Selain menyatukan dua orang, tetapi juga membangun fondasi kesehatan jangka panjang bagi keluarga yang akan dibentuk. Selain akad dan resepsi, ada satu hal yang tak kalah penting, yaitu kesiapan fisik dan kesehatan reproduksi.
Pemeriksaan kesehatan pranikah semakin banyak direkomendasikan oleh tenaga medis sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif. Kementerian Kesehatan RI memasukkan skrining kesehatan reproduksi dalam layanan calon pengantin di fasilitas kesehatan primer, sejalan dengan pendekatan kesehatan keluarga dan prakonsepsi.
Secara global, World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya perawatan prakonsepsi untuk mengidentifikasi dan memodifikasi faktor risiko biomedis, perilaku, dan sosial sebelum kehamilan terjadi. Pendekatan ini terbukti meningkatkan luaran kesehatan ibu dan anak.¹
