kamu dengar penjualnya bilang atau liat tulisan Dwaejigogi (돼지고기) di papan menu, mending langsung skip dan cari lapak lain, karena itu artinya daging babi. Kamu harus bener-bener teliti liat daftar menu atau papan nama makanan, ya!

Solusinya, kamu bisa cari kata Dakgogi untuk daging ayam atau Sogogi untuk daging sapi, tapi pastikan juga mereka gak pakai minyak babi buat proses masaknya. Ingat, kesalahan terbesar adalah ketika kamu asal makan tanpa bertanya bahan dasarnya apa, cuma karena tampilannya estetik dan menggoda di kamera. Lebih baik bertanya daripada menyesal.


3. Waspada dengan kandungan mirin atau alkohol di saus

ilustrasi mirin (freepix.com/jcomp)

Banyak jajanan, seperti tteokbokki atau dakgangjeong, yang sausnya pakai bumbu fermentasi atau campuran alkohol seperti mirin biar rasanya lebih mantap. Ini tantangan tersembunyi karena secara visual tampilannya menggoda banget dan kelihatan aman-aman saja di mata kamu yang lagi lapar berat.

Kamu perlu tahu kalau saus merah yang kelihatannya pedas itu sering mempunyai campuran bahan cair yang sebenarnya gak halal. Kamu bisa memilih makanan yang teknik masaknya simpel atau sausnya minimalis buat mengurangi risiko paparan bahan non-halal yang tersembunyi di balik rasa enak.

Jangan ragu buat tanya apakah ada campuran soju atau alkohol dalam bumbunya biar gak kena zonk setelah kenyang makan banyak, ya. Kalau penjualnya kelihatan bingung, kamu bisa pakai gerakan tangan atau tunjukin gambar botol minuman keras sebagai tanda "No" yang tegas.

4. Manfaatkan aplikasi halal guide

ilustrasi manfaatkan teknologi alias aplikasi halal guide (pexels.com/Samson Katt)

Zaman sekarang gak perlu ribet, tinggal unduh aplikasi khusus pencari makanan halal di Korea Selatan yang sudah banyak tersedia secara gratis di HP kamu. Aplikasi ini bakal membantumu menentukan spot makan mana yang sudah terverifikasi ramah muslim tanpa perlu drama panjang lebar di lokasi. Kamu tinggal buka aplikasi, menyalakan GPS, dan semua daftar tempat makan aman bakal muncul dalam sekejap sesuai koordinatmu.

Ini jadi lifehack buat kamu yang gak mau ribet baca tulisan Hangul yang bikin mata capek pas lagi lapar di jalanan. Tinggal klik, lihat rating dari sesama traveler, dan kamu bisa langsung meluncur ke lokasi kulineran paling hype dengan perasaan yang super tenang. Gak ada lagi cerita nyasar ke warung yang menu utamanya ternyata daging babi semua gara-gara salah baca navigasi.


5. Tanya langsung ke penjual pakai bahasa Korea simpel

ilustrasi tanya langsung ke penjual pakai jurus bahasa Korea yang simpel (pexels.com/Paul Bill)

Gak perlu minder untuk berkomunikasi sama penjual di sana meski bahasa Korea kamu masih level pemula. Kamu bisa bilang "No pork?" atau "No alcohol?" sambil nunjuk gambarnya kalau bahasa Inggris mereka agak terbatas atau susah dimengerti secara langsung. Komunikasi langsung ini sering jadi cara paling valid buat mastiin keamanan makanan yang mau kamu beli di pinggir jalan.

Biasanya mereka bakal jujur, kok, apalagi kalau mereka tahu kamu turis muslim yang emang selektif soal aturan makanan yang masuk ke tubuh. Anggap aja ini ajang buat networking tipis-tipis sambil dapat informasi kuliner yang beneran aman buat perut dan hati kamu selama di Seoul, kan?

Memahami cara membedakan makanan halal dan haram saat mencoba street food di Seoul bakal bikin perjalanan liburan kamu jauh lebih bermakna dan tenang lahir batin. Selamat berburu kuliner hits, tetap slay, dan nikmati setiap momen seru kamu di Negeri Ginseng dengan hati yang damai dan perut yang happy

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team