Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak-anak sekolah dasar.
ilustrasi anak sekolah (pixabay.com/stokpic)

Intinya sih...

  • WHO menegaskan bahwa sekolah harus bebas dari pemasaran makanan tidak sehat, termasuk logo dan sponsor.

  • Paparan iklan diam-diam di sekolah memengaruhi preferensi dan konsumsi anak.

  • Iklan tidak hanya mendorong konsumsi sesaat, tetapi ikut membentuk selera, kebiasaan, dan persepsi tentang “makanan yang wajar” pada anak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di banyak sekolah, poster minuman manis atau logo makanan ringan sering dipandang sebagai hal kecil. Kadang bahkan dianggap solusi, misalnya sponsor untuk acara sekolah, hadiah lomba, atau bantuan fasilitas. Namun bagi kesehatan anak, paparan ini bukan tanpa risiko. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan pemasaran makanan tidak sehat di sekolah sebagai risiko serius yang dapat merusak upaya membangun lingkungan pangan yang sehat.

Dalam dokumen Policies and Interventions to Create Healthy School Food Environments, WHO secara tegas menyebut bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang yang melindungi anak dari pengaruh komersial makanan dan minuman yang tidak mendukung diet sehat.

Iklan bekerja diam-diam pada anak

Anak bukan konsumen dewasa. Anak memiliki keterbatasan dalam mengenali niat persuasif iklan, sehingga lebih rentan terhadap pesan pemasaran. Ketika logo minuman berpemanis terpampang di kantin atau acara olahraga sekolah disponsori merek makanan ultraproses, pesan yang diterima anak bukan netral. Itu adalah normalisasi.

Preferensi makanan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan sosial dan visual di sekolah, serta tekanan teman sebaya. Dalam konteks ini, iklan tidak hanya mendorong konsumsi sesaat, tetapi ikut membentuk selera, kebiasaan, dan persepsi tentang “makanan yang wajar”.

Sekolah yang di satu sisi mengajarkan gizi seimbang, tetapi di sisi lain memajang iklan makanan tinggi gula dan lemak, sedang menyampaikan pesan yang saling bertabrakan.

Ketika sponsor menjadi konflik kepentingan

Siswa mendapatkan MBG pada salah satu sekolah di Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Salah satu tantangan terbesar yang diakui oleh WHO adalah keterlibatan industri makanan dan minuman dalam lingkungan sekolah. Banyak sekolah menerima kerja sama dengan dalih keterbatasan anggaran. Namun, WHO mengingatkan bahwa kemitraan semacam ini sering kali berfungsi sebagai strategi pemasaran terselubung.

Industri makanan yang produknya tidak mendukung diet sehat memiliki kepentingan komersial yang jelas. Tanpa tata kelola yang kuat, sponsor dan branding dapat mengikis integritas kebijakan kesehatan sekolah. Logo di spanduk, nama merek pada lomba siswa, hingga pembagian produk gratis semuanya memperkuat loyalitas merek sejak dini.

Dalam jangka panjang, biaya kesehatan akibat pola makan tidak sehat jauh melampaui nilai sponsor jangka pendek.

Lingkungan sekolah harus konsisten

Tidak ada satu intervensi tunggal yang cukup untuk menciptakan lingkungan pangan sekolah yang sehat. Namun, konsistensi adalah kunci. Upaya seperti standar kantin sehat atau penyediaan makanan bergizi akan melemah jika sekolah tetap membiarkan iklan makanan tidak sehat beredar.

Rekomendasi WHO mendorong negara dan otoritas pendidikan untuk:

  • Melarang pemasaran dan promosi makanan yang tidak mendukung diet sehat di sekolah.

  • Memperluas perlindungan hingga area sekitar sekolah.

  • Memastikan tata kelola yang transparan dalam keterlibatan pihak swasta.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip health-promoting schools WHO–UNESCO, yang menempatkan sekolah sebagai ruang aman bagi tumbuh kembang anak, baik fisik, mental, dan sosial.

Sekolah seharusnya bebas dari pesan komersial yang merugikan

ilustrasi anak makan bekal di sekolah (freepik.com/rawpixel.com)

Pelarangan iklan makanan tidak sehat bukan berarti mengontrol setiap pilihan anak. WHO menekankan bahwa kebijakan ini adalah perlindungan struktural, bukan pembatasan kebebasan individu. Anak berhak tumbuh di lingkungan yang mendukung kesehatan mereka, sebagaimana tercermin dalam prinsip hak anak atas kesehatan dan lingkungan yang aman.

Sekolah adalah tempat anak belajar tentang dunia. Ketika ruang itu bebas dari pesan komersial yang merugikan, anak mendapat kesempatan lebih adil untuk membentuk kebiasaan makan yang sehat. Bukan karena dipaksa, tetapi karena lingkungannya mendukung.

Di tengah meningkatnya obesitas anak dan penyakit tidak menular terkait diet, membiarkan iklan makanan tidak sehat di sekolah berarti membiarkan risiko itu tumbuh bersama anak-anak.

Referensi

World Health Organization. Policies and Interventions to Create Healthy School Food Environments. Geneva: WHO, 2025.

Editorial Team