Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rhabdomyolisis: Kondisi saat Otot Rusak Bisa Merusak Ginjal

Rhabdomyolisis: Kondisi saat Otot Rusak Bisa Merusak Ginjal
ilustrasi pelari kelelahan (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
Intinya Sih
  • Rhabdomyolisis adalah kondisi ketika serat otot rusak dan melepaskan isinya ke dalam aliran darah, yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal hingga komplikasi yang mengancam nyawa.

  • Penyebabnya beragam, mulai dari olahraga ekstrem, cedera berat, heat stroke, infeksi, hingga efek samping obat tertentu.

  • Diagnosis dan pengobatan yang cepat sangat penting karena sebagian besar komplikasi serius dapat dicegah jika kondisi ini dikenali sejak dini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Nyeri otot setelah berolahraga sering dianggap sebagai tanda latihan yang efektif. Setelah sesi lari panjang, latihan kekuatan yang berat, atau mengikuti kompetisi olahraga, rasa pegal biasanya merupakan bagian normal dari proses pemulihan. Namun, ada situasi ketika nyeri otot menandakan kondisi yang lebih serius.

Ketika nyeri terasa sangat hebat, disertai pembengkakan otot, kelemahan yang tidak biasa, atau perubahan warna urine menjadi cokelat gelap seperti teh, ini bisa menjadi tanda masalah yang jauh lebih serius, yaitu rhabdomyolisis atau rabdomiolisis.

Rabdomiolisis dapat berkembang menjadi keadaan darurat jika tidak segera ditangani. Dalam kasus yang berat, kerusakan otot dapat menyebabkan gagal ginjal akut, gangguan irama jantung, hingga kematian.

Apa sebenarnya rabdomiolisis dan mengapa kondisi ini bisa begitu berbahaya?

Apa itu rabdomiolisis?

Rabdomiolisis adalah kondisi ketika sel-sel otot rangka mengalami kerusakan dan pecah secara masif.

Saat otot rusak, berbagai zat yang biasanya berada di dalam sel akan dilepaskan ke dalam aliran darah, termasuk kreatin kinase, mioglobin, kalium, fosfat, dan berbagai protein dan enzim lainnya.

Mioglobin, protein yang bertugas menyimpan oksigen di dalam otot, dapat menumpuk di ginjal dan menyebabkan cedera ginjal akut. Selain itu, lonjakan kadar kalium dalam darah dapat memicu gangguan irama jantung yang berpotensi fatal.

Rabdomiolisis merupakan salah satu penyebab penting gagal ginjal akut yang dapat dicegah jika ditangani sejak dini.

Penyebab

Rabdomiolisis tidak memiliki satu penyebab tunggal. Kondisi ini dapat terjadi akibat berbagai faktor yang merusak jaringan otot secara langsung maupun tidak langsung.

1. Olahraga berlebihan atau sangat intens

Latihan dengan intensitas yang jauh melebihi kemampuan tubuh dapat menyebabkan kerusakan otot yang ekstrem. Risikonya meningkat pada:

  • Pemula yang langsung melakukan latihan berat.
  • Peserta bootcamp atau latihan militer.
  • Pelari maraton dan ultramaraton.
  • Atlet yang berlatih atau mengikuti kompetisi saat cuaca panas.

Kondisi ini dikenal sebagai exertional rhabdomyolysis.

Meski jarang, tetapi kasusnya terus dilaporkan dalam berbagai cabang olahraga.

2. Heat stroke dan paparan panas ekstrem

Suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat merusak sel otot secara langsung. Karena itu, rabdomiolisis sering ditemukan pada pasien heat stroke, terutama saat berolahraga di lingkungan yang panas dan lembap.

Penelitian menunjukkan kombinasi aktivitas fisik berat dan dehidrasi dapat meningkatkan risiko secara signifikan.

3. Cedera berat atau trauma

Kecelakaan lalu lintas, bangunan runtuh, gempa bumi, atau kondisi yang menyebabkan otot terjepit dalam waktu lama dapat memicu rabdomiolisis. Fenomena ini dikenal sebagai crush syndrome.

Dalam situasi bencana besar, rabdomiolisis menjadi salah satu penyebab utama kematian dan gagal ginjal.

