Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa yang Terjadi Jika Manusia Lari 100 KM?
ilustrasi ultramaraton (unsplash.comArya Krisdyantara)

  • Lari 100 km memicu kerusakan otot, stres jantung, dan perubahan metabolisme ekstrem saat tubuh beralih dari glikogen ke pembakaran lemak untuk mempertahankan energi.
  • Dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, serta penurunan fungsi imun menjadi risiko utama akibat hilangnya cairan dan tekanan fisiologis berkepanjangan selama aktivitas ultra jarak jauh.
  • Tantangan mental sama beratnya dengan fisik; pelari harus mengandalkan ketahanan psikologis tinggi agar mampu bertahan menghadapi rasa lelah, nyeri, dan stres ekstrem sepanjang lomba.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti bagaimana lari sejauh 100 km menjadi ajang luar biasa bagi tubuh dan pikiran untuk beradaptasi. Dalam tekanan ekstrem, sistem biologis manusia menunjukkan kemampuan menyesuaikan diri—dari otot yang memperbaiki mikrotrauma hingga metabolisme yang beralih ke pembakaran lemak. Bahkan, ketahanan mental berkembang kuat, mencerminkan kecerdasan tubuh dan jiwa dalam menghadapi batasnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lari jarak jauh selalu menjadi simbol ketahanan fisik dan mental. Namun, ketika jarak mencapai 100 kilometer (km), tubuh tidak lagi sekadar “berolahraga”. Tubuh memasuki fase ekstrem yang menguji hampir seluruh sistem biologis secara bersamaan.

Di titik ini, tubuh tidak hanya bekerja lebih keras, tetapi juga bekerja dengan cara yang berbeda. Energi diatur ulang, otot dipaksa beradaptasi, dan sistem internal berjuang menjaga keseimbangan. Memahami apa yang terjadi selama lari 100 km membantu kamu memahami batas antara performa dan risiko.

1. Kerusakan otot dan mikrotrauma yang luas

Selama lari jarak ultra, otot mengalami kontraksi berulang dalam waktu sangat lama, terutama kontraksi eksentrik yang meningkatkan risiko kerusakan serat otot.

Penelitian menunjukkan bahwa penanda kerusakan otot seperti creatine kinase (CK) meningkat signifikan setelah ultramaraton. Ini menandakan adanya mikrotrauma luas pada jaringan otot.

Kerusakan ini sebenarnya bagian dari proses adaptasi. Namun, dalam kondisi ekstrem, dapat berkembang menjadi rhabdomyolysis, yaitu kondisi serius ketika protein otot masuk ke aliran darah dan berpotensi merusak ginjal.

2. Perubahan fungsi jantung sementara

Jantung bekerja tanpa henti selama berjam-jam untuk mempertahankan suplai oksigen ke otot. Ini menyebabkan perubahan sementara pada fungsi jantung.

Menurut studi, pelari ultra dapat mengalami penurunan fungsi ventrikel kanan sementara setelah lomba panjang. Kondisi ini dikenal sebagai exercise-induced cardiac fatigue.

Meski biasanya reversibel, tetapi kondisi ini menunjukkan bahwa jantung juga mengalami stres signifikan. Pada individu dengan faktor risiko tertentu, ini dapat menjadi perhatian serius.

3. Kehabisan energi dan perubahan metabolisme

ilustrasi pelari ultramaraton (unsplash.com/RETRATO DEPORTIVO)

Tubuh manusia memiliki cadangan glikogen yang terbatas, biasanya cukup untuk aktivitas beberapa jam. Dalam lari 100 km, cadangan ini akan habis dan tubuh beralih ke pembakaran lemak.

Menurut studi, pelari ultra mengandalkan metabolisme lemak secara dominan setelah fase awal lomba. Perubahan ini membuat tubuh lebih efisien dalam jangka panjang, tetapi juga meningkatkan risiko kelelahan jika asupan energi tidak cukup. Kehabisan glikogen (kehabisan bahan bakar) menjadi kondisi nyata dalam situasi ini.

4. Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit

Kehilangan cairan melalui keringat dalam durasi panjang dapat menyebabkan dehidrasi. Namun, risiko tidak cuma dari kekurangan cairan, tetapi juga ketidakseimbangan elektrolit.

