Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Coffee Shop Tetap Ramai meski Harga Kopi Mahal?
ilustrasi perempuan nongkrong di coffee shop (freepik.com/benzoix)
  • Coffee shop tetap ramai karena membeli kopi telah menjadi rutinitas bagi sebagian pelanggan, seperti setelah bekerja, olahraga, atau untuk memulai hari dan menjaga fokus.
  • Pelanggan membayar pengalaman lengkap, termasuk ruang ber-AC, Wi-Fi, colokan, suasana nyaman, serta tempat untuk bekerja, belajar, bertemu teman, atau meeting informal.
  • Kualitas kopi, menu khas, pilihan minuman dan makanan tambahan membuat pelanggan melihat harga sebagai nilai dari rasa, variasi, pelayanan, dan pengalaman yang ditawarkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Harga secangkir kopi di coffee shop sekarang bisa setara dengan seporsi makan siang sederhana. Bagi sebagian orang, harga tersebut mungkin terasa cukup mahal, apalagi ketika pengeluaran sehari-hari harus lebih diperhatikan.

Namun, coba lihat beberapa coffee shop di kota-kota besar. Kendati harga minumannya tidak murah, tempatnya tetap ramai, bahkan pelanggan rela antre hanya untuk mendapatkan secangkir kopi dan tempat duduk.

Kondisi ini sebenarnya menunjukkan bahwa orang datang ke coffee shop bukan hanya untuk membeli kopi. Ada pengalaman, kenyamanan, bahkan kebiasaan yang dibayar oleh pelanggan. Lantas, apa yang membuat coffee shop tetap ramai meski harga menunya tergolong mahal?

1. Minum kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas

ilustrasi minum kopi (pexels.com/Gary Barnes)

Bagi pelanggan tertentu, membeli kopi bukan lagi sekadar kegiatan untuk mendapatkan kafein. Ada orang yang terbiasa mampir ke coffee shop sepulang bekerja, setelah olahraga, atau saat sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Kebiasaan tersebut lama-lama bisa menjadi rutinitas yang sulit ditinggalkan.

Harga yang sedikit lebih mahal mungkin tidak langsung membuat pelanggan berhenti karena pengeluaran tersebut sudah dianggap sebagai bagian dari keseharian. Misalnya, seseorang mungkin merasa masih sanggup mengeluarkan Rp30 ribu untuk segelas kopi setiap beberapa hari sekali. Nilainya memang terlihat kecil ketika hanya dihitung satu kali pembelian, meskipun jika dikumpulkan selama sebulan jumlahnya tentu cukup besar.

Kopi juga sering dikaitkan dengan momen untuk memulai hari, meningkatkan fokus, atau sekadar pelengkap waktu istirahat. Oleh karena itu, pelanggan bisa saja tetap membeli kopi meski menyadari harganya semakin mahal.

2. Pelanggan sebenarnya membeli pengalaman

ilustrasi nugas sambil nongkrong di coffee shop (freepik.com/benzoix)

Kalau hanya ingin minum kopi, membuatnya sendiri di rumah tentu jauh lebih murah. Namun, pelanggan coffee shop biasanya mendapatkan lebih daripada sekadar minuman. Ada ruangan ber-AC, kursi yang nyaman, musik, Wi-Fi, colokan listrik, meja untuk bekerja, hingga suasana yang membuat orang betah berlama-lama. Semua fasilitas tersebut menjadi alasan pelanggan bersedia membayar lebih.

Coffee shop juga bisa menjadi semacam ruang ketiga, yaitu tempat yang berada di antara rumah dan kantor. Seseorang bisa datang untuk mengerjakan tugas kantor, belajar, bertemu teman, meeting informal, atau sekadar mencari suasana baru. Dalam situasi seperti ini, harga kopi tidak lagi dibandingkan dengan harga kopi yang dibuat sendiri di rumah. Pelanggan mulai membandingkannya dengan keseluruhan pengalaman yang mereka dapatkan selama berada di coffee shop.

3. Ada pelanggan yang memang mencari kualitas

ilustrasi grinder kopi manual (pexels.com/Uriel Mont)

Tidak semua orang menganggap kopi sebagai minuman biasa. Sebagian pelanggan cukup memperhatikan jenis biji kopi, asal daerahnya, metode roasting, teknik seduh, hingga kemampuan barista. Hal ini membuat kopi dengan harga lebih tinggi bisa memiliki pasar sendiri. Sama seperti orang yang bersedia membeli roti artisan atau cokelat premium, ada konsumen yang memang ingin mencoba rasa dan kualitas tertentu dari kopi.

Coffee shop juga biasanya memiliki menu yang menjadi ciri khas. Bisa berupa signature coffee, metode manual brew tertentu, atau minuman yang tidak mudah ditemukan di tempat lain. Saat pelanggan merasa kualitasnya memang berbeda, harga kopi tidak lagi menjadi masalah besar.

4. Pelanggan tidak hanya membeli kopi

ilustrasi menu coffee shop (unsplash.com/Breakslow)

Coffee shop juga makin kreatif dalam membuat menu. Selain espresso dan latte, pelanggan bisa menemukan matcha, flavored iced coffee, cold foam, minuman musiman, pastry, hingga menu brunch. Produk seperti ini memberikan pilihan bagi pelanggan yang ingin membeli sesuatu yang terasa lebih spesial. Seseorang mungkin tidak tertarik membayar mahal untuk espresso biasa, tetapi bisa saja tertarik mencoba iced latte atau pastry yang ditawarkan.

Menu tambahan juga dapat meningkatkan nilai transaksi setiap pelanggan. Jadi, coffee shop tidak hanya mengandalkan penjualan satu cangkir kopi dengan harga yang relatif murah. Dari sisi bisnis, strategi seperti ini penting karena pelanggan yang awalnya hanya membeli minuman bisa akhirnya menambah pastry atau makanan ringan. Total transaksi pun menjadi lebih besar.

Pada akhirnya, coffee shop yang bisa bertahan dengan harga yang relatif mahal biasanya memiliki alasan yang membuat pelanggan merasa ingin kembali. Kopi memang tetap menjadi produk utama, tetapi kenyamanan, kebiasaan, kualitas, lokasi, pelayanan, dan pengalaman ikut menentukan apakah pelanggan merasa harga tersebut layak dibayar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article