Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Perbedaan Light dan Dark Oolong Tea, Suka yang Mana?
ilustrasi oolong tea (pexels.com/betül akyürek)
  • Light oolong tea dioksidasi ringan 10–30% dengan roasting suhu rendah, menghasilkan daun hijau dan seduhan kuning keemasan beraroma floral serta rasa lembut dan menyegarkan.
  • Dark oolong tea dioksidasi 50–90% dengan roasting suhu tinggi, memberi warna daun gelap, seduhan cokelat kastanye, aroma roasted kuat, serta rasa manis karamel yang hangat dan tebal.
  • Kadar kafein light oolong sekitar 16–45 mg cocok untuk pagi hari, sedangkan dark oolong 30–55 mg lebih pas dinikmati sore hari bersama dessert atau hidangan gurih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Oolong tea terkenal karena memiliki profil aromatik yang kaya dan kompleks. Secara tradisional, oolong tea sering menjadi bagian dari upacara minum teh di China, khususnya Gongfu. Penggunaannya pun semakin luas untuk membuat minuman kekinian, seperti milk tea.

Layaknya kopi, karakteristik oolong tea juga dipengaruhi oleh tingkat oksidasi dan proses roasting. Secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu light oolong tea, medium oolong tea, dan dark oolong tea. Biar gak bingung menentukan mana yang sesuai seleramu, artikel ini akan membahas perbedaan light oolong tea dan dark oolong tea.

1. Tingkat oksidasi dan roasting

ilustrasi orang memetik daun teh (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Tingkat oksidasi memengaruhi aroma dan kesegaran rasa. Sedangkan roasting bertujuan untuk mengurangi kadar air, menurunkan kandungan kafein, sekaligus memekatkan aroma dan rasa teh. Kedua proses ini berperan penting untuk menentukan karakteristik teh.

Light oolong tea sering disebut oolong hijau melalui proses oksidasi ringan, biasanya antara 10—30 persen dan tidak lebih dari 50 persen. Di-roasting perlahan dengan api kecil sekitar 80—115 derajat Celsius dengan durasi antara 30 menit hingga 2 jam per sesi. Daunnya sering digulung menjadi bentuk seperti bola yang rapat dan mengembang dramatis dalam air panas.

Sementara itu, dark oolong tea atau roasted oolong tea melalui proses oksidasi yang lebih lama, antara 50—90 persen. Kemudian, di-roasting pada suhu 120—200 derajat Celsius dengan durasi 2—12 jam per sesi. Kerap kali daunnya panjang dan terpilin, bukan berbentuk bola.

2. Warna daun dan hasil seduhan

ilustrasi tie guan yin, salah satu jenis light oolong tea (commons.wikimedia.org/Quelcrime)

Perbedaan proses tersebut juga berpengaruh pada warna daun teh dan air teh setelah diseduh. Sesuai namanya, light oolong tea mempertahankan sebagian besar karakter asli daun tehnya, ditandai dengan warna hijau yang masih terlihat. Saat diseduh, teh akan berwarna kuning pucat hingga keemasan dan membutuhkan waktu seduh lebih singkat dibandingkan dengan dark oolong tea.

Lain halnya dengan dark oolong tea ditandai dengan warna daunnya yang lebih gelap dan cenderung hitam. Waktu seduhnya lebih lama, sekitar 4–7 menit, karena struktur daun lebih padat setelah roasting. Hasil seduhannya berwarna kuning tua hingga cokelat kastanye.

3. Profil rasa dan aroma

ilustrasi bu zhi chun, salah satu jenis dark oolong tea (commons.wikimedia.org/Iateasquirrel)

Light oolong tea punya rasa manis yang lembut dengan sedikit aroma roasted. Mudah ditandai dengan aroma buah-buahan dan bunga segar, seperti lilac, anggrek, atau osmanthus. Teksturnya lembut seperti mentega yang dapat memberikan sensasi bright dan refreshing di mulut.

Sementara itu, dark oolong tea punya rasa manis yang kaya dengan sentuhan karamel. Aromanya cenderung nutty, woody , madu, buah-buahan, seperti plum atau kismis, dan kadang sedikit smoky atau cokelat. Tekstur minuman yang dihasilkan terasa lebih tebal dan hangat di mulut dengan aftertaste roasted yang bertahan lama.

4. Kadar kafein

ilustrasi orang minum teh (pexels.com/Anna Pou)

Kadar kafein dalam oolong tea bervariasi, tergantung pada varietas, kualitas daun, dan metode penyeduhan. Rata-rata 37 mg kafein per cangkir berukuran 240 ml. Semakin banyak daun yang digunakan dan semakin lama proses penyeduhan, kadar kafein yang terekstraksi juga akan semakin tinggi.

Light oolong tea yang diseduh ringan punya kadar kafein sekitar 16—45 mg per cangkir. Roasting singkat mempertahankan struktur daun yang berpori, sehingga memudahkan pelepasan kafein saat diseduh. Jenis ini cocok untuk booster ringan dari pagi hingga siang hari.

Sebaliknya, dark oolong tea mengandung kafein sekitar 30—55 mg per cangkir. Meski tidak selalu lebih tinggi, rasa roasted yang kuat membuat sensasi kafein terasa pekat dan ber-body. Teh ini dapat disandingkan dengan kopi ringan dan sering dipilih untuk menikmati minuman dengan karakter yang hangat.

5. Kegunaan dan pairing

ilustrasi teh dan dessert (pexels.com/Vadim Malitskii)

Oolong tea memang teh serbaguna yang dapat dinikmati begitu saja setelah diseduh maupun dicampur dengan jenis minuman lainnya. Lebih spesifik lagi, light oolong tea yang ringan cocok dikonsumsi sebagai teman bersantai dengan pairing makanan seperti pastry, buah segar, dan salad. Rasa floral dan creamy-nya dapat membuat rileks serta tidak akan mengalahkan kelezatan hidangan pendamping.

Dark oolong tea lebih pas dinikmati setelah makan atau sore hari. Untuk melengkapi rasanya yang lebih hangat dan deep, diperlukan makanan pendamping, seperti dessert karamel hingga hidangan gurih berlemak. Kamu juga dapat menyeimbangkan rasanya dengan menambahkan susu.

Nah, sekarang kamu sudah tahu perbedaan light dan dark oolong tea. Bagi yang suka minuman ringan dan aromatik, bisa menyeduh light oolong tea. Kalau suka yang lebih bold atau mau bikin milk tea, pilihlah dark oolong tea.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team