Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sejarah Nasi Kuning, dari Ritual Majapahit hingga Jadi Menu Sarapan

Sejarah Nasi Kuning, dari Ritual Majapahit hingga Jadi Menu Sarapan
ilustrasi nasi kuning (commons.wikimedia.org/RahmadHimawan Photography)
Share Article

Sejarah nasi kuning menjadi bagian penting dalam perkembangan budaya makan masyarakat Nusantara sejak masa kerajaan Hindu-Buddha. Terutama ketika tradisi syukuran, penghormatan leluhur, serta jamuan bangsawan mulai memakai sajian berwarna emas sebagai simbol kemakmuran dan doa kehidupan.

Catatan mengenai penggunaan nasi berwarna kuning dalam ritual Jawa Kuno terus berkembang sampai masa Islam di pesisir utara Jawa, lalu menyebar ke berbagai daerah melalui tradisi selamatan, perayaan keluarga, serta budaya tumpeng yang masih bertahan hingga sekarang. Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

1. Kerajaan Hindu-Buddha menjadikan nasi kuning sebagai simbol kemakmuran

ilustrasi nasi kuning
ilustrasi nasi kuning (vecteezy.com/ Priyo Sanyoto)

Kemunculan nasi kuning banyak dikaitkan dengan budaya kerajaan Jawa pada abad ke-8 sampai abad ke-15, terutama ketika pengaruh Hindu-Buddha berkembang kuat di Nusantara melalui Kerajaan Medang, Kediri, Singasari, dan Majapahit. Masyarakat pada masa tersebut memandang warna kuning sebagai lambang emas sehingga makanan berwarna cerah sering dipakai dalam ritual kerajaan untuk menunjukkan kemuliaan, kesejahteraan, serta harapan hidup yang makmur. Kunyit dipilih bukan hanya karena menghasilkan warna khas, melainkan juga karena rempah itu dipercaya mempunyai kekuatan spiritual yang berkaitan dengan perlindungan dan keberuntungan dalam tradisi kuno Asia Tenggara.

Bentuk kerucut pada tumpeng nasi kuning juga memiliki makna penting dalam kosmologi Jawa-Hindu. Gunung dianggap sebagai tempat suci para dewa sekaligus pusat kehidupan sehingga nasi berbentuk tumpeng dipakai sebagai simbol hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Tradisi tersebut membuat nasi kuning tidak sekadar hadir sebagai makanan pesta, tetapi menjadi bagian dari ritual penghormatan leluhur, doa panen, serta syukuran kerajaan. Kehadiran santan, serai, daun pandan, dan daun jeruk menunjukkan bahwa budaya kuliner Nusantara sejak dahulu sudah sangat kaya rempah dan aroma khas.

2. Tradisi selamatan membuat nasi kuning menyebar ke berbagai daerah

ilustrasi nasi kuning
ilustrasi nasi kuning (commons.wikimedia.org/ Candra Firmansyah)

Masuknya Islam ke Nusantara sejak abad ke-13 membawa perubahan besar dalam budaya masyarakat Jawa, tetapi tradisi nasi kuning tetap dipertahankan melalui proses akulturasi budaya. Kesultanan Demak dan Mataram Islam memakai budaya tumpengan dalam acara selamatan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas kelahiran, pernikahan, panen, hingga keselamatan keluarga. Situasi tersebut membuat nasi kuning semakin dekat dengan kehidupan masyarakat biasa karena tidak lagi terbatas pada lingkungan bangsawan kerajaan.

Perdagangan antar pulau juga berperan besar dalam penyebaran nasi kuning ke berbagai wilayah Indonesia. Bali mengenal nasi kuning sebagai sajian penting dalam Hari Raya Kuningan, sedangkan masyarakat Manado mengembangkan nasi kuning dengan sambal roa dan ikan cakalang sebagai pelengkap khas daerah pesisir. Kalimantan Selatan mempunyai nasi kuning bercita rasa gurih untuk menu sarapan, sementara beberapa daerah Jawa tetap mempertahankan penyajian tumpeng lengkap dengan urap, telur, ayam, serta serundeng. Perbedaan itu menunjukkan bahwa nasi kuning berkembang mengikuti budaya lokal tanpa kehilangan makna utamanya sebagai simbol kesejahteraan dan rasa syukur.

3. Perubahan zaman membuat nasi kuning menjadi makanan populer

ilustrasi penjual nasi kuning
ilustrasi penjual nasi kuning (unsplash.com/Arln Memo)

Perkembangan kota-kota besar pada awal abad ke-20 membuat nasi kuning mulai dijual sebagai menu harian karena dianggap praktis, mengenyangkan, dan cocok dikonsumsi pagi hari. Pedagang nasi kuning mulai banyak ditemukan di Batavia, Surabaya, Semarang, hingga Makassar ketika masyarakat perkotaan membutuhkan makanan cepat saji sebelum bekerja. Kehadiran lauk seperti ayam goreng, telur balado, bihun, tempe orek, serta sambal membuat nasi kuning semakin populer di berbagai lapisan masyarakat.

Tradisi potong tumpeng juga terus bertahan sampai sekarang dalam acara ulang tahun, syukuran rumah baru, peresmian usaha, hingga perayaan kantor. Filosofi nasi kuning sebagai lambang doa dan harapan baik masih dipercaya banyak orang meskipun tampilannya kini lebih modern melalui jasa katering atau dekorasi kontemporer. Popularitasnya bahkan mulai dikenal wisatawan asing karena dianggap mewakili kekayaan rempah serta budaya makan masyarakat Indonesia yang penuh simbol dan nilai tradisional.

Sejarah nasi kuning menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat bertahan selama ratusan tahun karena mempunyai hubungan kuat dengan budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Perjalanan dari ritual kerajaan sampai menu sarapan modern membuat sejarah nasi kuning tetap relevan sekaligus menjadi bagian penting dari identitas kuliner Indonesia hingga saat ini.

Referensi:

"Nasi Kuning: Warisan Kuliner Nusantara yang Sarat Makna." UNIKOM. Diakses pada Mei 2026

"Gastronomy Traditional Culinary Names at Gadri Restaurant, Yogyakarta Palace Through Ethnolinguistics History and Culture." Journal of Islamic Tourism. Diakses pada Mei 2026

"Tumpeng: Cultural, historical, and nutritional analysis of Indonesia’s traditional rice dish." Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin. Diakses pada Mei 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum

Related Articles

See More

10 Makanan Olahan Daging Terbaik di Dunia 2026, Sate Kambing Nomor Dua

02 Jun 2026, 15:09 WIBFood