4. Obat-obatan dan zat tertentu

Beberapa obat dapat meningkatkan risiko kerusakan otot. Yang paling sering dikaitkan adalah:

  • Statin (obat penurun kolesterol).
  • Antipsikotik tertentu.
  • Obat anestesi tertentu.
  • Obat terlarang seperti kokain dan amfetamin.

Perlu ditekankan bahwa manfaat statin umumnya jauh lebih besar daripada risikonya, dan sebagian besar pengguna tidak mengalami rabdomiolisis.

5. Infeksi

Beberapa infeksi virus dan bakteri dapat memicu rabdomiolisis. Infeksi yang pernah dilaporkan berkaitan dengan kondisi ini antara lain:

  • Influenza.
  • COVID-19.
  • Virus Epstein-Barr.
  • Infeksi bakteri tertentu.

Mekanismenya melibatkan kombinasi peradangan, respons imun, dan kerusakan jaringan.

6. Kelainan metabolik dan genetik

Pada sebagian kecil kasus, rabdomiolisis terjadi akibat gangguan metabolisme otot yang membuat tubuh kesulitan menghasilkan energi saat beraktivitas. Kondisi ini biasanya menyebabkan episode berulang.

Gejala

Seorang pria mengenakan pakaian olahraga hitam duduk di lantai sambil memegangi lututnya karena nyeri otot akibat rabdomiolisis.
ilustrasi nyeri otot akibat rabdomiolisis (magnific.com/drobotdean)

Tidak semua pasien mengalami gejala yang sama. Namun, ada tiga gejala klasik yang sering disebut dalam literatur medis:

1. Nyeri otot yang hebat

Rasa nyeri biasanya lebih berat dibanding pegal normal setelah olahraga. Keluhan sering muncul pada paha, betis, bahu, dan punggung.

2. Kelemahan otot

Pasien mungkin merasa sangat sulit menggerakkan anggota tubuh yang terkena.

3. Urine berwarna gelap

Ini adalah gejala yang paling khas. Urine dapat tampak cokelat, kemerahan, atau seperti teh. Perubahan warna terjadi akibat mioglobin yang dikeluarkan melalui ginjal.

Gejala lainnya

Gejala lain yang mungkin muncul meliputi:

  • Demam.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Jantung berdebar.
  • Pembengkakan otot.
  • Kebingungan.
  • Jumlah urine berkurang.

Namun, penting diketahui bahwa sebagian pasien tidak mengalami ketiga gejala klasik sekaligus.

Diagnosis

Dalam diagnosis rabdomiolisis, selain melihat gejala, pemeriksaan laboratorium sangat penting.

  • Kreatin kinase (CK)

CK merupakan penanda utama kerusakan otot. Kadar CK yang meningkat lebih dari lima kali batas normal sering digunakan sebagai indikator rabdomiolisis. Pada kasus berat, nilainya dapat mencapai puluhan hingga ratusan ribu unit per liter.

  • Pemeriksaan darah

Dokter biasanya juga memeriksa fungsi ginjal, kadar kalium, fosfat, kalsium, dan keseimbangan elektrolit.

  • Analisis urine

Tes urine dapat menunjukkan adanya mioglobinuria yang menjadi ciri khas kondisi ini.

Pengobatan

Tujuan utama pengobatan adalah mencegah kerusakan ginjal dan komplikasi yang mengancam nyawa, yang meliputi:

  • Cairan intravena

Ini merupakan terapi utama. Pemberian cairan dalam jumlah besar membantu mempertahankan aliran darah ke ginjal, mengencerkan mioglobin, dan mempercepat pembuangan zat berbahaya. Makin cepat terapi dimulai, makin baik hasilnya.

  • Mengatasi penyebab dasar

Jika penyebabnya adalah heat stroke, maka suhu tubuh harus diturunkan. Jika disebabkan oleh obat tertentu, penggunaannya dihentikan. Jika trauma adalah penyebabnya, maka cedera harus segera ditangani. Dan jika disebabkan oleh infeksi, maka diberikan terapi yang sesuai.

  • Pemantauan elektrolit

Gangguan kadar kalium dapat menyebabkan aritmia yang berbahaya. Karena itu, pasien sering memerlukan pemantauan ketat.

  • Dialisis

Pada kasus berat, gagal ginjal akut dapat memerlukan cuci darah sementara. Untungnya, tidak semua pasien butuh tindakan ini.

