Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Selain Gampang Kram, Ini Tanda Betis Lemah pada Pelari

Selain Gampang Kram, Ini Tanda Betis Lemah pada Pelari
ilustrasi tanda-tanda betis lemah pada pelari (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Intinya Sih
Sisi Positif

  • Otot betis berperan penting dalam dorongan langkah pelari. Kalau betis lemah bisa menurunkan efisiensi serta meningkatkan risiko cedera jika tidak dikenali sejak dini.

  • Tanda betis lemah meliputi cepat lelah, nyeri berulang, dorongan lari melemah, kram setelah latihan, hingga perubahan pola lari akibat kompensasi tubuh.

  • Tes single-leg calf raise dapat membantu mendeteksi kelemahan otot betis, sementara latihan penguatan dan pemulihan penting untuk menjaga performa dan mencegah cedera.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam ritme lari yang terlihat sederhana, ada kerja kompleks dari berbagai kelompok otot. Betis, yang terdiri dari gastrocnemius dan soleus, memegang peran penting layaknya mesin dorong setiap langkah. Setiap kali kaki menapak dan mendorong tubuh ke depan, betis bekerja tanpa jeda.

Namun, kelemahan pada otot ini jarang terasa sebagai masalah besar di awal. Biasanya kemunculannya pelan-pelan, seperti langkah terasa lebih berat, lebih cepat lelah, atau nyeri ringan yang sering diabaikan. Padahal, di baliknya mungkin ada potensi gangguan yang bisa berkembang menjadi cedera jika tidak dikenali.

Agar kamu lebih aware, yuk kenali tanda-tanda betis lemah pada pelari yang dipaparkan di bawah ini.

Table of Content

1. Betis cepat lelah saat lari

1. Betis cepat lelah saat lari

Salah satu tanda paling awal adalah rasa lelah yang muncul lebih cepat dari biasanya, terutama di area betis. Pelari mungkin merasa langkah menjadi berat meskipun pace masih tergolong mudah.

Otot betis, khususnya soleus, berperan besar dalam aktivitas endurance karena kemampuannya mempertahankan kontraksi dalam waktu lama. Ketika otot ini lemah, efisiensi energi menurun, sehingga tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan ritme yang sama.

Akibatnya, pelari cenderung mengalami kelelahan lokal lebih cepat. Ini bisa menjadi sinyal bahwa otot tidak mampu memenuhi tuntutan beban kerja yang diberikan.

2. Nyeri atau ketegangan berulang di betis

Nyeri ringan yang muncul berulang sering dianggap sebagai bagian dari latihan. Namun, jika terjadi terus-menerus di area betis, ini bisa menjadi tanda kelemahan otot.

Menurut studi, kelemahan otot meningkatkan risiko overload pada jaringan, termasuk tendon Achilles. Ketika otot tidak cukup kuat menyerap beban, tekanan dialihkan ke struktur lain.

Ketegangan yang berulang juga bisa mengindikasikan bahwa otot bekerja di luar kapasitas optimalnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi cedera yang lebih serius seperti strain atau tendinopati.

3. Penurunan kekuatan dorongan (push-off)

Seorang pelari mengenakan jaket hitam dan sepatu lari ungu berlari di jalur hutan dengan tanah berdaun kering dan bebatuan besar di sekitarnya.
ilustrasi tanda-tanda betis lemah pada pelari (unsplash.com/Markus Spiske)

Betis berperan utama dalam fase push-off, yaitu saat kaki mendorong tubuh ke depan. Jika otot ini lemah, dorongan menjadi kurang optimal.

Menurut penelitian, kekuatan plantarflexor (otot betis) berkorelasi langsung dengan efisiensi langkah dan kecepatan lari. Kelemahan pada area ini dapat menyebabkan langkah menjadi lebih pendek dan kurang eksplosif.

Pelari mungkin tidak langsung menyadari perubahan ini, tetapi biasanya terasa sebagai lari yang tidak bertenaga atau sulit meningkatkan pace meskipun sudah berusaha.

