Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Darah Menstruasi Berpotensi Jadi Alat Skrining Kanker Serviks

Darah menstruasi.
ilustrasi darah menstruasi (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Darah menstruasi menunjukkan akurasi yang sebanding dengan tes HPV konvensional.
  • Metode ini berpotensi meningkatkan akses skrining, terutama bagi perempuan yang enggan atau sulit ke fasilitas kesehatan.
  • Meski menjanjikan, tetapi metode ini belum bisa digunakan oleh semua kelompok perempuan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama ini, darah menstruasi lebih sering dipandang sebagai limbah biologis—sesuatu yang harus dibuang, ditutup, atau disembunyikan. Namun, studi observasional terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal The BMJ menunjukkan bahwa darah menstruasi ini menyimpan potensi besar sebagai alat skrining human papillomavirus (HPV), virus penyebab sekitar 90 persen kasus kanker serviks di dunia.

Dalam studi ini, peneliti di China menguji apakah darah menstruasi dapat digunakan untuk mendeteksi HPV dengan akurasi yang sebanding dengan metode konvensional. Lebih dari 3.000 perempuan berusia 20–54 tahun dengan siklus menstruasi teratur diminta mengumpulkan darah menstruasi menggunakan mini pad khusus, yaitu berupa strip kapas steril yang ditempelkan pada pembalut biasa. Pada waktu yang sama, mereka juga menjalani skrining serviks standar yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Hasilnya cukup mencolok. Tes HPV dari darah menstruasi mendeteksi 92–95 persen lesi prakanker, angka yang sebanding dengan metode skrining serviks konvensional. Selain itu, kemampuan metode ini untuk mengidentifikasi sampel tanpa prakanker juga serupa, dengan tingkat akurasi sekitar 89–90 persen. Dari sudut pandang epidemiologi, ini menunjukkan darah menstruasi bukan sekadar alternatif, tetapi kandidat serius untuk skrining berbasis populasi.

Para peneliti menekankan bahwa metode ini bersifat noninvasif, tidak memerlukan spekulum atau pengambilan sampel dari serviks, dan secara potensial lebih dapat diterima oleh banyak perempuan. Mereka menyebut pendekatan ini dapat meningkatkan acceptability dan feasibility untuk skrining skala besar, yang mana itu merupakan dua faktor yang sering menjadi penghambat utama dalam program pencegahan kanker serviks.

Akses lebih luas, tapi tidak untuk semua orang

Ilustrasi darah menstruasi.
ilustrasi darah menstruasi (pexels.com/Polina Kovaleva)

Masalah utama dalam pencegahan kanker serviks bukan terletak pada teknologi, melainkan pada akses dan partisipasi.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat (AS), sekitar satu dari empat perempuan belum menjalani skrining kanker serviks sesuai rekomendasi, meningkatkan risiko diagnosis terlambat dan kematian. Hambatan yang sering muncul meliputi jarak ke fasilitas kesehatan, ketidaknyamanan pemeriksaan panggul, rasa malu, hingga trauma medis.

Di Indonesia, cakupan skrining kanker serviks masih tergolong rendah dibanding target kesehatan nasional dan standar global. Menurut data terbaru, hanya sekitar 12,25 persen perempuan usia 30–69 tahun yang ikut skrining dalam program kesehatan masyarakat (Cek Kesehatan Gratis/CKG) pada 2025, jauh dari target minimal 70 persen yang diamanatkan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim dan strategi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam konteks ini, skrining berbasis darah menstruasi menawarkan pendekatan yang lebih ramah. Sampel dapat dikumpulkan sendiri, tanpa prosedur invasif, dan bisa dilakukan di rumah. Ini sejalan dengan rekomendasi terbaru di berbagai negara yang mulai mengakui skrining berbasis rumah (self-collected HPV test) sebagai alternatif yang efektif untuk tes klinis, khususnya bagi populasi yang sulit dijangkau.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa metode ini bukan solusi universal. Skrining berbasis darah menstruasi hanya relevan bagi perempuan yang sedang dan masih mengalami menstruasi. Perempuan pascamenopause, mereka yang memiliki siklus tidak teratur, atau menggunakan kontrasepsi hormonal yang menekan menstruasi—termasuk untuk alasan medis atau disforia gender—tidak dapat memanfaatkan metode ini.

Karena itu, para peneliti menyarankan agar pendekatan ini diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti total skrining konvensional. Integrasinya ke dalam pedoman nasional skrining kanker serviks perlu mempertimbangkan keragaman kondisi biologis dan sosial perempuan.

Referensi

Xun Tian et al., “Testing Menstrual Blood for Human Papillomavirus During Cervical Cancer Screening in China: Cross Sectional Population Based Study,” BMJ 392 (February 4, 2026): e084831, https://doi.org/10.1136/bmj-2025-084831.

"Preliminary study suggests using menstrual blood to screen for HPV." CIDRAP. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Kenapa Menstruasi Bisa Menyebabkan Susah Buang Air Besar?

10 Feb 2026, 16:37 WIBHealth