“Kalau komposisi hanya berdasarkan perkiraan bahan tanpa perhitungan yang benar-benar terstandar seperti di pabrik, maka akurasinya bisa dipertanyakan,” jelasnya.
Perlukah Kotak MBG Memiliki Label Komposisi Makanan?

- Label komposisi untuk MBG belum diperlukan. Tantangannya bukan hanya soal regulasi, tetapi juga akurasi dan kesiapan sistem produksi di lapangan.
- Daripada label kemasan, pendekatan yang lebih realistis untuk MBG adalah memastikan standar gizi melalui sistem.
- Diskusi soal transparansi komposisi dinilai tetap penting, terutama karena MBG merupakan program dengan cakupan luas dan melibatkan dana publik yang besar.
Di tengah ambisi besar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan niat memperbaiki status gizi anak-anak Indonesia, muncul satu pertanyaan: perlukah setiap kotak MBG mencantumkan label komposisi makanan seperti produk pangan kemasan?
Di satu sisi, transparansi kandungan gizi dinilai penting, apalagi program ini menyasar kelompok rentan dan menggunakan anggaran negara dalam skala besar. Namun di sisi lain, MBG dijalankan melalui sistem produksi makanan massal berbasis dapur layanan, dengan menu yang bisa berubah setiap hari, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri jika harus menerapkan standar label seperti industri pangan.
Perdebatan ini bukan sekadar soal label, melainkan tentang bagaimana negara menjamin keamanan dan kecukupan gizi dalam program pangan publik terbesar dalam sejarah Indonesia.
Label komposisi belum diperlukan
Menurut Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), tantangan utama jika label komposisi diterapkan pada MBG bukan hanya soal regulasi, tetapi juga akurasi dan kesiapan sistem produksi di lapangan. Ia menekankan bahwa berbeda dengan pangan kemasan industri yang formulanya baku, makanan MBG diproduksi dalam skala layanan dengan variasi bahan dan proses yang bisa berubah.
Karena itu, penguatan peran tenaga gizi dan sistem pengawasan dapur menjadi kunci agar kualitas dan keseimbangan gizi makanan tetap terjaga, meski tanpa label komposisi seperti produk pangan komersial.
Pentingnya peran tenaga gizi

Pendekatan yang lebih realistis untuk program seperti MBG adalah memastikan standar gizi melalui sistem, bukan semata melalui label pada kemasan, kata dr. Klara. Ia menilai, peran tenaga gizi di setiap satuan penyedia pangan menjadi sangat krusial, mulai dari perencanaan menu, perhitungan kebutuhan gizi, hingga pengawasan proses produksi.
“Yang paling penting sebenarnya memastikan makanannya aman, tidak ada bahan tambahan berbahaya, tidak ada cemaran mikroorganisme, dan komposisi gizinya seimbang sesuai kebutuhan anak,” ujarnya.
Jika fungsi pengawasan ini berjalan optimal, maka tujuan utama MBG, yakni memenuhi kebutuhan gizi anak secara aman dan berkualitas, dapat tetap tercapai meskipun tanpa sistem label komposisi seperti pada produk pangan olahan kemasan, dr. Klara menambahkan.
Sistem pemantauan yang menyeluruh
Diskusi soal transparansi komposisi dinilai tetap penting, terutama karena MBG merupakan program dengan cakupan luas dan melibatkan dana publik yang besar. Transparansi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk label kemasan seperti produk industri, tetapi bisa melalui standar menu yang jelas dan dapat diakses.
“Mungkin bukan label seperti produk pabrik, tapi harus ada sistem yang bisa memastikan komposisi gizinya memang sesuai standar yang sudah ditetapkan,” katanya.
Dengan begitu, pengawasan tidak hanya bergantung pada satu mekanisme, melainkan menjadi bagian dari sistem pengendalian mutu yang menyeluruh, mulai dari perencanaan bahan, proses memasak, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.


