Komplikasi yang dapat terjadi

Seorang pasien pria terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan infus dan alat pemantau terpasang di tangannya.
ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit (magnific.com/freepik)
  • Cedera ginjal akut

Ini merupakan komplikasi yang paling ditakuti. Menurut berbagai studi, sekitar 10–40 persen kasus rabdomiolisis dapat berkembang menjadi cedera ginjal akut, tergantung tingkat keparahan dan penyebabnya.

  • Gangguan irama studi

Kadar kalium yang terlalu tinggi dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung. Dalam kasus ekstrem, kondisi ini dapat menyebabkan henti jantung.

  • Compartment syndrome

Pembengkakan otot yang berat dapat meningkatkan tekanan di dalam jaringan sehingga menghambat aliran darah. Ini merupakan keadaan darurat bedah.

  • Gangguan elektrolit

Perubahan kadar kalium, fosfat, dan kalsium dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.

  • Kematian

Meski relatif jarang jika ditangani dengan cepat, tetapi kasus berat dapat berakibat fatal.

Pencegahan

Banyak kasus rabdomiolisis dapat dicegah dengan cara-cara berikut ini:

  • Tingkatkan intensitas latihan secara bertahap. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap beban latihan. Hindari lonjakan volume atau intensitas yang terlalu drastis.
  • Jaga hidrasi. Minum cukup cairan sebelum, selama, dan setelah aktivitas fisik membantu mengurangi risiko komplikasi.
  • Waspadai cuaca panas. Kurangi intensitas latihan saat suhu dan kelembapan tinggi.
  • Kenali batas tubuh. Nyeri otot yang ekstrem bukanlah tanda keberhasilan latihan. Jika muncul kelemahan berat atau urine berubah warna, segera cari pertolongan medis.
  • Konsultasikan obat yang digunakan. Jika mengonsumsi obat yang berpotensi memengaruhi otot, diskusikan risikonya dengan dokter.

Rabdomiolisis adalah kondisi serius yang terjadi ketika otot mengalami kerusakan masif dan melepaskan berbagai zat ke dalam aliran darah. Penyebabnya beragam, mulai dari olahraga berlebihan, heat stroke, trauma berat, infeksi, hingga efek samping obat tertentu.

Gejala yang perlu diwaspadai meliputi nyeri otot hebat, kelemahan otot, dan urine berwarna gelap. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium, terutama kadar kreatin kinase, sementara pengobatan berfokus pada pemberian cairan dan pencegahan kerusakan ginjal.

Meski dapat berakibat fatal jika terlambat ditangani, tetapi sebagian besar kasus prognosisnya baik ketika dikenali lebih awal. Karena itu, memahami tanda-tanda peringatannya penting, terutama jika kamu aktif berolahraga.

Referensi

Ana L Huerta-Alardín, Joseph Varon, and Paul E Marik, “Bench-to-bedside Review: Rhabdomyolysis -- an Overview for Clinicians.,” Critical Care 9, no. 2 (January 1, 2004): 158, https://doi.org/10.1186/cc2978.

Patrick A Torres et al., “Rhabdomyolysis: Pathogenesis, Diagnosis, and Treatment,” n.d., https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4365849/.

Gearoid M. McMahon, Xiaoxi Zeng, and Sushrut S. Waikar, “A Risk Prediction Score for Kidney Failure or Mortality in Rhabdomyolysis,” JAMA Internal Medicine 173, no. 19 (September 2, 2013): 1821, https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2013.9774.

Nadezda Petejova and Arnost Martinek, “Acute Kidney Injury Due to Rhabdomyolysis and Renal Replacement Therapy: A Critical Review,” Critical Care 18, no. 3 (May 28, 2014): 224, https://doi.org/10.1186/cc13897.

David C. Tietze and James Borchers, “Exertional Rhabdomyolysis in the Athlete,” Sports Health a Multidisciplinary Approach 6, no. 4 (February 25, 2014): 336–39, https://doi.org/10.1177/1941738114523544.

Janice L. Zimmerman and Michael C. Shen, “Rhabdomyolysis,” CHEST Journal 144, no. 3 (September 1, 2013): 1058–65, https://doi.org/10.1378/chest.12-2016.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Bayu Aditya Suryanto
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More