7 Makanan Tradisional untuk Berbuka Puasa dari Berbagai Negara, Yummy!

Ramadan selalu punya aroma yang khas. Bukan hanya dari dapur rumahmu, tapi juga dari jutaan meja makan di seluruh dunia. Ketika azan Magrib berkumandang, bukan cuma kurma dan teh hangat yang hadir, melainkan tradisi kuliner lintas budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Dari gang sempit di Kairo hingga halaman masjid di Istanbul, dari rumah-rumah batu di Maroko sampai warung sederhana di Indonesia, berbuka puasa adalah perayaan rasa sekaligus perayaan identitas.
Menariknya, setiap negara punya “menu wajib” yang seolah tak boleh absen saat berbuka. Ada yang berkuah hangat, ada yang manis legit, ada pula yang gurih-rempah sampai bikin kamu lupa kalau tadi seharian menahan lapar. Nah, ini dia tujuh makanan tradisional khas dari berbagai negara yang selalu dinanti saat berbuka puasa! Yuk, kita telusuri satu per satu!
1. Harira, sup legendaris dari Maroko

Di Maroko, berbuka tanpa harira terasa seperti Ramadan tanpa bulan sabit. Sup kental berbasis tomat ini diisi dengan lentil, kacang arab, daging, dan rempah-rempah hangat seperti kayu manis serta jahe. Teksturnya kaya, aromanya dalam, dan rasanya seperti pelukan setelah seharian berpuasa.
Harira biasanya disantap bersama kurma dan roti tradisional, seperti chebakia yang manis dan lengket karena dilumuri madu. Kombinasi gurih-rempah dari sup dan manis legit dari kudapan menciptakan keseimbangan rasa yang memanjakan lidah sekaligus mengembalikan energi tubuh secara perlahan.
Lebih dari sekadar makanan, harira adalah simbol kebersamaan keluarga. Panci besar mengepul di dapur, sendok-sedok saling berbagi, dan setiap suapan terasa seperti ritual yang mengikat generasi.
2. Pide, roti Ramadan Turki yang ikonik

Di Turki, bulan Ramadan identik dengan aroma roti pide yang baru keluar dari oven. Roti bundar bertabur wijen dan jintan hitam ini hanya muncul secara spesial selama Ramadan, membuatnya terasa semakin istimewa dan dinanti-nanti.
Menjelang Magrib, antrean di depan toko roti menjadi pemandangan lazim. Orang-orang membawa pulang pide hangat untuk disantap bersama sup lentil, zaitun, keju, atau hidangan daging. Teksturnya lembut di dalam dan sedikit renyah di luar—sempurna untuk dicelupkan ke kuah hangat.
Pide bukan sekadar karbohidrat pembuka puasa, tapi simbol musim. Ketika kamu mencium aromanya, kamu tahu Ramadan sedang berada di puncaknya.
3. Qatayef, pancake manis favorit Mesir

Di Mesir, berbuka terasa kurang lengkap tanpa qatayef. Camilan manis ini berbentuk seperti pancake setengah lingkaran yang diisi kacang, krim, dan keju, lalu digoreng atau dipanggang sebelum disiram sirup gula beraroma mawar.
Teksturnya lembut di satu sisi dan sedikit renyah di sisi lainnya. Begitu digigit, isiannya meledak dengan rasa manis dan gurih yang kontras. Tak heran jika qatayef selalu ludes di meja iftar.
Menariknya, qatayef hampir eksklusif muncul saat Ramadan. Ia seperti tamu tahunan yang selalu dirindukan, lalu menghilang lagi setelah bulan suci berakhir.
4. Pakora, gorengan Pakistan yang bikin kalap

Kalau kamu pencinta gorengan, siap-siap jatuh cinta dengan pakora dari Pakistan. Terbuat dari sayuran atau ayam yang dibalut adonan tepung berbumbu lalu digoreng hingga keemasan, pakora adalah primadona meja berbuka.
Renyah di luar, lembut dan hangat di dalam, pakora biasanya disajikan bersama saus chutney pedas atau saus asam-manis. Rasanya gurih-rempah dengan sentuhan cabai yang menggoda, bikin kamu sulit berhenti di satu potong saja.
Saat hujan turun di sore Ramadan, sepiring pakora hangat ditemani teh manis panas menjadi kombinasi yang nyaris tak terkalahkan.
5. Kolak, desert Indonesia yang selalu dirindukan

Di Indonesia—rumahmu dan rumahku—kolak adalah nostalgia dalam mangkuk. Pisang, ubi, atau kolang-kaling direbus dalam kuah santan dan gula aren, menciptakan rasa manis-gurih yang lembut dan menenangkan.
Aroma daun pandan yang menguar dari panci kolak sering kali menjadi penanda bahwa waktu berbuka hampir tiba. Hangatnya kuah santan seolah menyiapkan perut sebelum menyantap hidangan utama.
Kolak bukan cuma takjil; ia adalah memori kolektif. Dari kampung hingga kota besar, dari dapur sederhana hingga restoran modern, kolak selalu menemukan jalannya ke hati orang Indonesia.
6. Haleem, bubur daging India kaya rempah

Di India, khususnya di Hyderabad, haleem menjadi hidangan wajib Ramadan. Bubur kental berbahan gandum, lentil, dan daging yang dimasak berjam-jam ini punya tekstur lembut dan rasa rempah yang dalam.
Proses memasaknya panjang dan penuh kesabaran—persis seperti filosofi puasa itu sendiri. Daging yang empuk berpadu dengan bawang goreng, perasan lemon, dan taburan daun ketumbar menciptakan sensasi rasa yang kompleks.
Haleem bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menyuplai energi besar setelah seharian menahan lapar. Satu mangkuk saja sudah cukup membuatmu merasa “hidup kembali”.
7. Samboosa, camilan segitiga dari Arab Saudi

Di Arab Saudi, samboosa adalah bintang kecil di meja berbuka. Bentuknya segitiga, isinya bisa daging cincang, sayuran, atau keju, lalu digoreng hingga garing.
Mirip dengan samosa Asia Selatan, tetapi punya sentuhan bumbu khas Timur Tengah. Gigitan pertama menghadirkan bunyi “kriuk” yang memuaskan, diikuti ledakan rasa gurih dan hangat.
Karena ukurannya kecil, samboosa sering jadi “pembuka ringan” sebelum hidangan utama. Tapi hati-hati, sekali mulai, sulit berhenti!
Ramadan memang tentang menahan diri, tapi saat azan Magrib berkumandang, dunia seolah berubah menjadi panggung kuliner yang luar biasa. Dari sup hangat Maroko hingga kolak manis Indonesia, setiap hidangan menyimpan cerita tentang sejarah, keluarga, dan identitas. Makanan-makanan ini bukan sekadar pengisi perut, melainkan jembatan budaya yang menghubungkan umat Islam dari berbagai belahan bumi.
Jadi, kalau suatu hari kamu berkesempatan berbuka puasa di negeri orang, jangan ragu mencicipi hidangan tradisionalnya. Siapa tahu, di antara sendok sup atau gigitan gorengan itu, kamu menemukan rasa yang tak hanya mengenyangkan, tetapi juga memperluas cara pandangmu tentang dunia.


