4. Mudah kram atau kaku setelah lari

Kram atau rasa kaku yang muncul setelah lari juga bisa menjadi tanda otot betis tidak cukup kuat atau belum terlatih dengan baik.

Kelelahan otot berkontribusi terhadap gangguan kontrol neuromuskular, yang dapat memicu kram. Ini sering terjadi ketika otot dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

Kaku yang berkepanjangan juga menandakan proses pemulihan yang tidak optimal. Jika terjadi berulang, ini menunjukkan otot tidak mampu beradaptasi dengan beban latihan.

5. Perubahan pola lari (running form)

Ketika betis tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, tubuh akan secara otomatis mencari kompensasi. Ini sering terlihat sebagai perubahan kecil dalam teknik lari.

Kelemahan otot tertentu dapat mengubah biomekanika lari, meningkatkan risiko cedera pada area lain seperti lutut dan pinggul.

Perubahan ini bisa berupa langkah yang lebih berat, pendaratan yang kurang stabil, atau peningkatan beban pada otot lain. Dalam jangka panjang, kompensasi ini dapat melahirkan masalah baru.

6. Sulit melakukan single-leg calf raise

Seseorang mengenakan sepatu olahraga hitam sedang melakukan latihan calf raise di gym untuk memperkuat otot betis.
ilustrasi latihan calf raise (pexels.com/Amar Preciado)

Tes sederhana seperti single-leg calf raise bisa menjadi indikator kekuatan betis. Jika sulit dilakukan atau tidak seimbang antara kanan dan kiri, ini menunjukkan adanya kelemahan.

Kemampuan melakukan repetisi calf raise berkaitan dengan kekuatan dan daya tahan otot betis.

Tes ini sering digunakan dalam rehabilitasi cedera Achilles. Ketidakmampuan melakukan gerakan ini dengan baik menjadi tanda otot belum siap menerima beban tinggi seperti lari.

Betis mungkin bukan otot yang paling sering disorot dalam hal lari, tetapi perannya sangat krusial. Kelemahan kecil bisa berdampak besar pada efisiensi, performa, dan risiko cedera.

Mengenali tanda-tandanya sejak dini memberi kesempatan untuk melakukan intervensi sebelum masalah berkembang. Latihan penguatan sederhana, manajemen beban, dan pemulihan yang cukup bisa membuat perbedaan besar bagi pelari.

Referensi

Sebastian Bohm et al., “Muscle-specific Economy of Force Generation and Efficiency of Work Production During Human Running,” eLife 10 (August 31, 2021), https://doi.org/10.7554/elife.67182.

Nicola Maffulli et al., “Achilles Tendinopathy,” Foot and Ankle Surgery 26, no. 3 (April 18, 2019): 240–49, https://doi.org/10.1016/j.fas.2019.03.009.

Adrian Lai et al., “Human Ankle Plantar Flexor Muscle–tendon Mechanics and Energetics During Maximum Acceleration Sprinting,” Journal of the Royal Society Interface 13, no. 121 (August 1, 2016): 20160391, https://doi.org/10.1098/rsif.2016.0391.

Martin P. Schwellnus, Nichola Drew, and Malcolm Collins, “Muscle Cramping in Athletes—Risk Factors, Clinical Assessment, and Management,” Clinics in Sports Medicine 27, no. 1 (January 1, 2008): 183–94, https://doi.org/10.1016/j.csm.2007.09.006.

Ferber, Reed, dan Shari Macdonald. "Running Mechanics and Gait Analysis." Champaign, IL: Human Kinetics, 2014.

Ma. Roxanne Fernandez and Kim Hébert‐Losier, “Devices to Measure Calf Raise Test Outcomes: A Narrative Review,” Physiotherapy Research International 28, no. 4 (July 13, 2023): e2039, https://doi.org/10.1002/pri.2039.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More