ilustrasi gangguan makan berlebihan, binge eating, overeating (helpguide.org)
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa individu dengan gangguan makan (dan mereka yang rentan mengalami gangguan makan) telah mengalami gejala gangguan makan yang memburuk dan dorongan yang lebih sering selama masa pandemi COVID-19.
Dilansir Scientific American, satu penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Eating Disorders mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga partisipan studi mengatakan bahwa gangguan makan mereka lebih buruk sebagai akibat langsung dari krisis COVID-19.
Studi yang sama menemukan bahwa individu dengan bulimia melaporkan jumlah episode dan dorongan makan berlebihan yang lebih tinggi selama pandemi. Studi lain tentang COVID-19 dan gangguan binge eating menemukan bahwa isolasi sosial dapat menjadi “faktor yang memberatkan” bagi mereka yang memiliki (ataupun rentan) terhadap gangguan makan berlebihan tersebut.
Faktanya, dari 447 peserta partisipan dalam penelitian tersebut (yang semuanya mengasingkan diri secara sosial karena COVID-19), sebanyak 22,8 persen memenuhi kriteria gangguan binge eating sedang hingga parah. Perlu diingat bahwa dalam keadaan normal, rata-rata angka kasusnya hanya 3,5 persen pada perempuan dan 2 persen pada laki-laki.
Ini berarti insiden gangguan binge eating jauh lebih tinggi di antara populasi yang terisolasi secara sosial, yang menunjukkan isolasi COVID-19 dapat memperburuk gejala gangguan makan. Juga penting untuk dicatat di sini adalah bahwa sebelum penelitian (dan isolasi sosial), tidak ada peserta yang terdiagnosis memiliki gangguan makan.
Ada beberapa alasan mengapa isolasi COVID-19 dapat menyebabkan masalah bagi mereka yang (atau rentan terhadap) gangguan makan berlebihan. Ini termasuk ketakutan dan kecemasan tentang virus, kesepian, kurangnya dukungan sosial, gangguan rutinitas, dan stres karena pekerjaan dan keuangan.
Ada pula faktor seputar kekurangan dan/atau surplus pangan. Melihat rak-rak toko kelontong yang kosong dapat menimbulkan ketakutan dan perasaan kelangkaan, mendorong keinginan untuk makan berlebihan.
Selain itu, banyak orang telah menimbun dapur rumah mereka dengan makanan tambahan, yang juga dapat memicu keinginan makan berlebihan. Singkatnya, dalam menghadapi stres dan kecemasan, kekurangan/surplus makanan, dan isolasi sosial, mudah bagi individu yang rentan untuk beralih ke pola makan yang tidak teratur sebagai pelarian dari kekacauan dan ketidakpastian dunia di sekitar mereka.