Para peneliti mencatat bahwa temuan mereka ini berlainan dengan percobaan laboratorium sebelumnya. Pada temuan tersebut, mereka yang tidur bersama mencatatkan jam tidur lebih pendek dan gerakan pasangan tidur memicu aktivitas otak hingga tak bisa tidur.
Mekanisme di balik temuan ini masih belum diketahui. Namun, Michael memaparkan bahwa rasa aman dan sosial bisa jadi faktornya. Manusia terbiasa tidur bersama sejak zaman purba, dan menurut Michael, manusia masa kini pun merasa lebih aman saat tidur bersama pasangan.
"Apakah terbukti? Belum, tetapi ada kemungkinan begitu," imbuh Michael.
ilustrasi pasangan tidur bersama (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Selain itu, mereka yang tidur sendiri bisa jadi sudah memiliki kecenderungan depresi dan kecemasan. Meski begitu, para peneliti mencatat hal ini tergantung dari faktor individu. Jika pasangan bikin stres, hal ini justru bikin tidur bersama tidak nyaman.
"Sulit untuk dipelajari, tetapi studi ini menunjukkan bahwa ada hubungan [antara tidur bersama dengan kualitas tidur]. Kita bisa mulai menebak arahnya lalu menelusurinya lebih dalam," kata Michael.
Para peneliti berharap penelitian selanjutnya bisa menelusuri kualitas tidur mereka yang berbagi kamar, tetapi tidur terpisah. Mereka mencatat tren ini mulai naik seiring banyak rekan sekamar yang tak ingin terganggu oleh pergerakan pasangan tidur.
"Langkah selanjutnya adalah mengerti cara menggunakan informasi ini untuk membuat perubahan nyata dan merekomendasikan perubahan tersebut pada orang-orang," tandas Michael.