Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Di Balik Label Sehat Makanan Anak, Ada Gula Tersembunyi

Ilustrasi snack anak yang tinggi gula.
ilustrasi snack anak yang tinggi gula (unsplash.com/@markusspiske)
Intinya sih...
  • Label makanan anak sering kali menyembunyikan kandungan gula, lemak jenuh, dan garam berlebih yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular pada anak.
  • Gula dalam produk makanan anak sering dituliskan dengan istilah asing, sulit dikenali. Makin panjang daftar komposisi menandakan makanan tersebut tergolong makanan ultra proses.
  • Klaim pemasaran seperti "tanpa gula tambahan", "organik", atau "diperkaya vitamin" belum tentu mencerminkan profil gizi yang sehat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak-anak tidak pernah benar-benar memilih apa yang mereka makan. Pilihan itu hampir selalu berada di tangan orang tua, pengasuh, atau lingkungan terdekatnya. Namun, di tengah gempuran iklan makanan anak yang tampak sehat, bergizi, dan ramah untuk tumbuh kembang, keputusan tersebut kerap dibuat berdasarkan klaim di kemasan, bukan isi sebenarnya.

Padahal, seperti disampaikan oleh Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), label pangan sejatinya adalah alat perlindungan bagi anak. Di sanalah hadir informasi penting tentang kandungan gula yang kerap disamarkan dengan berbagai nama, lemak jenuh, hingga garam berlebih, yang jika luput dicermati dapat perlahan mendorong anak pada risiko obesitas dan penyakit tidak menular sejak usia dini.

Gula dituliskan dengan istilah asing

Dokter Piprim menekankan bahwa gula dalam produk makanan anak jarang dituliskan secara gamblang. Kandungannya kerap muncul dalam berbagai istilah yang terdengar asing, sehingga sulit dikenali oleh orang tua.

“Yang harus kita waspadai adalah kandungan gula,” ujar Dr. Piprim.

Makin panjang dan tidak familier daftar komposisi yang tercantum di label, makin besar kemungkinan makanan tersebut tergolong ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra proses. Ini merupakan jenis pangan yang kini mendapat perhatian serius karena kaitannya dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari.

Klaim pemasaran

Orang tua menyuapi anak.
ilustrasi menyuapi anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dalam piramida makanan terbaru, UPF ditempatkan sebagai kelompok yang perlu dibatasi, terutama pada anak-anak. Dokter Piprim mengingatkan bahwa persoalan bukan hanya soal gula, tetapi juga akumulasi lemak jenuh dan garam yang tersembunyi di balik berbagai klaim pemasaran.

Label seperti “tanpa gula tambahan”, “organik” atau “diperkaya vitamin” kerap memberi rasa aman semu, padahal belum tentu mencerminkan profil gizi yang benar-benar sehat. Bahasa promosi tersebut, menurutnya, tetap harus diuji dengan membaca komposisi dan nilai gizi secara cermat, bukan diterima begitu saja.

Penyakit dewasa pada anak dan remaja

Dampak dari pola konsumsi tinggi gula dan UPF ini tidak lagi bersifat jangka panjang semata. Dia menyoroti makin seringnya anak dan remaja memiliki kondisi yang dulu identik dengan orang dewasa, seperti obesitas, hipertensi, dislipidemia, hingga kadar gula darah yang sudah berada di atas normal.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari sindrom metabolik, yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah di kemudian hari. Menurutnya, pola makan sejak kecil—termasuk paparan rutin terhadap makanan tinggi gula, garam, dan lemak—berperan besar dalam membentuk masalah kesehatan ini, terutama ketika tidak diimbangi dengan gaya hidup aktif dan pilihan pangan yang lebih alami.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

10 Rekomendasi Pil KB yang Bagus, Aman dan Efektif

29 Jan 2026, 16:10 WIBHealth