Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Nonton Bioskop Identik dengan Popcorn? Ini Alasannya
ilustrasi nonton bioskop sambil makan popcorn (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Popcorn sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan berasal dari varietas jagung khusus bernama Zea mays everta yang menghasilkan tekstur ringan serta renyah saat dipanaskan.
  • Awalnya bioskop menolak popcorn karena dianggap mengganggu kesan mewah, namun camilan ini tetap populer di luar gedung berkat harga murah dan proses pembuatannya yang menarik.
  • Saat masa Depresi Besar, popcorn menjadi camilan terjangkau sehingga bioskop mulai menjualnya sendiri, menjadikannya tradisi tak terpisahkan dari pengalaman menonton film hingga kini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau ngomongin pengalaman nonton film di bioskop, rasanya ada satu camilan yang hampir selalu ikut muncul di benak, apalagi kalau buka popcorn. Gak sedikit yang merasa kalau kurang lengkap menatap layar lebar tanpa camilan berbahan jagung tersebut. Namun, pernah gak sih kepikiran kenapa nonton bioskop identik dengan popcorn dibanding camilan lainnya?

Ternyata, kebiasaan ini bukan sekadar tren atau strategi pemasaran semata. Ada sejarah panjang, perubahan kondisi ekonomi, hingga alasan praktis yang membuat popcorn akhirnya menjadi teman setia para penonton bioskop di berbagai belahan dunia. Supaya gak penasaran, yuk simak ulasan selengkapnya berikut ini!

1. Sejarah kemunculan popcorn

ilustrasi popcorn (pexels.com/Kam Photos)

Dilansir dari laman BBC, jauh sebelum menjadi camilan wajib saat nonton film popcorn sudah menemani manusia sejak ribuan tahun lalu. Jagung sendiri pertama kali dibudidayakan sekitar 10.000 tahun yang lalu di wilayah Meksiko dari rumput liar bernama teosinte, yang bentuknya sangat berbeda dengan jagung modern. Menariknya, bukti fosil tongkol jagung di Peru menunjukkan bahwa manusia kuno kemungkinan sudah membuat popcorn sejak sekitar 4700 SM.

Seiring berjalannya waktu, popcorn pun berkembang menjadi varietas jagung yang dibudidayakan secara khusus agar bisa meletup dengan sempurna saat dipanaskan. Popcorn yang banyak dijual di toko maupun bioskop umumnya berasal dari varietas Zea mays everta, yang memiliki kandungan pati tinggi sehingga menghasilkan tekstur ringan dan renyah. Kini, sebagian besar produksi popcorn dunia berasal dari kawasan Corn Belt di Amerika Serikat, yang memang dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil jagung terbesar di dunia.

Popcorn bukan hanya nama camilan yang meletup saat dipanaskan, tetapi juga sebutan untuk varietas jagung khusus yang digunakan untuk membuatnya. Jenis jagung ini memiliki kandungan pati yang membuatnya dapat mengembang sempurna ketika terkena panas. Berkat karakteristik tersebut, popcorn memiliki tekstur ringan dan renyah yang disukai banyak orang.

Nah, menurut laman Britannica, jagung popcorn yang berasal dari Amerika Tengah ini mulai populer di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19 karena mudah diolah menjadi camilan. Popularitasnya semakin meningkat setelah mesin pembuat popcorn bertenaga uap portabel ditemukan pada tahun 1885 yang membuat proses pembuatannya jadi lebih praktis. Sejak saat itu, penjual popcorn mulai bermunculan di berbagai sudut jalan dan menjadi cikal bakal pedagang makanan keliling yang dikenal hingga sekarang.

2. Tarik ulur pengusaha bioskop dan penjual popcorn

ilustrasi nonton di bioskop (unsplash.com/Felipe Bustillo)

Meski sudah digemari masyarakat, popcorn ternyata sempat tidak mendapat tempat di dalam bioskop. Pada masa itu, bioskop diposisikan sebagai hiburan kelas atas dengan bangunan megah dan karpet mewah, sehingga para pemiliknya khawatir remahan serta aroma popcorn akan mengurangi kesan elegan. Apalagi, film yang diputar masih berupa film bisu dengan teks di layar, sehingga penontonnya didominasi oleh kalangan yang melek huruf dan berpendidikan.

Di luar bioskop, popularitas popcorn justru terus meningkat karena rasanya enak dan proses pembuatannya yang menghasilkan letupan demi letupan menjadi hiburan tersendiri. Selain mudah dibuat, popcorn juga dijual dengan harga yang terjangkau sehingga semakin digemari berbagai kalangan. Meski belum diizinkan masuk ke dalam bioskop, camilan ini perlahan menjadi favorit masyarakat.

3. Great depression mengubah keberadaan popcorn

ilustrasi popcorn (unsplash.com/Maiken Ingvordsen)

Popularitas popcorn melonjak pesat saat masa Depresi Besar (Great Depression) di Amerika Serikat pada 1929–1933. Saat itu, jutaan orang kehilangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Daya beli masyarakat pun turun drastis, mereka hanya mampu membeli barang-barang yang benar-benar penting atau hiburan yang harganya murah.

Di sinilah popcorn kian menarik karena hanya dengan lima sampai sepuluh sen per kantong, popcorn menjadi camilan murah yang tetap bisa dinikmati di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Melihat peluang tersebut, pemilik bioskop mulai mengizinkan penjual popcorn berjualan di depan gedung, bahkan kemudian menjualnya sendiri karena memberikan keuntungan yang besar. Popcorn pun menjadi pilihan yang pas karena praktis disantap sambil menikmati film dan disukai oleh hampir semua penonton. Sejak saat itu, hubungan antara bioskop dan popcorn semakin erat hingga akhirnya menjadi tradisi yang bertahan sampai sekarang.

Meski kini pilihan camilan di bioskop semakin beragam, popcorn tetap sulit tergantikan. Aroma khas yang tercium sejak memasuki area bioskop hingga sensasi menikmatinya di tengah tontonan seolah menciptakan suasana yang lebih menyenangkan. Inilah yang membuat kenapa nonton bioskop identik dengan popcorn bukan lagi sekadar kebiasaan, tapi jadi tradisi yang melekat selama puluhan tahun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article