Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Puasa Bikin Gampang Marah? Ini Penjelasannya!
ilustrasi ekspresi marah (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Saat puasa, tubuh kekurangan glukosa sehingga otak dan energi menurun, membuat sebagian orang lebih sensitif sebelum tubuh beradaptasi dengan pola makan baru.
  • Penurunan gula darah, dehidrasi ringan, perubahan tidur, serta berhenti kafein atau nikotin dapat memengaruhi konsentrasi dan kestabilan emosi selama puasa.
  • Menjaga asupan bergizi saat sahur dan berbuka, cukup minum air, serta tidur cukup membantu tubuh beradaptasi agar suasana hati tetap stabil sepanjang puasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Badan lemas ditambah perut kosong saat puasa bikin sebagian orang merasa lebih sensitif dari biasanya. Hal-hal kecil yang sebelumnya bisa ditoleransi tiba-tiba terasa lebih mengganggu, bahkan situasi sepele pun bisa terasa lebih berat. Tak jarang, emosi jadi lebih mudah terpancing, kesabaran terasa menipis, dan suasana hati pun berubah lebih cepat sepanjang hari.

Ada juga yang merasa cepat kesal, sulit fokus, atau mood naik turun sepanjang puasa. Situasi seperti ini sering bikin orang bertanya-tanya kenapa puasa seolah membuat emosi lebih sulit dikendalikan. Sebenarnya ada beberapa penjelasan sains yang bisa membantu memahami kondisi ini. So, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Apa yang terjadi pada tubuh saat berpuasa?

ilustrasi ekspresi bad mood (pexels.com/Polina Zimmerman)

Saat tubuh berpuasa selama beberapa jam, sumber energi utama dari makanan, terutama glukosa, mulai berkurang. Tubuh kemudian perlahan beralih menggunakan cadangan energi yang tersimpan untuk tetap menjalankan fungsi organ. Menurut studi tentang pola makan dengan waktu terbatas yang diteliti oleh ahli nutrisi dari Harvard University menunjukkan bahwa puasa dapat memengaruhi kadar gula darah, hormon yang mengatur rasa lapar, serta cara tubuh mengatur dan menggunakan energi.

Ketika kadar gula darah turun atau berfluktuasi, otak yang sangat bergantung pada glukosa sebagai bahan bakar bisa ikut terdampak. Kondisi ini dapat memengaruhi fokus, tingkat energi, hingga cara seseorang merespons emosi sehari-hari. Itulah sebabnya, pada fase awal puasa, sebagian orang merasa lebih sensitif atau mudah tersulut emosi sebelum tubuh sepenuhnya beradaptasi dengan pola makan baru.

2. Kenapa emosi terasa lebih sulit dikendalikan?

ilustrasi mengisi kegiatan saat puasa. (pexels.com/cottonbro studio)

Emosi yang terasa lebih sensitif saat puasa hadir bukan tanpa alasan. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama berjam-jam, beberapa kondisi dalam tubuh ikut berubah. Salah satunya adalah penurunan kadar gula darah, yang mana dapat memengaruhi kerja otak karena glukosa merupakan sumber energi utamanya.

Selain itu, mengutip dari Johns Hopkins Aramco Healthcare, dehidrasi ringan akibat tidak minum sepanjang hari juga bisa berdampak pada konsentrasi dan suasana hati. Perubahan pola tidur selama bulan puasa, misalnya karena harus bangun sahur atau tidur lebih larut, juga memengaruhi kestabilan emosi. Pada sebagian orang, berhenti sementara dari konsumsi kafein atau nikotin juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang membuat emosi lebih mudah terpancing.

3. Bagaimana cara mengatasinya?

ilustrasi mengisi kegiatan saat puasa. (pexels.com/cottonbro studio)

Meski emosi terasa lebih mudah terpancing saat puasa, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan mood. Salah satunya adalah memperhatikan asupan makanan saat sahur dengan memilih makanan yang dapat melepaskan energi secara perlahan, seperti oatmeal, roti gandum utuh, atau nasi merah, agar kadar gula darah tetap lebih stabil sepanjang hari. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang saat berbuka juga penting agar tubuh tidak merasa terlalu lelah keesokan harinya.

Selain itu, memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan minum cukup air antara waktu berbuka dan sahur dapat membantu menjaga konsentrasi dan suasana hati. Kualitas tidur juga perlu diperhatikan karena kurang tidur dapat membuat emosi lebih sulit dikendalikan. Dengan menjaga pola makan, hidrasi, dan waktu istirahat, tubuh biasanya akan lebih mudah beradaptasi dengan ritme puasa sehingga suasana hati tetap lebih stabil.

Setelah mengetahui penyebab gampang marah saat puasa menurut sains, artinya kamu harus lebih memperhatikan asupan makanan, minuman, dan waktu istirahat yang cukup. Dengan begitu, emosi selama puasa bisa lebih terkontrol. Last but not least, jangan pernah skip makan sahur, ya!

Referensi

"The health benefits of intermittent fasting". Harvard School of Public Health. Diakses pada Maret 2026.

"How to Stay Calm While Fasting During Ramadan". Johns Hopkins Aramco Healthcare. Diakses pada Maret 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team