Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Tips Puasa Tanpa Drama Lapar Mata, Berat Badan Aman
ilustrasi membeli makanan di pinggir jalan (pexels.com/Markus Winkler)
  • Lapar mata bisa dikendalikan dengan mengenali perbedaan antara lapar fisik dan keinginan emosional.

  • Paparan konten makanan dan keputusan impulsif menjelang berbuka perlu dibatasi agar tidak kalap.

  • Strategi sederhana, seperti merencanakan menu, mengatur porsi, dan mengalihkan fokus, membantu menjaga berat badan tetap aman selama puasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa itu bukan hanya perihal menahan lapar dan haus. Tantangan terbesarnya justru sering datang dari lapar mata. Baru lihat gorengan di pinggir jalan, es warna-warni di media sosial, atau promo bukaan di story teman, rasanya semua ingin dibeli dan dilahap saat berbuka nanti.

Padahal, kalau dituruti terus, efeknya bukan hanya bikin kalap saat berbuka, tapi juga bikin kaget, badan lemas, dan berat badan naik drastis tanpa disadari. Nah, agar puasa kamu tetap nyaman dan tidak penuh drama, ini dia tips puasa tanpa drama lapar mata yang bisa kamu coba. Dengan begitu, kamu juga bisa lebih fokus ibadah tanpa terus-terusan mikirin nanti mau makan apa.

1. Kenali bedanya lapar fisik dan lapar emosional

ilustrasi laki-laki sedang makan (pexels.com/nappy)

Ini penting sekali. Lapar fisik muncul perlahan, perut terasa kosong, badan lemas, dan hampir semua makanan terasa menarik. Sementara, lapar mata atau lapar emosional biasanya datang tiba-tiba dan spesifik. Sebagai contoh, kamu tiba-tiba ingin makan martabak manis cokelat keju, padahal baru sejam lalu sahur.

Coba biasakan pause sebentar sebelum beli atau ambil makanan. Tanya ke diri sendiri, “Ini benar-benar lapar atau cuma pengen?” Kesadaran kecil ini bisa menyelamatkan kamu dari keputusan impulsif.

2. Jangan lihat akun kuliner berlebihan

ilustrasi laki-laki sedang menggulir layar melihat media sosial (unsplash.com/Rasheed Kemy)

Jujur saja, lihat konten makanan menjelang buka itu rasanya siksaan. Algoritma media sosial paham sekali momen ini. Lini masa bisa penuh dengan gorengan, dessert lumer, sampai minuman dingin yang kelihatan segar banget.

Kalau kamu termasuk yang mudah tergoda, coba alihkan dengan aktivitas lain, utamanya menjelang berbuka. Kamu bisa membaca, beres-beres ringan, atau persiapan menu sederhana di dapur. Semakin sedikit paparan visual makanan berlebihan, semakin kecil peluang kamu kalap.

3. Susun menu berbuka sebelum lapar melanda

ilustrasi memasak (unsplash.com/Louis Hansel)

Salah satu penyebab lapar mata ialah tidak punya rencana makan. Akhirnya, semua terlihat menarik dan dibeli. Ujung-ujungnya, tidak semua termakan saat berbuka puasa.

Coba buat daftar menu berbuka dan sahur sejak pagi atau bahkan dari malam sebelumnya. Tentukan takjil sederhana, sumber karbohidrat, protein, dan sayur. Dengan begitu, kamu punya “pegangan”. Saat ada godaan makanan lain, kamu sudah tahu bahwa di rumah ada menu yang cukup dan seimbang. Ini juga sangat membantu kamu yang lagi menjaga berat badan selama Ramadan.

4. Dahulukan berbuka dengan air dan kurma

ilustrasi minum air (pexels.com/Daria Shevtsova)

Saat azan magrib berkumandang, jangan langsung balas dendam. Minum air putih dulu, lalu makan kurma atau makanan ringan secukupnya. Beri jeda 10–15 menit sebelum lanjut ke makanan utama.

Cara ini membantu tubuh menyesuaikan diri setelah seharian puasa. Selain itu, rasa lapar yang tadinya terasa “menggebu” biasanya akan jauh berkurang setelah minum. Jadi, keputusan makan bisa lebih rasional, bukan karena kalap.

5. Gunakan piring kecil saat makan

ilustrasi makanan sehat (freepik.com/jcomp)

Ini trik sederhana, tapi ampuh. Ambil makanan di piring kecil agar porsi terlihat penuh tanpa harus berlebihan. Hindari kebiasaan mengambil banyak sekaligus.

Kalau masih lapar, kamu bisa tambah. Namun, setelah satu porsi wajar, semestinya kamu sudah cukup merasa kenyang. Dengan cara ini, kamu mengontrol porsi tanpa merasa tersiksa.

6. Alihkan fokus ke aktivitas positif

ilustrasi tadarus saat Ramadan (pexels.com/RODNAE Production)

Menjelang berbuka biasanya waktu terasa lama. Daripada bengong dan terus-menerus memikirkan makanan, coba isi waktu dengan hal yang menenangkan. Kamu bisa baca buku, tilawah, journaling ringan, atau ngobrol santai dengan keluarga. Semakin pikiran sibuk dengan hal positif, semakin kecil ruang untuk lapar mata mengambil alih.

Puasa tanpa drama lapar mata itu bukan soal menahan diri mati-matian. Ini tentang mengenali pola, membuat strategi, dan memberi tubuh apa yang memang dibutuhkan. Sedikit demi sedikit, kamu akan lebih peka membedakan mana lapar sungguhan dan mana sekadar keinginan sesaat.

Ramadan hanya datang setahun sekali. Sayang sekali kalau hanya diisi dengan terus-menerus memikirkan makanan. Yuk, jadikan momen ini latihan kontrol diri sekaligus kesempatan membangun pola makan yang lebih sehat dan seimbang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