Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kapan Cedera Olahraga Harus Dibawa ke IGD?
ilustrasi cedera olahraga (freepik.com/pressfoto)
  • Tidak semua cedera olahraga bersifat darurat, tetapi nyeri hebat, deformitas, atau tidak bisa menumpu berat badan dapat menjadi tanda kondisi serius.

  • Cedera dengan pembengkakan cepat, mati rasa, atau perdarahan hebat memerlukan penanganan medis segera.

  • Penanganan cepat di IGD dapat mencegah komplikasi seperti kerusakan jaringan, saraf, atau sendi permanen.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Aktivitas olahraga membawa banyak manfaat bagi kesehatan, mulai dari meningkatkan kebugaran jantung hingga menjaga kekuatan otot dan tulang. Namun, tetapi saja ada risiko cedera baik saat berlari, mengangkat beban, bermain padel, atau mengikuti kelas kebugaran.

Sebagian besar cedera olahraga sebenarnya tergolong ringan, seperti keseleo ringan atau nyeri otot. Kondisi ini biasanya dapat membaik dengan istirahat, kompres es, dan perawatan sederhana di rumah.

Namun dalam beberapa situasi, cedera dapat menandakan kerusakan yang lebih serius pada tulang, ligamen, atau jaringan lunak. Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang, termasuk gangguan fungsi sendi atau kerusakan saraf.

Cedera olahraga yang melibatkan deformitas, nyeri hebat, atau ketidakmampuan menggerakkan anggota tubuh harus segera diperiksa oleh dokter.

Memahami tanda-tanda darurat dapat membantu kamu menentukan kapan perlu pergi ke instalasi gawat darurat (IGD).

1. Nyeri hebat atau tidak sanggup menumpu berat badan

Nyeri adalah respons alami tubuh terhadap cedera. Namun, ada perbedaan antara rasa tidak nyaman setelah olahraga dengan nyeri yang menandakan cedera serius.

Jika kamu mengalami nyeri hebat secara tiba-tiba setelah jatuh atau benturan, ini dapat mengindikasikan cedera serius seperti:

  • Patah tulang.

  • Robekan ligamen.

  • Dislokasi sendi.

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketidakmampuan menumpu berat badan pada kaki atau menggunakan lengan yang cedera.

Menurut penelitian, ketidakmampuan menumpu berat badan setelah cedera lutut atau pergelangan kaki sering berkaitan dengan cedera ligamen atau fraktur yang memerlukan evaluasi medis segera.

Dalam situasi seperti ini, pemeriksaan di IGD penting untuk memastikan diagnosis melalui pemeriksaan fisik dan pencitraan medis.

2. Deformitas atau perubahan bentuk sendi

ilustrasi seseorang cedera saat olahraga (freepik.com/stockking)

Perubahan bentuk pada lengan, kaki, atau sendi merupakan tanda yang sangat jelas bahwa cedera mungkin serius.

Contoh deformitas yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Sendi yang tampak keluar dari posisi normal.

  • Tulang yang terlihat menonjol tidak wajar.

  • Posisi anggota tubuh yang tidak sejajar.

Kondisi ini dapat menunjukkan dislokasi sendi atau patah tulang.

Cedera dengan deformitas yang terlihat harus segera mendapat penanganan darurat karena dapat melibatkan kerusakan jaringan, pembuluh darah, atau saraf di sekitarnya.

Penanganan cepat membantu mencegah kerusakan permanen pada sendi dan jaringan sekitar.

3. Pembengkakan yang terjadi sangat cepat dan perdarahan

Cedera olahraga sering menyebabkan pembengkakan ringan. Namun, jika pembengkakan terjadi sangat cepat dan disertai nyeri hebat, kondisi ini dapat menandakan kerusakan jaringan yang lebih serius.

Pembengkakan yang signifikan dapat disebabkan oleh:

  • Robekan ligamen.

  • Cedera otot berat.

  • Perdarahan di dalam sendi.

Dalam beberapa kasus, cedera juga dapat menyebabkan perdarahan terbuka atau luka dalam yang membutuhkan perawatan medis segera.

Menurut penelitian, cedera olahraga dengan pembengkakan cepat sering berkaitan dengan cedera jaringan lunak berat yang memerlukan evaluasi medis untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

4. Mati rasa atau kesemutan

ilustrasi cedera olahraga (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mati rasa, kesemutan, atau kelemahan pada anggota tubuh dapat menunjukkan adanya cedera pada saraf.

Saraf dapat tertekan atau rusak akibat:

  • Dislokasi sendi.

  • Pembengkakan yang menekan jaringan saraf.

  • Trauma langsung pada area tertentu.

Cedera saraf yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan fungsi jangka panjang pada otot atau sensasi tubuh. Karena itu, gejala neurologis setelah cedera olahraga tidak boleh diabaikan.

5. Cedera kepala saat olahraga

Cedera kepala termasuk kondisi yang memerlukan perhatian khusus. Benturan pada kepala dapat menyebabkan gegar otak, yang sering terjadi dalam olahraga kontak maupun aktivitas fisik intens.

Waspadai gejala ini:

  • Kehilangan kesadaran.

  • Pusing berat.

  • Mual atau muntah.

  • Kebingungan.

  • Gangguan penglihatan.

Seseorang yang mengalami gejala-gejala di atas setelah cedera kepala harus segera mendapatkan evaluasi medis untuk mencegah komplikasi neurologis yang lebih serius.

Cedera olahraga tidak selalu memerlukan penanganan darurat. Namun, beberapa tanda tidak boleh diabaikan, seperti nyeri hebat, deformitas sendi, pembengkakan cepat, mati rasa, atau cedera kepala dengan gejala neurologis. Penanganan medis yang cepat tidak hanya membantu mempercepat pemulihan, tetapi juga mencegah komplikasi jangka panjang pada otot, tulang, maupun sistem saraf.

Referensi

American Academy of Orthopaedic Surgeons. “Sports Injuries.” Diakses Maret 2026.

Brukner, Peter, and Karim Khan. “Clinical Sports Medicine.” British Journal of Sports Medicine.

American College of Emergency Physicians. “Emergency Care for Orthopedic Injuries.” Diakses Maret 2026.

Kimberly G Harmon et al., “American Medical Society for Sports Medicine Position Statement: Concussion in Sport,” British Journal of Sports Medicine 47, no. 1 (December 13, 2012): 15–26, https://doi.org/10.1136/bjsports-2012-091941.

Kimberly G. Harmon et al., “Diagnosis of Sports-Related Concussion Using Symptom Report or Standardized Assessment of Concussion,” JAMA Network Open 7, no. 6 (June 11, 2024): e2416223, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2024.16223.

National Institute of Neurological Disorders and Stroke. “Peripheral Nerve Injury.” Diakses Maret 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Concussion in Sports.” Diakses Maret 2026.

Editorial Team