Pelari jarak jauh juga berisiko mengalami hiponatremia (kadar natrium rendah) akibat konsumsi air berlebihan tanpa elektrolit. Kondisi ini bisa berbahaya karena memengaruhi fungsi saraf dan otak.

Gejalanya mulai dari mual hingga kebingungan dan dalam kasus berat dapat mengancam jiwa.

5. Penurunan sistem imun

Setelah aktivitas ekstrem, tubuh memasuki fase yang disebut “open window”, di mana sistem imun sementara melemah.

Penelitian menunjukkan, latihan intens dan berkepanjangan dapat menurunkan fungsi imun, meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.

Inilah alasan banyak pelari ultra merasa lebih rentan sakit setelah lomba. Tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan keseimbangan sistem imun.

6. Stres pada ginjal dan sistem pencernaan

ilustrasi pelari ultramaraton (unsplash.com/RETRATO DEPORTIVO)

Selama lari ultra, aliran darah diprioritaskan ke otot dan kulit, sehingga organ lain seperti ginjal dan sistem pencernaan mendapat suplai lebih sedikit. Studi menunjukkan adanya peningkatan risiko cedera ginjal akut ringan pada pelari ultra.

Sementara itu, gangguan pencernaan seperti mual, kram perut, atau diare juga sering terjadi akibat redistribusi aliran darah dan stres fisik.

7. Adaptasi mental dan ketahanan psikologis

Selain perubahan fisik, lari 100 km juga memengaruhi kondisi mental. Ketahanan psikologis menjadi faktor kunci untuk menyelesaikan jarak ini. Pelari ultra mengembangkan strategi koping yang kuat untuk menghadapi kelelahan dan stres.

Tubuh mungkin lelah, tetapi kemampuan mental sering menjadi pembeda antara berhenti dan terus melangkah.

Lari 100 km adalah aktivitas ekstrem yang mengubah cara tubuh bekerja dalam banyak aspek. Dari otot hingga sistem imun, semua mengalami tekanan sekaligus adaptasi.

Dengan persiapan matang, tubuh mampu menghadapi tantangan ini. Namun, tanpa pemahaman yang baik, risikonya bisa jauh lebih besar daripada manfaatnya. Dalam hal lari sejauh ini, mengenali batas tubuh adalah bentuk kecerdasan.

Referensi

Danielle Magrini et al., “Serum Creatine Kinase Elevations in Ultramarathon Runners at High Altitude,” The Physician and Sportsmedicine 45, no. 2 (January 11, 2017): 1–5, https://doi.org/10.1080/00913847.2017.1280371.

Guido Claessen and Andre La Gerche, “Exercise‐induced Cardiac Fatigue: The Need for Speed,” The Journal of Physiology 594, no. 11 (June 1, 2016): 2781–82, https://doi.org/10.1113/jp272168.

Christopher E. Rauch et al., “Feeding Tolerance, Glucose Availability, and Whole-Body Total Carbohydrate and Fat Oxidation in Male Endurance and Ultra-Endurance Runners in Response to Prolonged Exercise, Consuming a Habitual Mixed Macronutrient Diet and Carbohydrate Feeding During Exercise,” Frontiers in Physiology 12 (January 4, 2022): 773054, https://doi.org/10.3389/fphys.2021.773054.

Tim Noakes, “Hyponatremia in Distance Runners,” Current Sports Medicine Reports 1, no. 4 (August 1, 2002): 197–207, https://doi.org/10.1249/00149619-200208000-00003.

David C. Nieman, “Exercise and Immunity: Clinical Studies,” in Elsevier eBooks, 2007, 661–73, https://doi.org/10.1016/b978-012088576-3/50037-x.

Grant S. Lipman et al., “Incidence and Prevalence of Acute Kidney Injury During Multistage Ultramarathons,” Clinical Journal of Sport Medicine 26, no. 4 (October 29, 2015): 314–19, https://doi.org/10.1097/jsm.0000000000000253.

Michel Nicolas et al., “Emotional Intelligence in Ultra-Marathon Runners: Implications for Recovery Strategy and Stress Responses During an Ultra-Endurance Race,” International Journal of Environmental Research and Public Health 19, no. 15 (July 29, 2022): 9290, https://doi.org/10.3390/ijerph19159290.

Editorial Team