Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perbedaan Api Kecil, Sedang, dan Besar dalam Memasak

ilustrasi api kompor (pexels.com/Dilyar Sultan)
ilustrasi api kompor (pexels.com/Dilyar Sultan)

Bicara soal masak-memasak, salah satu hal paling dasar tapi sering bikin bingung adalah urusan api kompor. Ada api kecil, sedang, dan besar. Tapi sebenarnya, kapan sih kita harus pakai masing-masing? Salah pilih ukuran api bisa bikin masakan gosong di luar tapi mentah di dalam atau malah jadi hambar karena bumbu gak meresap.

Bayangkan, sama-sama masak ayam goreng, tapi kalau apinya kebesaran bisa garing di luar sementara dalamnya masih merah. Sementara kalau apinya terlalu kecil, bisa-bisa minyak keburu menyerap ke ayam dan hasilnya jadi terlalu berminyak. Jadi, mengerti perbedaan fungsi api itu bukan hanya penting tapi juga bisa bikin masakanmu naik level.

1. Api kecil untuk masakan yang butuh kesabaran

ilustrasi memasak kepiting (freepik.com/ninjason1)
ilustrasi memasak kepiting (freepik.com/ninjason1)

Api kecil biasanya terlihat tenang, nyala birunya pelan dan gak bikin wajan langsung panas. Nah, api ini cocok untuk masakan yang butuh waktu lama supaya bumbunya meresap sempurna. Contoh paling gampang? Rendang, semur, atau sup. Masakan seperti ini butuh proses perlahan agar daging empuk dan bumbu menyatu. Kalau pakai api besar, hasilnya daging bisa keras, kuah cepat habis, bahkan bumbunya bisa gosong sebelum mateng.

Selain itu, api kecil juga pas banget untuk bikin karamel, melted chocolate, atau saus. Karena kalau kebesaran sedikit, bisa langsung gosong dan pahit. Intinya, api kecil itu sabar dan telaten.

2. Api sedang si serba bisa

ilustrasi memasak mie goreng (freepik.com/8photo)
ilustrasi memasak mie goreng (freepik.com/8photo)

Api sedang bisa dibilang paling aman untuk sebagian besar masakan sehari-hari. Nyala apinya cukup bikin wajan panas, tapi gak terlalu agresif sampai bikin makanan cepat gosong. Masakan yang biasanya pakai api sedang antara lain tumisan sayur, telur dadar, atau bikin nasi goreng. Kenapa? Karena api sedang bikin sayuran matang dengan tekstur pas, gak kelewat layu, tapi juga gak mentah.

Selain itu, api sedang juga pas untuk gorengan tipis-tipis seperti tempe, tahu, atau bakwan. Kalau apinya terlalu besar, bagian luar bisa cokelat sebelum dalamnya matang. Kalau apinya kecil, gorengan bisa menyerap minyak terlalu banyak dan jadi lembek.

3. Api besar untuk makanan yang harus cepat panas

ilustrasi memasak steak (pixabay.com/LIN LONG)
ilustrasi memasak steak (pixabay.com/LIN LONG)

Api besar itu ibarat senjata pamungkas kalau kamu butuh panas cepat. Cocok untuk teknik memasak yang butuh suhu tinggi dalam waktu singkat. Contohnya: menumis ala Chinese food yang harus keluar aroma smoky.

Selain itu, api besar juga dipakai untuk merebus air dalam jumlah banyak, misalnya waktu bikin pasta atau mie. Dengan api besar, air cepat mendidih, jadi kamu gak perlu nunggu lama. Atau kalau mau menggoreng ayam utuh dalam minyak banyak, awalnya bisa pakai api besar untuk bikin kulitnya crispy.

Namun, perlu diingat api besar itu riskan. Kalau gak hati-hati, makanan bisa gosong dalam hitungan menit. Jadi, biasanya api besar dipakai hanya di awal misalnya untuk bikin permukaan daging cepat cokelat/karamelisasi, lalu diturunkan ke api sedang atau kecil untuk melanjutkan proses.

4. Perbedaan tekstur dan rasa dari api masak

ilustrasi api kompor (pixabay.com/PublicDomainPictures)
ilustrasi api kompor (pixabay.com/PublicDomainPictures)

Yang menarik, beda api juga bisa berpengaruh ke tekstur dan rasa makanan.

  • Api kecil bikin rasa lebih meresap, tekstur daging empuk, dan kuah lebih kaya.

  • Api sedang menjaga keseimbangan: makanan cepat matang tapi gak kehilangan rasa alami.

  • Api besar menciptakan tekstur renyah dan aroma smoky yang khas.

Maka dari itu, chef profesional biasanya gak asal pilih api, mereka benar-benar tahu kapan harus menggunakan api besar atau kecil untuk hasil yang maksimal.

Ternyata, urusan api kompor bukan hal sepele. Api kecil, sedang, dan besar punya perannya masing-masing dalam menghasilkan masakan yang enak. Mulai dari masakan slow cooking yang butuh kesabaran, tumisan harian yang praktis, sampai gorengan crispy atau tumisan panas ala resto, semuanya butuh trik mengatur api. Jadi, kalau mau masakanmu naik level, jangan hanya fokus ke resep dan bumbu. Kuasai juga seni main api di dapur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us